Bab 14. Kopi Pengakuan

1126 Kata

Bara dan Gala masih berdiri berhadapan, mereka nyaris saling memukul. Udara di Kafe Senja terasa tebal dan panas, dipenuhi aroma kopi pahit dan amarah maskulin yang menyengat. ​"Aku tahu," balas Gala, suaranya tenang, menyiratkan bahwa ancaman Bara tidak berarti apa-apa. ​Bara menatap Gala tajam, seringai bad boynya perlahan kembali, kali ini dingin dan penuh perhitungan. Ia mengerti. Gala bukan tandingan yang mudah. ​"Menarik," kata Bara. Ia mengalihkan pandangannya dari Gala ke Binta yang sedang sibuk menyeduh di balik meja bar. ​"Aku tidak suka kopi yang kau pilihkan untukku, Binta. Tapi aku suka keberanianmu," Bara melangkah mundur dari Gala. Ia menyentuh sudut bibirnya dengan tekanan, seolah merasakan kembali ciuman paksa itu. "Permainan ini belum berakhir, Sayang. Cincin ini menu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN