1. Sialan. Salah Gandeng!
"Heh! Cepat lepasin tangan lo dari cowok gua!"
Teriakan menggelegar itu membuat langkah Jocelyn terhenti.
Suasana lobi bioskop yang tadinya bising oleh obrolan puluhan penonton yang baru keluar dari teater, mendadak senyap seketika.
Aroma berondong jagung manis dan karamel yang menguar di udara seolah ikut membeku.
Beberapa pasang mata penonton di sekitar mereka langsung menoleh, bersiap menonton drama gratis.
Jocelyn berkedip linglung. Kepalanya masih agak pening dan matanya masih buram, efek baru saja menonton film horor berdurasi dua jam di dalam teater yang gelap gulita.
Ditambah lagi, lututnya masih lemas seperti jeli karena sepanjang film sukses dibuat jantungan oleh teror hantu yang muncul tanpa diduga.
Takut terpisah di tengah keramaian koridor bioskop yang padat, Jocelyn refleks mengulurkan tangannya ke samping sejak keluar dari pintu teater tadi.
Jemarinya langsung menyusup, mengait, dan menggenggam erat telapak tangan hangat yang dilapisi jaket flanel di sebelahnya.
Namun, pekikan melengking di depannya ini membuat Jocelyn sadar ada yang tidak beres. Matanya melebar saat melihat jika di hadapannya, berdiri seorang wanita cantik dengan pakaian sangat modis.
Wajah wanita itu merah padam, matanya melotot tajam menatar lurus ke arah ... tangan Jocelyn.
Gadis itu perlahan menurunkan pandangannya ke bawah. Melihat tangannya sendiri yang masih bertengger dengan nyaman, menggenggam erat jemari seorang pria.
Tunggu. Pria?
Bukan tangan Ririn yang mungil dan berkuku lentik?
Jocelyn pelan-pelan mendongak, dan jantungnya serasa merosot hingga ke mata kaki. Pasalnya pandangannya bertubrukan dengan d**a bidang yang dibalut jaket flanel kotak-kotak, lalu naik ke rahang tegas yang tercukur rapi.
Pandangan Jocelyn kini berakhir pada sepasang netra hitam yang kini sedang menatapnya tajam dan alis bertaut sebelah.
Pria itu sangat tinggi, sampai Jocelyn harus mendongak penuh untuk menatap wajahnya yang tampan tapi terasa dingin membeku.
Itu bukan sahabatnya, Ririn tapi seorang pria asing!
"A-ah!"
Jocelyn memekik kecil, langsung menyentakkan tangannya menjauh seolah baru saja menyentuh bara api yang menyala.
"Maaf! Maaf banget! Saya nggak bermaksud—"
"Oh, jadi ini alasan kamu dari tadi cuek banget di dalam bioskop, Joe?!" potong wanita modis itu, mengabaikan kepanikan Jocelyn.
Suara wanita itu naik satu oktav, menembus gendang telinga Jocelyn. Dia melangkah maju dengan hentakan stiletonya yang nyaring, langsung berdiri di antara Jocelyn dan pria bernama Johannes itu.
Wanita itu menudingkan telunjuknya yang dipoles kuteks merah menyala tepat di depan hidung Jocelyn.
"Heh, perempuan gatal! Lo memang nggak punya malu, ya?!" Wanita itu menghardik Jocelyn tanpa tedeng aling-aling. Wajahnya makin mendekat dengan penuh kilat amarah.
"Mbak, maaf, ini salah paham. Saya beneran salah gandeng orang, kirain ini sahabat saya—"
"Halah! Alasan klasik banget! Hari gini masih pakai trik murahan kayak begini buat godain cowok orang? Dasar perempuan kecentilan! Sahabat lo emang cowok setinggi ini? Lo sengaja mau cari kesempatan di tempat rame, 'kan?! Tampang aja polos, tapi kelakuan kayak uler! Murahan tahu, nggak!"
Kata-kata kasar itu mengalir deras seperti air bah, membanjiri Jocelyn dengan rasa malu yang luar biasa. Dia merasa ingin tenggelam ke dalam lantai bioskop saat itu juga.
Beberapa penonton di sekitar mereka mulai berbisik-bisik sambil menatap Jocelyn dengan pandangan menghakimi. Beberapa bahkan mulai berkasak-kusuk dengan suara keras yang tentu saja dapat didengar oleh gadis itu.
"Perempuan zaman now ngeri-ngeri banget, ya. Udah terang-terangan mau merebut laki orang."
