Sore itu, langit di luar jendela kamar Nicko berwarna merah tembaga, seolah-olah cakrawala sedang berdarah, terluka. Di dalam kamar yang luas, tapi terasa mencekik itu, Nicko duduk dengan menggenggam leher sebotol wine yang sudah berkurang separuh. Ia tidak benar-benar mabuk hingga kehilangan kesadaran, namun alkohol itu sudah cukup untuk membuat syaraf-syarafnya mati rasa dan logikanya sedikit melonggar. Setiap tegukan alkohol itu adalah upaya untuk membunuh rasa hampa yang ditinggalkan Nona Lucy. Nicko merasa seperti bayangan di rumahnya sendiri. Ia ada, tapi tak dianggap. Ia bernapas, tapi jiwanya mati. Sementara itu, di koridor lantai dua, Anne berdiri mematung di depan pintu kamar Nicko. Tangannya bergetar hebat. Baru saja, satu jam yang lalu, ia menerima telepon dari ibunya di kampu

