Elmira sedang melipat selimut di ranjang ketika suara ketukan pelan terdengar dari pintu. Ia menoleh, melihat Bi Asih berdiri di ambang pintu.
"Bi Asih ...."
"Mira, Tuan Tristan memanggilmu ke ruang tamu," ujar Bi Asih lembut. "Katanya ada yang ingin dibicarakan."
Elmira mengernyit. Biasanya, Tristan hanya berbicara padanya seperlunya. Jarang sekali pria itu secara khusus memanggilnya hanya untuk berbincang. Ada apa?
Tak butuh waktu lama untuk berpikir, Elmira langsung mengangguk. Kemudian, ia menaruh selimut yang baru saja dilipat, merapikan baju rumahan yang ia kenakan, dan berjalan menuju ruang tamu. Langkahnya sedikit ragu, apa yang ingin Tristan bicarakan sebenarnya.
Saat ia tiba, Tristan sudah duduk di sofa, memangku Elea yang baru saja tertidur. Pria itu tampak lelah, tetapi tatapan matanya tetap tegas saat menoleh ke arahnya.
"Apa Alea bangun?" tanyanya pelan, tak ingin jika suaranya akan membangunkan Alea.
"Tidak, ia masih tertidur lelap," jawab Tristan.
"Kamu memanggilku?" tanya Elmira kemudian.
"Siapkan dirimu, Mira. Kita akan pergi," ujar Tristan.
"Pergi?" tanya Mira dengan dahi mengernyit.
"Iya.Aku akan pergi ke rumah Mama," ujar Tristan langsung. "Mama mengadakan pertemuan keluarga. Aku ingin kau ikut."
Elmira terkejut. "Aku?"
"Ya," Tristan mengangguk. "Kamu adalah ibu s**u Elea. Jadi tidak mungkin kalau aku tidak mengajakmu."
"Mamamu ...."
"Tenang, ini mamaku. Bukan wanita itu." Tristan segera memotong pikiran Elmira. Ia bisa menangkap jika yang ada di dalam pikiran Elmira mungkin adalah Gina.
Elmira menunduk, jari-jarinya saling meremas. Ia tidak yakin apakah ini keputusan yang tepat. Bagaimana jika keluarga Tristan menolaknya? Atau lebih buruk, jika mereka sama seperti Gina, melihatnya sebagai orang luar yang tidak seharusnya berada di sana?
"Tristan … aku tidak yakin apakah aku harus ikut," suaranya lirih.
Tristan menghela napas pendek. "Aku tidak memberikan tawaran, Mira. Aku memberi perintah."
Elmira mendongak, menatap mata Tristan tak percaya. Dingin, suaranya begitu dingin. Elmira tahu jika saat ini dia tidak mempunyai pilihan.
"Baiklah," akhirnya ia mengangguk pelan dan hendak berbalik, tapi sebelum itu suara Tristan membuatnya terhenti.
"Mira, pakai ini." Tristan menyodorkan totte bag kepada Mira. "Aku suka wanita yang bersih dan tidak dekil."
Seperti ditampar, Elmira membeku di tempat. Kata-kata itu langsung menohok hatinya. Tidak dekil?
Sejak kapan ia terlihat kotor? Memang, pakaiannya sederhana, hanya kaus dan celana bahan yang nyaman untuk mengurus bayi. Ia juga selalu menjaga kebersihan tubuhnya. Akan tetapi … apa di mata Tristan, ia terlihat seperti orang lusuh?
Jari-jari Elmira mengepal, hatinya panas. Namun, ia menahan diri.
Ia menelan ludah, mengambil tote bag itu dengan tangan gemetar, lalu berbalik pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Di sudut ruangan, Bi Asih mengamati mereka dengan tatapan khawatir. Ia mengenal keluarga Tristan, terutama Mama Amanda. Wanita itu memang selalu menunjukkan kasih sayang kepada putranya, tetapi ia juga tidak bisa mengabaikan kemungkinan bahwa kehadiran Elmira akan menimbulkan masalah baru nantinya.
--
Elmira duduk di dalam mobil dengan tangan yang masih mengepal di atas pangkuannya. Udara di dalam terasa sesak, meskipun AC mobil menyala cukup dingin. Tristan mengemudi dalam diam, sementara Elea tertidur pulas di pelukannya.
Beberapa kali Tristan melirik kecil ke kaca mobil untuk melihat penampilan Elmira. Cantik, wanita itu sangat cantik dalam balutan gaun hitam beresleting depan dan berenda di sekelilingnya. Hanya sesaat saja Tristan sempat terkagum sebelum akhirnya ia sadar jika Mira hanyalah seorang ibu asuh anaknya.
