Pagi hari yang tenang, tapi tiba-tiba suasana berubah. Dari dalam rumah, terdengar suara gaduh di kamar Nayla. Aku melangkah mendekat dengan penasaran, dan saat aku melihat ke dalam, aku terkejut mendapati Nayla sedang muntah-muntah. Wajahnya pucat pasi. Mas Awan yang baru saja pulang dari luar pun terlihat langsung panik. Dengan sigap, dia mendekati Nayla dan berusaha membantunya untuk duduk. "Nayla, kamu kenapa? Ini sudah berapa lama kamu muntah-muntah seperti ini?" tanyanya dengan nada cemas. Nayla hanya bisa menggeleng pelan, seakan tak punya tenaga untuk menjawab. Aku berdiri di dekat pintu, menyaksikan bagaimana Mas Awan begitu penuh perhatian kepadanya. Begitu khawatir dan tak ragu untuk segera menggendong Nayla menuju mobil. "Nayla, kamu nggak apa-apa?" tanya Mas Awan dengan

