Hari itu terasa seperti semua dunia yang kubangun di sekitar diriku tiba-tiba runtuh begitu saja. Aku baru saja menerima pesan dari seorang pelanggan yang ingin memesan produk skincare.
Rasanya seperti ada sedikit harapan di tengah kesibukan yang terasa memenatkan. Namun, harapan itu mulai luntur begitu aku memasuki ruang tamu rumah ini, tempat aku menghabiskan sebagian besar waktuku bersama Mas Awan dan keluarganya.
"Ada acara syukuran besok, Embun. Kamu harus bantu untuk siapkan semuanya," kata ibu mertuaku dengan nada datar saat aku masuk ke ruang tamu.
Aku mengerutkan dahi. "Syukuran? Untuk siapa?"
Ibu mertuaku melirikku sekilas.
"Syukuran untuk pernikahannya Awan hari Minggu nanti. Kamu tahu kan, kan Nayla yang akan menggantikan tempatmu. Jadi, kamu bantu saja. Lagipula, kamu kan hanya istri pertama yang gagal."
Kata-kata itu menghantam dadaku seperti batu besar. Aku hanya bisa terdiam, memandangi ibu mertuaku yang seolah-olah tidak ada rasa kasihan sedikit pun padaku.
Aku mencoba mengatur napasku, berusaha tidak membiarkan emosi menguasai.
"Baik, Bu. Aku akan bantu."
Saat aku berjalan menuju dapur, aku mendengar suara tawa ringan dari arah ruang tamu. Ipar-iparku sedang duduk di sana, tertawa bersama Mas Awan. Aku melangkah lebih dekat, meski suara mereka yang semakin keras membuat hatiku bergetar.
"Ya ampun, Mbak Embun itu benar-benar nggak tahu malu ya. Jualan skincare yang nggak jelas gitu, cuma buang-buang waktu!" ujar Nia dengan suara khasnya yang menyebalkan.
"Loh, katanya dia nggak bisa hamil, terus ngapain usaha skincare gitu? Nggak punya pekerjaan yang jelas, cuma main-main aja!" timpal Mbak Rima, yang duduk di sebelah Nia sambil menggelengkan kepala.
Aku menggigit bibir, berusaha menahan diri untuk tidak melawan. Rasanya sulit sekali, tetapi aku tahu, jika aku marah, mereka akan semakin mempermalukanku.
Mas Awan hanya diam saja, seperti tidak peduli dengan obrolan mereka. Mungkin karena mereka sudah terbiasa menghina aku. Atau mungkin, dia terlalu nyaman dengan kenyataan bahwa aku selalu tunduk pada apa yang mereka katakan.
Aku mencoba berjalan menjauh, tetapi Nia memanggilku.
"Eh, Mbak Embun! Kenapa sih kamu nggak bisa ngerti? Mas Awan udah cukup sabar sama kamu yang nggak bisa kasih dia keturunan. Jadi, jangan kebanyakan ngelantur, ya!"
Aku menundukkan kepala. Setiap kata yang keluar dari mulut mereka terasa seperti cambukan yang menambah luka di hatiku.
Aku merasa seperti tak ada tempat di dunia ini yang bisa menerima diriku. Bahkan mereka menganggapku sebagai beban.
Aku tahu, mereka semua hanya ingin Awan menikahi wanita yang bisa memberinya anak. Mungkin mereka berpikir, aku hanyalah sebuah kegagalan dalam hidupnya.
Dan aku... aku merasa sangat kecil.
***
Beberapa jam kemudian, aku berdiri di ruang tamu. Menyiapkan makanan dan minuman untuk acara syukuran yang seharusnya bahagia ini.
Semua tamu sudah datang. Dan aku harus melayani mereka, meskipun hatiku terasa hancur. Aku tidak pernah membayangkan bahwa hidupku akan menjadi seperti ini.
"Aduh, Mbak Embun, kamu itu benar-benar nggak tahu diri ya," suara Nia terdengar lagi. Kali ini dia berdiri di depan meja makan, sambil mengomel tentang aku.
"Harusnya kamu senang bisa lihat Mas Awan bahagia. Tapi kenapa malah jadi merasa tersinggung terus? Itu yang namanya egois!"
Aku menggigit bibir, berusaha tidak membalas kata-katanya. Sungguh, rasanya aku ingin melarikan diri.
