Bab 1 Malam Terenggut
[Jangan sampai telat, Julian sudah menunggumu.] Sebuah pesan terkirim.
Eliana yang sudah mengenakan dress selutut tampak cantik dengan riasan tipisnya. Langkahnya bergerak menuju ke salah satu tempat yang sudah ditentukan sebelumnya.
Dentum musik dari aula besar kediaman Sterling terdengar samar hingga ke lorong lantai atas yang sepi. Eliana meremas ujung gaunnya, langkah kakinya terasa berat saat menyusuri karpet tebal menuju ruangan VVIP. Sebuah pesan dari Alesha, kakak tirinya, memintanya datang ke sana untuk memberikan kejutan pada Julian, kekasihnya.
"Julian pasti sudah menungguku," gumam Eliana, berusaha mengusir rasa cemas yang tiba-tiba menyergap.
Namun, sebelum jemarinya sempat mengetuk pintu, tiga orang pria bertubuh besar muncul dari kegelapan lorong. Tanpa sepatah kata pun, mereka mengepung Eliana yang berdiri di sana.
Eliana menatap ketiga pria asing itu dengan panik, jantungnya berdegup kencang.
"Siapa kalian? Apa yang kalian inginkan dariku?" tanya Eliana dalam kepanikan yang makin menguat.
Tatapannya berusaha mencari jalan keluar, tapi mereka hanya diam, seperti bayangan ancaman yang siap menjeratnya. Salah satu pria, yang lebih besar dan lebih garang dari yang lain, memerintahkan dengan suara tegas, "Kau tak perlu tahu siapa kami. Pegangin dia!"
Dengan cepat mereka memegangi kedua bahu dan tangan Eliana dengan kasar. Salah satu dari mereka mencengkram tangan Eliana, membuat napasnya tersengal.
"Apa yang kalian lakukan? Lepaskan aku!" suara Eliana mulai melemah, tetapi ketakutan membuatnya menegang.
Kemudian, Eliana melihat satu dari mereka mengeluarkan botol kecil dari saku.
"Cepat kau telan minuman ini!" perintahnya sambil mencoba memasukkan cairan asing itu ke mulutnya.
Elliana menolak dengan sekuat tenaga, menutup rapat mulutnya.
"Aku tidak mau!" katanya, suaranya terdengar gemetar penuh perlawanan.
Pria itu langsung mencengkram kedua rahang miliknya dan memasukkan minuman itu ke dalam mulut Eliana dengan paksa.
"Lepas! Uhukk... Apa-apaan ini? Kenapa kalian memaksa aku menelan sesuatu yang terasa pahit dan aneh?" Eliana terbatuk menahan cairan bening yang tak dia inginkan masuk ke tenggorokannya.
Dunia seketika berputar, seperti diseret gelombang panas yang menjalar dari perut hingga ke setiap pembuluh darahnya. Tak lama kemudian, Eliana merasakan tubuhnya mulai panas, membuat denyut jantungnya makin menggila, anehnya, nafsunya malah ikut merambat naik, seolah dia terjebak dalam ambang dua rasa yang bertolak belakang.
'Apa yang mereka berikan padaku tadi? Kenapa tubuhku bereaksi seperti ini? Apa yang ingin mereka lakukan padaku?' pikirnya panik, tapi suara pria besar yang sejak tadi memberi perintah kepada yang lain, memotong kegelisahannya.
"Bawa mereka ke kamar!" perintahnya dengan tegas, membuat dua lelaki kekar itu segera menyeret Eliana tanpa kompromi. Eliana mencoba meronta, menggigit ruang kebebasan yang semakin menipis.
"Lepaskan aku! Kalian mau bawa aku ke mana? Lepaskan aku, b******k!" Tapi suara serak dan lemas ini tak mampu menandingi kekuatan mereka.
Sesampainya di sebuah kamar, pria bertubuh besar tadi membuka pintu dan mendorong tubuh Eliana masuk ke dalam sana.
"Apa yang kalian lakukan?" Eliana berusaha menerobos keluar, namun tenaganya tak sebanding.
"Kunci mereka dari luar!" titahnya sambil menahan tubuh Eliana yang mencoba untuk keluar.
Begitu pintu kamar tertutup dan terkunci rapat dari luar, jantung Eliana makin berdebar kencang, dalam keputusasaan, ia masih berusaha berteriak dan menggedor pintu itu.
BRAK!
"Buka! Tolong buka pintunya!" Eliana menggedor pintu dengan lemas.
