Pagi itu, ponselku bergetar. Pesan dari Ibu mertua. "Pengajian keluarga di rumah nanti siang. Kamu datang ya, Embun," katanya. Aku terdiam sejenak, ada rasa ragu dalam hati. Belakangan, kedatanganku di rumah mertua selalu menimbulkan rasa tak nyaman, terutama sejak Nayla menjadi bagian dari keluarga ini. Aku mencoba mengesampingkan perasaan itu. Lagi pula, aku masih istri Mas Awan, walaupun... entahlah, rasanya sudah jauh berbeda. Setelah siap, aku berjalan ke garasi. Saat itulah Nayla datang sambil merapikan rambutnya yang baru disisir. Ia tersenyum manis, namun aku tahu maksud di balik senyuman itu. "Mas, boleh kan aku pakai mobilnya Embun aja?" rengek Nayla pada Mas Awan yang sedang berdiri di sebelahku. "Bosan pakai mobil yang ini terus. Mau coba naik mobil Embun." Aku menatap N

