Aku duduk di kursi ruang mediasi, menatap lantai berkarpet yang terasa seperti penjara. Di sebelahku, Laras, pengacaraku, menatap Awan dan pengacaranya dengan tajam tapi tenang. Di seberang meja, Awan duduk dengan ekspresi keras. Rahangnya mengatup kuat seolah menahan amarah. Mediator membuka sesi dengan suara tenang. "Baik, mari kita mulai mediasi ini. Ibu Embun, Anda mengajukan gugatan cerai tanpa menuntut hak harta gono-gini atau nafkah. Benarkah?" Aku mengangguk. "Iya, Pak. Saya hanya ingin status cerai. Itu saja." Awan langsung menyela, suaranya penuh nada emosi. "Tapi ini nggak adil! Embun, kamu benar-benar nggak menghargai aku sebagai suami. Aku tahu kita punya masalah, tapi cerai bukan solusinya." Aku mengangkat wajah, menatapnya dengan mata yang sudah tak lagi berair. "Mas

