Binta secara otomatis mengucapkan salam. "Selamat siang, Kafe Senja. Silakan mencari tempat duduk."
Seorang pria masuk, celingak-celinguk menyusuri setiap sudut kafe. Apa yang ia kenakan membuat mata Binta tak bisa berfokus pada latte yang sedang ia buat. Pria berkacamata itu menarik perhatiannya.
Dan itu adalah Gala.
"Mahkluk itu lagi ...." Binta menggerutu.
Ia tidak membawa kamera besar yang menakutkan kali ini. Ia hanya membawa sebuah notebook usang dan tas ransel yang agak menggembung. Hoodie-nya kini berwarna abu-abu muda. Ia berjalan menuju sudut yang paling tersembunyi, di dekat jendela, tepat di sebelah pot kaktus yang ia sebut ‘galaksi kecil’ kemarin.
Binta merasa jantungnya berdebar, campuran antara kesal dan sedikit rasa ingin tahu.
Kenapa dia datang ke sini? Mau apa dia?
Gala meletakkan barang-barangnya, lalu berjalan santai ke meja bar. Ia bersandar, kedua tangannya terlipat di depan d**a.
"Selamat siang, Binta," sapanya, senyumnya sama menggodanya seperti kemarin, tapi matanya terlihat lebih santai tanpa lensa kamera.
Binta mengambil napas panjang. "Selamat siang. Anda ingin pesan apa?"
"Saya ingin memesan 'Senja'," jawabnya.
Binta mengerutkan kening. "Kami tidak punya menu bernama 'Senja'. Kami punya Americano, Latte, Cappuccino ...." Binta bahkan mengabsen menunya dengan jari.
Gala mengangguk-angguk. "Saya tahu. Tapi kopi selalu terasa seperti senja, bukan? Hangat, gelap, kadang meninggalkan rasa pahit, tapi selalu dinanti. Saya mau kopi yang paling mewakili perenungan sore hari Anda. Kopi yang jujur."
Binta menatapnya lama. Para pelanggan di belakangnya mulai berbisik-bisik, tertarik pada interaksi aneh ini. Gala sama sekali tidak terintimidasi oleh tatapan Binta.
"Saya akan membuatkan Anda Manual Brew dari biji yang baru datang. Ethiopia Yirgacheffe. Aroma bunga yang kuat, rasa asam yang jernih. Untuk perenungan yang tidak terlalu gelap," kata Binta, suaranya sedikit melembut karena tertarik pada tantangan Gala.
"Menarik," balas Gala. "Itu terdengar seperti perenungan yang penuh harapan. Saya suka itu. Terima kasih, Bintang."
Gala kembali ke tempat duduknya. Binta mendidih, tapi ia menahannya. Ia mulai meracik kopi, menuangkan air panas dengan gerakan anggun dan hati-hati. Ini adalah caranya untuk menenangkan diri, dengan berkonsentrasi pada kesempurnaan.
Ketika kopi Manual Brew itu sudah siap, Binta mengantarkannya sendiri. Ia meletakkan cangkir itu di depan Gala dengan sedikit keras.
"Ini 'Perenungan yang Penuh Harapan' Anda," kata Binta, suaranya kering.
Gala mencondongkan tubuh ke depan, menghirup uap kopi. Matanya terpejam sejenak. "Ah, sempurna. Bunga dan asam. Sepertinya Anda benar-benar tahu apa yang saya butuhkan."
Ia membuka mata, menatap Binta yang masih berdiri di sampingnya, menjaga jarak.
"Anda benar-benar seorang ahli, Binta. Atau .., mungkin Anda seorang penyihir yang bisa membaca pikiran melalui bau kopi?" Gala tersenyum miring.
Binta tidak membalas senyumnya. "Saya seorang barista. Tugas saya menyajikan kopi, bukan membaca pikiran. Dan, jika Anda sudah selesai, tolong jangan berfoto dengan flash di dekat kaktus saya."
Gala tertawa, kali ini lebih keras dan lepas. "Saya janji. Hari ini hanya tentang kopi, bukan galaksi. Lagipula, saya harus menyelesaikan cerita." Ia menunjuk ke notebook usangnya.
"Anda seorang penulis?"
"Seorang yang mencoba," jawab Gala, mengambil tegukan pertamanya. Matanya membesar sedikit. "Wow. Clean. Benar-benar jernih. Terima kasih, Binta."
Gala kembali fokus pada notebook-nya. Binta merasa harus kembali ke meja bar, tetapi kakinya terasa berat. Ia masih ingin tahu mengapa orang ini, yang sangat mengganggu, dan kini memilih kafe miliknya sebagai tempat menulis.
"Sampai jumpa lagi, Bintang," Gala berujar pelan, tanpa mendongak dari tulisannya.
Binta akhirnya kembali ke tempatnya, merasa telah kalah dalam perdebatan tak terucapkan itu. Ia sadar, flare yang kecil kemarin, kini mulai membesar menjadi komplikasi yang harus ia hadapi setiap hari.
***
Dua hari.
