Akbar memacu mobilnya dengan kecepatan gila-gilaan meskipun tangannya tidak bisa berhenti gemetaran. Ia terus saja berusaha menelepon Tria namun ponsel istrinya itu sudah dalam keadaan tidak aktif. Ia kemudian mencoba menelepon Bu Hanim yang kini telah menjadi atasan langsung istrinya. Dan ternyata ucapan Bu Hanim malah semakin membuat hatinya berdarah-darah. Bu Hanim mengatakan kalau istrinya dari jam sebelas siang telah meminta izin untuk memberi kejutan makan siang yang manis di hari ulang tahunnya. Istrinya bahkan memohon diberi waktu dua jam lebih lama dari jadwal makan siang yang seharusnya untuk merayakan hari kelahirannya. Akbar memegangi dadanya yang rasa-rasanya bertambah nyeri. Ia sendiri saja tidak mengingat hari ulang tahunnya, tetapi istrinya mengingatnya. Bahkan ingin member