Veya hanya tersenyum setelah mendengarkan jawaban Binta. "Pintar. Tapi aku janji, Binta. Kehidupan liar jauh lebih manis daripada komitmen pahit ini. Dan aku akan membuktikannya. Kopi termanis untukku. Sekarang." Binta menegakkan tubuhnya, melepaskan diri dari rangkulan Gala. Matanya berkilat marah. "Saya hanya menjual kopi. Tidak ada racun. Mau atau tidak?" Gala meletakkan tangan di punggung Binta, menenangkannya. "Buatkan dia Latte Kopi Kepura-puraan yang sama, Sayang. Dia butuh banyak gula untuk menelan kenyataan." Veya tertawa sinis. "Aku suka idemu, Gala. Latte Kopi Kepura-puraan. Aku akan menelannya, dan kemudian aku akan muntahkan kebohongan ini tepat di wajah kalian." Veya menatap Gala dan Binta bergantian. Binta berbalik ke meja bar, tangannya gemetar saat mengambil s**u dan s