Aku ingin berteriak, ingin melemparkan semua kata-kata itu kembali padanya. Namun aku tahu itu tidak akan mengubah apapun. Yang ada hanya membuatku semakin terpojok.
Mertuaku datang, menatapku dengan pandangan yang tidak bisa aku artikan.
"Embun, kamu harus ingat posisi kamu. Kamu ini cuma istri pertama yang gagal. Awan kan sudah memberi kamu kesempatan lebih dari cukup. Jadi, jangan berharap terlalu banyak lagi."
Kata-kata itu kembali menghantamku.
Apa yang salah dengan aku?
Apa yang aku lakukan salah?
Aku tidak bisa memberikan anak dan itu menjadi alasan untuk merendahkan diriku. Aku merasa terasing, seperti orang lain dalam rumah yang seharusnya menjadi tempat yang aman. Aku merasa kehilangan diri sendiri.
Sambil melayani tamu, aku menahan air mata yang hampir menetes. Semua orang di sini tampaknya hanya peduli pada pernikahan kedua Mas Awan, tanpa memikirkan perasaan orang yang telah bersamanya selama bertahun-tahun.
Aku merasa tidak berarti. Aku merasa diriku ini tidak lebih dari sekadar bayang-bayang dari pernikahan yang tak pernah diinginkan.
***
Saat itu tiba.
Aku terduduk di tepi ranjang, mendengar semua dari balik pintu kamar yang tertutup. Jantungku berdegup kencang, bercampur antara sakit hati dan hampa yang tak terhingga.
Akad nikah Mas Awan dan Nayla justru diadakan di rumah kami. Padahal biasanya acara begini diadakan di rumah perempuan. Aneh, sepertinya keluarga suamiku memang sengaja ingin menyakitiku.
Suara penghulu terdengar jelas dari ruang tamu di bawah sana. Aku hanya diam mendengarkan.
"Gunawan Wicaksono bin Pandu Wicaksono," suara penghulu memecah hening.
"Saya nikahkan engkau dengan Nayla Azizah binti Nugraha dengan mas kawin berupa sebuah cincin berlian, tunai."
Dadaku terasa sesak, napasku tertahan. Aku tahu momen ini akan datang, tapi tak pernah kusangka akan terasa seberat ini.
"Saya terima nikahnya Nayla Azizah binti Nugraha dengan mas kawin tersebut, tunai," jawab Mas Awan dengan lantang dan penuh kepastian.
Kata-kata itu seperti sembilu yang merobek perasaanku, satu demi satu. Telingaku bergetar, mataku memanas, dan rasanya seperti ada beban besar menekan dadaku hingga nyaris tak bisa bernapas.
Suara tawa dan tepuk tangan dari ruang tamu membuat perasaanku kian hancur. Mereka bahagia, mereka merayakan. Dan di sini, aku terpenjara dalam kamar. Tidak ada yang peduli pada luka yang kupendam sendirian.
"Sudah selesai," gumamku lirih, hampir tak terdengar. Air mataku jatuh, tak bisa kubendung lagi.
"Mereka benar-benar sudah menikah. Dia benar-benar miliknya sekarang...."
Aku menenggelamkan wajah di tangan, terisak dalam diam, sekuat tenaga menahan suara tangisku agar tak terdengar keluar. Apa gunanya menangis, apa gunanya berharap? Awan sudah memilih jalannya. Dan aku... hanya menjadi kenangan di sudut hatinya.
Suaranya kembali terdengar samar-samar, bercanda dengan para tamu. Suara tawa yang dulu pernah kurasakan saat aku menjadi satu-satunya wanita dalam hidupnya. Tapi kini, aku tak lebih dari bayangan.
"Embun," aku berbisik pada diriku sendiri, suara yang nyaris hilang ditelan isak tangis, "kau harus kuat... kau tak bisa terus begini."
Tanpa banyak pikir, aku bangkit, meraih tas kecil yang sudah kusiapkan sejak kemarin malam, berjaga-jaga jika akhirnya aku tak sanggup lagi bertahan di sini.
Perlahan, aku membuka pintu kamar dan melangkah keluar, tanpa suara, tanpa ingin menarik perhatian siapa pun. Langkahku terasa berat, tapi aku tahu, ini saatnya. Aku tak ingin mendengar kebahagiaan mereka lagi.
"Bismillah semoga ini jalanku."