Banyak orang-orang yang berlari, menjauh, dan panik. Nicko tidak tahu harus bagaimana, ia tidak tahu harus pergi ke mana. Tidak ada jalan keluar, semuanya gelap dan terasa begitu menghimpit. Ia merasakan sesak di dadanya, dan saat melihat ke sekeliling, ia hanya menemukan banyak genangan darah. Nicko megap-megap, kehilangan cara untuk bernapas, hingga seseorang menyentuh pipinya. Sejuk, lembut. Itu Nona Lucy. Awalnya begitu jelas. Wajahnya, wanginya, hangat napasnya, tapi tiba-tiba memudar begitu saja. Hilang. Nicko berusaha meraihnya, tapi ia gagal. Hanya air mata. Saat Nicko terbangun di sebuah kamar besar yang entah milik siapa, hanya air mata yang mengalir. Nicko baru saja memimpikan sesuatu yang terlalu mengerikan. Pemuda itu mengerang kesakitan, saat hendak mencoba duduk tegak di

