"Embun... apa kamu sibuk?" "Ya lumayan, ada apa?" tanyaku heran. "Ehm, bisa nggak kamu... bikinin Mas sarapan?" Aku terdiam, terkejut dengan permintaannya. Ada rasa perih yang menyeruak, mengingat barusan saja aku mendengar kemesraan mereka di dapur. Sekarang Mas Awan malah meminta sarapan padaku. Kenapa Nayla tidak memasak untuknya? Bukankah dia yang lebih pantas melakukannya sekarang? "Kenapa Nayla nggak masak, Mas?" tanyaku, mencoba menghindari permintaannya dengan alasan yang terdengar masuk akal. Awan menatapku, tampak sedikit tersinggung. "Nayla masih kurang terbiasa dengan dapur sini. Dia juga belum terlalu bisa masak." Aku hanya mengangguk kecil, meski dalam hati ingin sekali membalas. Tapi, kutahan semua komentar yang ingin kulontarkan. Rasanya percuma. Tidak ada gunanya m