"Ya udah nggak heran, sih. Kan mereka lihat standar Tik Tok."
Jocelyn semakin menunduk seraya menahan agar air matanya tak meluncur di tempat ini.
Sebuah embusan napas terdengar disusul dengan suara berat dan dingin seorang pria. "Viona, cukup. Malu dilihat orang."
Jocelyn mendongak dan melihat pria itu mencoba memegang pundak pacarnya, tapi wanita itu langsung menepisnya dengan kasar.
"Malu kamu bilang?! Yang harusnya malu itu aku, Joe! Aku pacar kamu, tapi kamu malah diem aja pas tangan kamu dielus-elus sama perempuan gatel ini! Jujur aja deh, kamu menikmati sentuhan perempuan ini, 'kan?!" teriak wanita itu, air mata kemarahan mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Viona, aku bahkan nggak kenal dia. Dia yang tiba-tiba—"
"Cukup! Aku capek ya sama kamu! Kita putus!"
Wanita itu memotong cepat ucapan kekasihnya dan kali ini Jocelyn baru jelas mendengar siapa namanya. Viona.
"Viona, jangan kekanak-kanakan—"
"Aku nggak peduli! Kita putus dan jangan pernah cari aku lagi! Dasar cowok berengsek, cewek gatel, kalian berdua sama aja!"
Viona berteriak histeris untuk terakhir kalinya, memukul d**a Johannes dengan tasnya, lalu berbalik dan berlari kencang meninggalkan lobi bioskop.
Suasana mendadak hening seketika.
Jocelyn berdiri membeku, menelan ludah dengan susah payah. Di sebelahnya, Ririn, sahabatnya yang asli baru saja muncul dari kerumunan sambil memegang segelas minuman dengan wajah tanpa dosa.
"Jo, lo ke mana aja sih? Eh, ini ada keributan apaan—"
Ucapan Ririn terputus saat melihat aura hitam yang pekat menguar dari pria di samping Jocelyn.
Jocelyn memberanikan diri melirik ke arah pria bernama Joe itu. Pria itu masih berdiri diam, tapi rahangnya tampak mengeras hingga urat-urat di lehernya menegang.
Perlahan, Joe memutar tubuhnya, menghadap penuh ke arah Jocelyn. Sorot matanya yang tadi dingin, kini berubah menjadi tatapan tajam yang seolah siap menguliti gadis itu hidup-hidup.
"Puas?" tanya Joe dengan suaranya begitu rendah, dingin, dan sarat akan ancaman.
"Mas ... saya ... saya beneran minta maaf. Saya nggak maksud bikin Mas putus sama pacarnya. Saya beneran salah lihat karena efek film horor tadi—"
Jocelyn berbicara dengan terbata sembari menyatukan kedua telapak tangannya di depan d**a penuh penyesalan.
Joe tidak menjawab, dia hanya menatap Jocelyn dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan merendahkan, seolah sedang menghafal setiap jengkal wajah gadis yang baru saja menghancurkan hubungan asmaranya dalam waktu kurang dari lima menit.
Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, Joe berbalik dan melangkah pergi dengan aura kemarahan yang membakar di belakang punggungnya.
Jocelyn merasa lemas, dia memegang dadanya yang berdegup kencang karena syok. "Ririn ... gue rasa gue baru aja bikin hidup seseorang hancur," bisik Jocelyn dengan suara bergetar.
"Lo ... lo ngapain lagian, Jo?" Ririn melongo.
"Gue salah gandeng dia, Rin! Gue kira itu lo!" Jocelyn merengek frustrasi, mengacak rambutnya sendiri dengan stres. "Ya Tuhan, semoga gue nggak bakal pernah ketemu sama cowok menyeramkan itu lagi seumur hidup gue!"
Langkah Joe terhenti sesaat di ambang pintu keluar. Bahunya tampak menegang, seolah ada sesuatu yang menahannya untuk benar-benar pergi.
Jocelyn yang masih diliputi rasa bersalah hanya bisa menunduk, berharap pria itu benar-benar menghilang dari hidupnya.
Namun harapan itu langsung runtuh. Karena Johannes perlahan menoleh. Tatapannya kali ini bukan sekadar marah, tapi ada sesuatu yang jauh lebih dingin dan berbahaya.
“Nama kamu siapa?” tanyanya tiba-tiba.
Jocelyn membeku. Ririn bahkan ikut menahan napas.
Pertanyaan itu seharusnya sederhana … tapi entah kenapa terdengar seperti awal dari masalah yang jauh lebih besar.