Malam itu terasa begitu menyesakkan. Setelah kejadian sore tadi, aku duduk diam di ruang tamu, mencoba menenangkan hati yang tak henti-hentinya berdebar. Pikiranku penuh dengan rasa kesal dan sakit hati atas apa yang baru saja terjadi. Pintu terbuka, dan Mas Awan masuk dengan wajah yang terlihat tegang. Aku tahu, pasti ada sesuatu yang ingin dia bicarakan. Namun, aku tak ingin lagi memperpanjang masalah ini. Tapi sepertinya, Mas Awan tidak punya niat yang sama. "Embun," katanya, suaranya terdengar tegas dan dingin. "Nayla mengadu ke aku tadi. Dia bilang kamu mengucapkan hal-hal yang kasar padanya." Aku menghela napas panjang, mencoba mengumpulkan kekuatan untuk menghadapi kemarahannya. "Mas, aku hanya membalas perkataan Nayla. Dia yang memulai duluan. Dia datang ke sini, memaksa dan men

