Subuh hari stelah malam yang membuatku gelisah, hingga sulit tertidur.
Aku turun dari tangga dengan hati yang masih berat, berharap setidaknya pagi ini bisa sedikit lebih tenang. Tapi baru beberapa langkah, langkahku terhenti. Suara dari kamar tamu terdengar begitu jelas.
"Aduh, Mas Awan. Pelan-pelan, Mas...." terdengar suara Nayla menggoda diikuti tawa kecilnya yang renyah.
"Jangan malu-malu, Nayla. Sama suami sendiri juga," jawab suara Mas Awan, lembut. Suaranya terdengar penuh kasih sayang yang dulu kurasa hanya untukku.
Aku meremas pegangan tangga dengan tubuh yang bergetar. Mendengar tawa mereka yang bersahutan, seolah ada tangan tak terlihat yang meremas hatiku dengan kasar.
"Mas, nakal ih. Minta terus...."
"Habisnya kamu cantik banget."
Suara canda dan senda gurau mereka membuat hatiku semakin pedih. Apalagi rayuan Mas Awan kepada Nayla membuat perutku mual.
"Mas, jangan... nanti ada yang dengar," suara Nayla terdengar pelan tapi penuh tawa.
"Ada yang dengar? Siapa? Nggak ada yang peduli, Sayang." Suara Mas Awan melembut, lalu terdengar tawa mereka lagi.
Hatiku seakan hancur berkeping-keping. Aku tak sanggup mendengarkan lebih lama. Langsung saja aku berlari ke dapur, menahan segala perasaan yang bercampur aduk. Sesampainya di wastafel, aku mencuci wajah dengan air dingin.
Bayangan suara-suara itu terus menghantui, membuatku semakin mual. Hingga akhirnya aku tak bisa menahan lagi, aku muntah di wastafel.
Rasa jijik bercampur dengan rasa sakit. Semuanya terasa tak tertahankan. Aku luruh ke lantai, menangis terisak-isak sendirian. Air mataku mengalir tanpa henti, menggambarkan semua kesedihan yang aku rasakan.
Setelah beberapa saat, ketika merasa hatiku mulai tenang, aku bangkit perlahan dan kembali mencuci wajah. Aku tak ingin terlihat lemah, meski hatiku hancur. Lalu, aku mencoba mengalihkan perasaan itu dengan membuat sarapan.
Tanganku masih sedikit gemetar ketika aku mengambil makanan dan duduk untuk makan. Namun, baru saja aku menyuap beberapa potong, langkah kaki terdengar mendekat.
Mas Awan muncul di pintu dapur, hanya mengenakan celana pendek dan bertelanjang d**a. Tanpa menunjukkan sedikit pun rasa peduli, ia malah menyindirku dengan nada tajam.
"Oh, ternyata masih ingat pulang ke rumah juga," katanya sambil menatapku dengan tatapan sinis.
Aku terdiam, mencoba menahan diri agar tak terpancing emosiku.
"Kamu nggak nyangka, kan, aku masih mau pulang ke rumah ini?" balasku dingin, meski hatiku masih bergejolak.
Mas Awan hanya mendengus kecil, lalu menyilangkan kedua tangannya di d**a.
"Iya, aku kira kamu nggak bakal balik lagi. Rasanya juga nggak ada bedanya. Toh selama ini kamu cuma ada di sini tapi kayak bayangan."
Aku menghela napas panjang, mencoba menelan segala sakit yang dia lontarkan dengan kata-katanya.
"Aku pikir kita udah saling sepakat untuk menjalani ini dengan cara yang baik, Mas. Tapi aku nggak nyangka kalau kamu malah memperlakukanku seperti ini."
"Jalani dengan cara baik? Kamu yang lari-lari terus, Embun," katanya sambil tersenyum sinis. "Kamu yang selalu ngehindar."
Aku menggenggam sendokku erat, mencoba menenangkan diri. "Aku menghindar karena aku butuh waktu, Mas. Tapi bukan berarti aku nggak peduli."
Dia tersenyum dingin. "Ya, bagus. Waktu aja yang kamu butuhin, toh sekarang semuanya sudah ada yang mengisi."
Kata-katanya bagai belati yang menusuk. Aku tahu dia merujuk pada Nayla, dan aku tak mampu menyembunyikan rasa sakit yang terus menyeruak.
Kurasakan air mata mulai menggenang di pelupuk mata. Namun segera kutahan, tak ingin dia melihat betapa rapuh aku saat ini.
"Kalau gitu, aku nggak ada alasan lagi buat ada di sini, kan, Mas?" tanyaku lirih, mencoba untuk tetap tenang.
Dia mengangkat bahu seolah tak peduli.
