Aku melihat dari balik pintu dapur, menyaksikan Mas Awan dan Nayla sibuk menyiapkan barang-barang mereka di ruang tamu. Nayla tampak mondar-mandir, memeriksa koper dan kardus. Sementara itu, Mas Awan membantunya membawa beberapa barang berat. Mereka begitu larut dalam kesibukan, tanpa sekalipun menyadari kehadiranku di sudut ruangan. "Aku nggak sabar, Mas. Di rumah Mama, aku bisa lebih santai," kata Nayla sambil tersenyum kecil. Tangannya sibuk memeriksa isi tas yang akan dibawanya. "Iya, Nay. Kamu butuh suasana yang tenang, apalagi sekarang kandunganmu makin besar," jawab Mas Awan sambil mengangkat salah satu koper ke dekat pintu. Hati kecilku terasa mencelos mendengar percakapan mereka. Tak ada sedikit pun pembicaraan tentang aku-seolah-olah aku sudah tak ada dalam pandangan mereka.

