Dengan perasaan yang begitu kacau, aku memutuskan pergi dari rumah. Aku tak tahu harus ke mana. Yang kupikirkan hanya satu: aku harus keluar, menjauh dari semua ini.
Aku menyetir mobil dengan tangan gemetar, air mata mengalir tanpa henti di pipiku, membuat pandanganku sedikit kabur. Napasku pendek-pendek, dadaku sesak, dan setiap kenangan yang terlintas tentang MasAwan dan Nayla membuat hatiku terasa remuk.
Setelah beberapa waktu, aku tiba di rumah Lia, sahabatku yang selalu ada. Aku mengetuk pintu dengan lemah, berharap dia ada di rumah dan bisa memberiku sedikit kekuatan.
Pintu terbuka, dan wajah Lia langsung berubah terkejut melihat keadaanku. Tanpa berkata apa-apa, aku langsung memeluknya erat, membiarkan semua kesedihan yang kutahan sejak tadi tumpah.
"Embun, apa yang terjadi?" tanya Lia pelan sambil menepuk-nepuk punggungku dengan lembut.
Aku mencoba menenangkan diri, menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab.
"Mas Awan... dia menikah lagi, Lia. Aku nggak sanggup... aku nggak bisa lihat mereka bahagia di depan mataku."
Lia menghela napas panjang, lalu membawaku masuk ke dalam rumah dan menutup pintu. Kami duduk di sofa, dia meraih tanganku, menggenggamnya erat-erat.
"Aku tahu ini pasti berat buat kamu, Embun. Tapi kamu nggak sendiri. Aku ada di sini untuk kamu."
Aku mengangguk pelan, merasa sedikit lega mendengar kata-katanya.
"Lia, aku merasa begitu terluka. Rasanya seolah aku nggak ada artinya buat Mas Awan. Dia bahagia bersama Nayla, sementara aku hanya terabaikan."
Lia mengusap punggung tanganku, menatapku dengan mata penuh simpati.
"Embun, kamu berharga, dan itu nggak tergantung pada bagaimana Mas Awan memperlakukanmu. Kamu masih punya kehidupanmu sendiri. Dan kamu punya orang-orang yang sayang sama kamu, termasuk aku."
Aku tersenyum kecil di tengah air mataku, menguatkan diri mendengar kata-katanya.
"Tapi aku nggak tahu harus bagaimana, Lia. Setiap kali lihat mereka bersama, rasanya hati ini hancur berkeping-keping."
"Memang butuh waktu untuk sembuh dari ini semua, Bun. Tapi aku yakin kamu bisa. Kamu lebih kuat dari yang kamu kira," katanya lembut, memberi dorongan yang membuatku merasa sedikit lebih kuat.
Aku menundukkan kepala, masih mencoba menenangkan hati yang penuh luka.
"Kamu benar, Lia. Aku harus kuat. Tapi untuk saat ini, aku cuma ingin menenangkan diri. Boleh aku tinggal di sini beberapa hari?"
Lia mengangguk dengan cepat. "Tentu, kamu bisa tinggal di sini selama yang kamu butuhkan. Anggap rumah ini rumah kamu juga."
Aku menarik napas panjang, sedikit lega mendengar kebaikan sahabatku. "Terima kasih, Lia. Aku nggak tahu apa yang harus kulakukan tanpa kamu."
Lia tersenyum hangat. "Aku ada di sini buat kamu, Bun. Nggak usah sungkan. Kamu istirahat saja dulu. Biarkan aku yang mengurus semuanya, termasuk menjaga agar kamu merasa tenang."
Aku memeluk Lia sekali lagi, merasa sangat berterima kasih atas dukungannya. Dalam pelukan itu, aku merasa beban di hatiku sedikit berkurang. Setidaknya, aku tahu masih ada orang yang peduli padaku.
***
Setelah lari saat akad nikah Mas Awan, aku menginap di rumah Lia selama tiga hari. Kepadanya aku mencurahkan semua keluh kesah. Namun, di hari keempat aku memutuskan untuk pulang. Rasanya tak enak merepotkan orang lain dengan masalah hidupku.
Aku mengendarai mobil dengan pelan, mencoba menata hati. Aku berjalan perlahan masuk ke rumah yang terasa begitu asing meskipun ini rumahku sendiri.
Setelah tiga hari di rumah Lia, aku berpikir aku sudah siap kembali. Tapi begitu aku menginjakkan kaki di dalam, perasaan sakit itu datang lagi. Menghempas seperti gelombang yang tak pernah berakhir.
Sampai di kamar, aku langsung duduk di tepi ranjang, menatap sekeliling. Ruangan yang menyimpan begitu banyak kenangan bersama Awan. Kubuka lemari, ingin menggantungkan pakaian yang kubawa.
Langkahku terhenti ketika kulihat rak baju yang biasa dipakai Mas Awan. Kosong. Tak ada apa-apa di sana.
