“Mungil,” panggil Abi, disertai senyumanannya. “Kenapa mukanya suntuk gitu?” Ami tersenyum, lebih tepatnya meringis. “Capek, Kak. Otak Ami rasanya seperti dikuras habis-habisan.” “Padahal cuma UAS. Bukan US sama UN kayak gue.” Mereka berjalan kaki menuju taman dan memilih duduk di salah satu bangku panjang. “Bener, sih, lo ‘kan bodoh, jadi ikut bimbel bikin otak lo nyaris konslet.” “Ish!” Ami memukul lengan Abi, membuat cowok itu tergelak. “Sudah bisa, ya, ngejekin Ami?! Kemarin aja nangis-nangis kaya anak kecil, ngadu sambil peluk-peluk.” “Iya-iya.” Abi mengacak rambut Ami gemas. “Eh, Mungil, bokap gue kelihatan cocok banget besanan sama bokap lo.” “Besan?” Mata Ami mengerjap bingung. “Emangnya, siapa yang mau nikah sama anaknya daddy?” Abi berdecak lalu mendengkus keras. “Gue, lah!