Hari itu seperti hari-hari biasa yang penuh ketegangan. Namun, ada yang berbeda. Aku baru saja selesai mengemas beberapa produk skincare yang akan kukirim ke pelanggan Seperti biasa, aku berusaha untuk tetap tenang meski hati ini terasa berat. Pekerjaanku yang mulai menunjukkan hasil positif. Namun kenyataan bahwa orang-orang terdekat masih belum ada memberikan dukungan penuh. Aku bahkan kadang merasa seperti ada yang menghalangi langkahku untuk berkembang. Pagi itu, saat aku sedang membuat sarapan, ada suara langkah kaki menuju dapur. Ternyata, Mas Awan bangun lebih awal dari biasanya. Dan di sampingnya ada Nayla yang sengaja menggandeng lengan Mas Awan dengan mesra. "Pagi, Embun," sapa Nayla dengan senyum yang tampak begitu dipaksakan. Aku hanya membalasnya dengan anggukan, mencoba