Selama dua hari nerturut-turut. Gala selalu muncul di Kafe Senja. Tepat di jam sebelas pagi. Ia selalu memesan 'Perenungan yang Penuh Harapan' (Manual Brew). Ia akan duduk di sudut yang sama, tempat paling pojok di sebelah kaktus.
Ia akan menulis, minum kopinya perlahan, dan hanya pergi setelah cangkirnya benar-benar kosong, meninggalkan uang tunai dan tip yang murah hati.
Binta membenci rutinitas baru ini.
Rutinitas itu merusak ketenangan yang ia jaga mati-matian. Ia terus-menerus waspada, menunggu flash kamera yang tidak pernah muncul. Ia menunggu julukan rese yang tidak pernah ia dengar lagi, selain sekali di hari pertama.
Pagi itu, Binta sudah siap di meja bar. Ia didampingi oleh satu-satunya asistennya, Nita.
Nita adalah mahasiswi jurusan desain interior yang bekerja paruh waktu. Ia punya rambut ungu cerah dan selera humor yang sangat bucin (b***k cinta). Nita sudah bekerja dengan Binta selama setahun, dan ia satu-satunya yang berani berkomentar mengenai perubahan mood bosnya.
"Mbak Binta, mood hari ini kenapa tegang banget? Mau saya bikinin Affogato biar adem?" tanya Nita sambil membersihkan gelas.
Binta menggeleng. "Saya baik-baik saja, Nita."
"Nggak mungkin. Mbak Binta biasanya tenang kayak Silent Hill. Sekarang tegang kayak lagi nunggu hasil tes DNA. Kenapa? Ada pelanggan rese?" Nita menyeringai.
Binta pun mendengus. "Jangan sebut kata 'rese'."
"Oh, jadi ada!" Nita mencondongkan tubuhnya, berbisik penuh semangat. "Yang mana? Yang pakai kemeja biru itu? Atau si om-om yang selalu minta gula tambahan?"
Tepat pada saat itu, pintu Kafe Senja berdentang. Seorang pria yang memperkenalkan dirinya sebagai Gala masuk. Hoodie hari ini berwarna krem. Ia membawa tas yang sama. Ia melirik sekilas ke arah meja bar, tatapan matanya bertemu dengan Binta selama sepersekian detik, sebelum ia langsung menuju ke sudutnya.
Nita membelalakkan matanya.
"Wow. Dia? Yang 'rese'?" Nita berbisik, nadanya berubah dari gosip menjadi kagum. "Dia lumayan, Mbak. Vibes-nya kayak cowok-cowok dark dan puitis di film indie."
Binta mendengus lagi. "Dia bukan lumayan. Dia adalah orang yang kemarin berteriak di depan kafe pakai flash dan membandingkan kaktus kita dengan 'galaksi'."
Nita menahan tawa. "Oh, dia si Bima Sakti? Saya dengar, Mbak. Tapi dia tidak mengganggu hari ini, kan? Dia cuma duduk, nulis, dan pesan kopi yang sama persis seperti kemarin-kemarin."
"Itu yang paling mengganggu!" Binta menurunkan suaranya. "Dia menciptakan rutinitas. Saya benci rutinitas yang dibuat oleh orang asing yang sok akrab."
"Atau, dia suka sama barista-nya?" goda Nita, giginya yang berjejer serasa ikut mengejeknya.
"Nita!"
"Oke, oke, saya diam. Tapi coba deh, Mbak, lihat dia."
Binta, tanpa sadar, melirik ke sudut. Gala sedang menyesuaikan posisi notebook-nya di atas meja. Posturnya yang membungkuk di balik kacamata tebal memberikan kesan seorang yang pintar atau—seperti kata Nita—seniman yang tenggelam dalam dunianya sendiri.
"Kenapa dia harus datang setiap hari?" batin Binta. "Apa yang dia tulis?"
Binta merasakan rasa ingin tahu yang sangat kecil, namun cukup mengganggu, juga mulai mengikis lapisan profesionalismenya. Ia segera mengusir pikiran itu. Ia kembali fokus membuat pesanan.
"Kamu saja ya, Nit."
"Oke, Mbak." Nita mengangguk, ia karyawan yang cukup patuh.
Ketika manual brew Gala sudah siap, Binta membiarkan Nita yang mengantarkannya. Binta tidak mau lagi berinteraksi dengannya hari ini.
Nita membawa cangkir itu dan kembali dalam waktu singkat, wajahnya berseri-seri.
"Gala bilang kopi buatan Mbak Binta selalu jadi kopi yang jujur. Dia bilang, rasa asamnya hari ini kayak penyesalan yang manis," lapor Nita, menahan tawa.
Binta menutup mata sejenak. "Cukup. Jangan ulangi kata-katanya. Rese," Binta menggerutu.
"Dia bukan rese, Mbak. Dia flirting," balas Nita, lalu dengan nada yang lebih serius, ia menambahkan, "Tapi .., Mbak Binta kenapa jadi peduli banget sama dia? Biasanya pelanggan lain yang aneh cuma diabaikan."
Pertanyaan Nita langsung menusuk Binta.
"Nita benar. Dan kenapa?" batinnya.