Perih rasanya. Dadaku terasa sesak. Perlahan, aku menyadari, dia sudah benar-benar pergi. Bukan hanya meninggalkan ruang ini, tapi juga... mungkin hatiku.
Kucoba menghela napas panjang untuk menenangkan diri. Perutku terasa lapar, jadi aku beranjak menuju dapur. Namun, saat masuk ke sana, mataku langsung tertuju pada rak sepatu baru. Rak yang tak pernah kulihat sebelumnya, terletak di sudut ruangan.
Kupandangi rak itu, dan ketika kubuka, kulihat sepatu-sepatu wanita yang berderet rapi, masih baru, menunggu pemiliknya. Jantungku berdegup kencang. Rasanya seperti tersayat.
"Ini... pasti sepatu Nayla," gumamku, berusaha menelan kenyataan pahit itu.
Aku menutup rak sepatu itu, tubuhku gemetar. Tanpa sadar, kakiku membawaku ke kamar tamu di lantai bawah. Kamar yang sempat kupikirkan sejak aku masuk ke rumah ini.
Kupandangi gagang pintunya, tanganku gemetar saat meraihnya. Aku tahu ini mungkin bukan keputusan yang bijak, tapi hatiku perlu melihat.
Perlahan kubuka pintu kamar tamu itu. Mataku langsung tertuju pada tempat tidur di dalam. Ada beberapa baju Mas Awan tergeletak di sana. Lalu, di meja rias, berderet kosmetik-kosmetik yang jelas bukan milikku.
Ini... semua milik Nayla.
Aku tak sanggup menahan air mata lagi. Kupandangi ruangan ini, ruang yang kini menjadi saksi kebersamaan Mas Awan dan Nayla. Dan rasanya seolah seluruh duniaku runtuh.
Pelan-pelan aku berbalik, kembali ke kamar kami di lantai atas dengan langkah gontai. Aku terisak dalam diam, tanpa suara, membiarkan air mata mengalir tanpa henti.
Aku berbaring di ranjang, memeluk bantal dan menangis sampai kelelahan mengambil alih. Hingga aku tertidur dalam kesendirian dan rasa sakit yang menusuk.
***
Suara langkah kaki di bawah mengusik tidurku. Aku membuka mata perlahan, perasaan asing membekap dadaku ketika mendengar tawa yang begitu familiar tapi terasa asing. Aku bangkit dari tempat tidur, berjalan pelan ke arah tangga, dan mengintip ke bawah.
Di sana, di ruang tamu, kulihat Mas Awan dan Nayla. Mereka terlihat begitu santai, tertawa kecil sambil berbincang dengan mesra.
Mas Awan memeluk Nayla erat dan sesekali menyentuh wajahnya dengan lembut. Hatiku terasa diremas kuat, tapi aku tidak bisa berpaling. Rasanya terlalu sakit, tapi aku tetap terpaku.
"Nayla," suara Mas Awan terdengar rendah, hangat, "Kamu tahu nggak, setiap pulang kerja, lihat kamu di rumah ini... rasanya lengkap banget."
Nayla menundukkan kepala, tersenyum malu. "Ah, Mas bisa aja."
"Serius, Nayla. Aku benar-benar bersyukur ada kamu sekarang," ucap Mas Awan sambil meraih tangan Nayla dan mengecupnya pelan.
Nayla tersenyum, tapi dia tampak sedikit gugup. "Mas... ini ruang tamu, loh."
Kulihat Mas Awan tertawa pelan, seperti menggoda Nayla. "Ya ampun, Ssyang. Siapa yang akan melihat kita di sini? Ayolah."
Kulihat dengan lembut, Nayla menepuk d**a Mas Awan seperti mencoba menahan godaan itu.
"Mas, sudah, nanti aja kalau kita di kamar. Jangan di sini, ya?" Nadanya lembut namun tegas.
Masa Awan tersenyum nakal, "Masa di ruang tamu aja nggak boleh? Cuma sebentar aja kok."
Namun, Nayla tetap menggeleng. "Mas Awan, udah... yuk, kita ke kamar aja. Aku nggak mau ada yang lihat. Nanti kalau ada yang datang tiba-tiba, gimana?"
Mereka berdua tertawa, lalu berjalan menuju kamar tamu di lantai bawah dengan tangan masih berpegangan erat. Aku menghela napas panjang, menutup mata sejenak, merasakan perih yang begitu dalam. Mereka tidak sadar, atau mungkin memang tidak peduli, bahwa aku ada di sini dan menyaksikan semua.
Begitu mereka hilang dari pandangan, aku berjalan kembali ke kamarku dengan tubuh lunglai, berusaha menenangkan diri. Tapi dalam hati, aku tahu bahwa bagian ini, bagian dari hidup Mas Awan yang dulu milikku, sekarang telah menjadi milik orang lain.