Tubuhnya terasa seperti terbakar, memicu gairah liar yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
"Julian... Julian, tolong aku..." suara Eliana pecah dalam bisikan putus asa.
Air matanya membasahi pipi saat dia berusaha meraba-raba mencari celah di kegelapan yang hampir menelan habis cahaya redup di ruangan itu.
Tiba-tiba, dari sudut gelap, muncul suara bariton yang dalam dan dingin, menghentak kesunyian.
"Siapa di sana? Kenapa kau ada di dalam kamarku?"
Eliana mendongak, terpaku melihat sosok besar berdiri dengan tatapan menusuk, seolah ingin menelan semua keberaniannya. Bayangan tubuhnya menari di tembok, mengintimidasi dan membungkam.
"H...aku... Eliana..." jawabnya tersengal, suara bergetar tanpa keberanian menatap langsung ke matanya.
"Keluar sekarang, sebelum aku kehilangan kendali!" geram pria itu, nada suaranya menusuk ke dalam jiwa Eliana, memaksa dia memilih antara ketakutan dan melawan.
Eliana membeku. Sosok pria berdiri di dekat jendela, kemejanya sudah terbuka, memperlihatkan d**a bidang yang naik turun tak beraturan.
"Maaf, mereka mengunciku dari luar. Aku ingin bertemu dengan kekasihku," ucap Eliana dengan suara bergetar dan pandangan kabur.
"Siapa kau? Kenapa kau bisa masuk ke sini?" desis pria itu. Suaranya serak, menahan beban yang sama beratnya.
Pria itu adalah Melvin, namun dalam kegelapan ini, Eliana sama sekali tak mengenali wajahnya.
"Aku... aku mencari Julian. Tolong aku, tubuhku terasa aneh, mereka memberikan aku sesuatu ke dalam mulutku..." Eliana melangkah mendekat dengan limbung, mencari sumber hawa dingin.
"Pergi! Keluar dari kamarku sekarang!" bentak pria itu dengan suara parau yang mengerikan.
Namun, Eliana tak menghiraukannya, tubuhnya yang sudah terasa panas, gairah liarnya yang menggebu, tak mampu membuat akal sehatnya bekerja.
"Tolong aku, Tuan," ucapnya dengan memohon, perlahan dia melepaskan kancing pakaiannya.
"Pergi sebelum aku kehilangan akal sehatku!" seru Melvin, menahan tubuh gadis itu yang hendak memeluknya.
"Aku tidak bisa... pintunya dikunci," isak Eliana. Ia sudah kehilangan kendali atas dirinya sendiri. "Panas... tolong, ini sakit sekali..."
Pria itu mencengkeram pinggiran meja hingga kayu itu berderit.
"Sialan... siapa yang menjebak ku seperti ini? Jangan mendekat! Aku tidak tahu siapa kau, tapi aku bukan pria baik-baik saat sedang seperti ini! Sebaiknya kau pergi dari sini sebelum kau menyesal nanti," peringat-nya menatap tajam wajah gadis yang ada di depannya.
"Tolong aku..." Eliana semakin mendekat, ia menyentuh lengan pria itu. Kulitnya terasa dingin di tengah kobaran api yang membakar Eliana, membuatnya tak bisa mengendalikan dirinya.
Sentuhan itu menghancurkan pertahanan terakhir sang pria. Ia menyambar pinggang Eliana, menariknya dalam satu sentakan kuat hingga tubuh mereka menempel tanpa celah. Dalam kegelapan yang menyesakkan, mereka tak bisa melihat wajah satu sama lain, hanya deru napas yang saling memburu.
"Kau yang datang padaku... Kau sendiri yang memancing iblis dalam diriku." bisik pria itu tepat di telinga Eliana, suaranya kini penuh dengan gairah yang mematikan.
"Lakukan sesuatu... kumohon..." rintih Eliana pasrah.
"Jangan menyesal, jika besok kau mendapati dirimu hancur karena perbuatanku. Aku tidak akan bertanggung jawab atas kehadiranmu di sini, kau yang datang kepadaku sendiri," desis pria itu sebelum membanting tubuh mungil Eliana ke atas ranjang.
Eliana tampak pasrah ketika pria asing itu menyentuh tubuhnya untuk pertama kalinya. Malam itu, di bawah bayang-bayang pengkhianatan Alesha yang tak mereka sadari, kesucian Eliana terenggut oleh pria asing yang tak ia ketahui adalah calon kakak iparnya sendiri. Benih dosa itu mulai tertanam, menghancurkan masa depan yang selama ini Eliana impikan bersama dengan Julian.