"Ya, terserah kamu mau ngapain. Rumah ini sekarang sudah punya pemilik baru yang lebih bisa menghargai aku."
Aku tak ingin menunjukkan kelemahanku lebih jauh. Jadi kutahan segala emosi dan menghabiskan makananku dengan cepat. Setelah itu, aku segera bangkit dan membereskan piringku.
"Terima kasih atas pengertiannya, Mas," ucapku, meski terasa begitu pahit di mulutku.
Tanpa menunggu balasannya, aku berjalan keluar dapur, tak ingin berlama-lama di sana.
Ketika aku sampai di tangga menuju kamar di lantai atas, samar-samar kudengar suara dari dapur. Suara berisik dan keluhan kecil, seperti orang yang kebingungan.
Dari tangga lantai atas, aku bisa mendengar mereka di dapur. Suara panci dan sendok beradu, diselingi tawa kecil Nayla yang terdengar canggung.
"Mas Awan, gimana sih cara bikin telur ceplok yang benar?" tanyanya manja.
Aku menelan ludah, berusaha menahan diri agar tidak mendekat. Jantungku berdebar kencang mendengar cara Nayla memanggil suamiku dengan nada lembut.
"Nay, kamu tinggal pecahin telurnya di wajan. Panasin dulu wajannya," jawab Awan sambil tertawa kecil.
"Oh... gitu ya. Duh, aku takut pecah. Eh, Mas, air panasnya kok meluap?"
"Awas, hati-hati!" Awan terdengar panik.
"Astaga!" Nayla menjerit, disusul suara tumpahan air. "Aduh, aduh! Panas!"
Aku bisa membayangkan Nayla yang mungkin terkejut, dan tanpa sadar mataku berkaca-kaca mendengar betapa canggungnya suasana di sana.
"Kamu nggak apa-apa, Nay?" tanya Awan dengan nada khawatir.
"Aduh, Mas... sakit!" Nada suaranya mengeluh manja.
"Sudah, sini, biar Mas aja yang bikin kopi. Kamu duduk aja, nanti malah tangan kamu melepuh."
Aku mendengar Nayla tertawa pelan, seolah malu. "Maaf ya, Mas, aku ngerepotin terus."
Awan tertawa lembut. "Nggak apa-apa, Nay. Nggak semua orang jago masak. Lagipula, lihat wajah kamu aja udah bikin Mas bahagia."
Air mataku jatuh lagi tanpa bisa kucegah. Rasanya menyakitkan mendengar suara tawa mereka, bercampur dengan canda manja yang tak pernah kuterima lagi.
Aku memejamkan mata dan menarik napas panjang, berharap rasa sakit ini akan berkurang. Tapi tetap saja, suara mereka terus terngiang, mengoyak hatiku yang rapuh.
Aku segera masuk ke kamar dan menutup pintu. Setelah mandi dan mengganti pakaian, kutatap wajah di cermin. Mataku masih sembab dan lelah, tapi kuberanikan diri untuk menghela napas panjang.
Aku mengambil ponsel dari atas meja. Banyak sekali pesan masuk, sebagian besar menanyakan pesanan skincare yang belum kukirimkan.
Kutanamkan senyum di bibir. Berusaha meredam perasaan kacau yang masih menggantung di hati. Tanganku mulai bergerak mengetik balasan.
"Maaf ya, Mbak, baru balas. Hari ini aku pastikan semua orderan terkirim. Maaf banget, kemarin off tiga hari karena ada urusan keluarga."
Satu per satu pesan kubalas, memastikan semua pelanggan tetap tenang. Sebagian besar membalas dengan kata-kata pengertian, meski ada juga yang sedikit protes.
Aku memahami, mereka berhak kecewa. Tapi setidaknya, aku merasa sedikit lebih baik dengan menyibukkan diri.
Namun, saat aku sibuk mengetik, tiba-tiba pintu kamarku diketuk. Suara ketukan itu membuatku terdiam sejenak, menatap pintu dengan jantung berdebar. Siapa yang mengetuk?
Dengan enggan, aku melangkah menuju pintu. Saat kubuka, di depanku berdiri Awan dengan wajah tegang. Jantungku kembali berdebar, kali ini dengan rasa tidak nyaman.
Dia menatapku dengan lekat. Seperti ada sesuatu yang ingin di sampaikan namun tertahan.
"Mas Awan... ada apa?" tanyaku pelan, mencoba terlihat tenang meski hatiku tidak karuan.
Awan menghela napas panjang sebelum akhirnya bicara, suaranya terdengar kaku.
"Embun... apa kamu sibuk?"
"Ya lumayan, ada apa?" tanyaku heran.
"Ehm, bisa nggak kamu... bikinin Mas sarapan?"