Ketika mobil memasuki halaman rumah mewah bergaya klasik Eropa, Elmira menegang. Bangunan besar dengan taman yang tertata rapi itu begitu megah, sangat berbeda dengan kehidupannya selama ini.
Begitu mobil berhenti, seorang pria berseragam segera membukakan pintu. Tristan turun lebih dulu, kemudian menggendong Elea dengan satu tangan.
"Keluar," ucapnya pada Elmira tanpa menoleh.
Elmira menarik napas dalam, lalu keluar dengan langkah ragu. Ia bisa merasakan tatapan para pelayan yang berjajar di depan pintu. Pasti mereka bertanya-tanya siapa dirinya.
Saat mereka masuk ke dalam, suasana pertemuan keluarga sudah terasa ramai. Beberapa anggota keluarga Tristan duduk di sofa besar, mengobrol dengan suara pelan. Namun, ketika sosok Tristan muncul dengan seorang wanita asing di belakangnya, percakapan itu langsung terhenti.
Seseorang yang duduk di kursi tengah bangkit dari tempatnya. Wanita itu anggun, dengan gaun berwarna lembut dan rambut yang disanggul rapi. Tatapan matanya tajam, penuh wibawa.
Amanda. Dialah ratu di rumah itu.
Elmira langsung menunduk, merasa semakin canggung kegika tatapan mata Amanda sama sekali tidak terlepas darinya.
Tristan berjalan mendekat, lalu mencium pipi sang ibu singkat. "Mama."
"Tristan," suara Mama Amanda terdengar tenang, tetapi tatapannya segera beralih pada Elmira.
Hening.
Elmira bisa merasakan bagaimana mata wanita itu mengamati dirinya dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Kamu siapa?" akhirnya Mama Amanda bertanya.
Elmira menelan ludah. Ia ingin bicara, tetapi lidahnya kelu.
"Ibu s**u Elea," jawab Tristan sebelum Elmira sempat membuka mulut.
"Ibu s**u?" alis Mama Amanda terangkat. Matanya kembali meneliti Elmira, dan kali ini ada kilatan terkejut di sana. "Cantik," gumamnya. "Kamu cantik."
Elmira tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Ia hanya bisa diam, menunduk dalam ketidaknyamanan.
Tapi sebelum ia bisa berpikir lebih jauh, seseorang di belakang Mama Amanda tiba-tiba berkata dengan nada tajam.
"Tristan … istrimu baru saja meninggal sebulan lalu. Mana mungkin kamu sudah membawa wanita lain ke rumah ini?"
Suasana mendadak beku.
Elmira mengangkat wajah, menatap wanita yang baru saja berbicara. Seorang perempuan muda dengan wajah cantik tetapi sorot mata menusuk.
Wanita itu melipat tangannya di depan d**a, dagunya sedikit terangkat. Matanya yang tajam tidak terlepas dari Elmira. "Aku tidak menyangka kamu secepat ini mencari pengganti, Tristan," lanjutnya dengan nada penuh sindiran.
"Jenny, cukup." Tristan yang sejak tadi diam, akhirnya menghela napas panjang. Ia menatap Jenny dengan ekspresi datar. "Aku tidak mencari pengganti siapa pun, Jenny. Elmira ada di sini karena dia adalah ibu s**u Elea. Itu saja."
Jenny mendengus pelan, lalu menatap Elmira dengan pandangan meremehkan. "Ibu s**u? Menarik sekali. Tapi tetap saja, membawa wanita lain ke pertemuan keluarga begitu cepat? Aku kira, setidaknya kamu masih berduka atas kematian Soraya."
Amanda, yang sejak tadi memperhatikan, akhirnya angkat bicara. "Jenny, Tristan sudah menjelaskan. Gadis ini ada di sini untuk Elea. Jangan membuat acara ini menjadi kacau."
Jenny tersenyum tipis, tetapi sorot matanya masih dingin. "Aku hanya khawatir, Tante. Orang luar di tengah keluarga? Apa tidak berisiko?"
Elmira mengepalkan tangannya lebih kuat. Hatinya terasa nyeri mendengar sebutan orang luar. Jenny berbicara seolah dirinya bukan siapa-siapa.
Sebelum Tristan sempat menjawab, Elea menggeliat pelan di pelukannya. Gadis kecil itu membuka mata, dan mulai menangis kecil.
"Aku akan menenangkan Elea," pamitnya pada Tristan.