Elmira mengangkat kepalanya, menoleh ke arah ranjang bayi di sudut ruangan. Elea menggeliat pelan, bibir mungilnya mengerucut sebelum tangisannya kembali pecah.
Elmira segera bangkit, menghapus sisa air mata di pipinya dengan punggung tangan. Dengan langkah ringan, ia mendekat dan membungkuk, menatap wajah mungil itu yang kini memerah karena menangis.
"Tenang, Sayang. Aku di sini," bisiknya lembut, suaranya masih sedikit gemetar setelah mimpi buruk tadi. "Maaf jika membuatmu terbangun."
Ia menyelipkan tangannya dengan hati-hati, mengangkat tubuh kecil itu ke dalam pelukannya. Perlahan, ia mengayun-ayunkan Elea, berusaha menenangkan bayi yang terus terisak.
"Apa kamu lapar, hm?" Elmira bertanya dengan suara nyaris berbisik, meski tentu Elea belum bisa menjawab.
Ia mengusap punggung bayi itu, merasa betapa kecil dan rapuhnya tubuh yang ada dalam dekapannya. Elea masih menangis, meski sudah mulai reda. Elmira menatap wajah bayi itu dalam-dalam, jari-jarinya menyentuh pipi Elea dengan gemetar.
"Maaf ... aku tidak akan menangis lagi," gumamnya lagi ... entah untuk yang keberapa kali.
Ia tidak tahu sampai kapan bisa terus berada di sini. Tidak tahu sampai kapan bisa menjaga Elea. Tapi satu hal yang ia tahu, selama ia masih di sini, ia tidak akan membiarkan bayi ini menangis sendirian.
--
Di dalam ruangan berpanel kayu yang megah, Gina duduk dengan punggung tegak di hadapan seorang pria paruh baya dengan setelan abu-abu rapi. Di meja di depannya, tumpukan berkas tersusun rapi, sementara pena mahal bertengger di jari pengacara itu, dimainkan dengan gerakan santai namun penuh perhitungan.
"Apa Anda sudah mempertimbangkan keputusan ini dengan matang, Bu Gina?" suara pria itu terdengar tenang, tetapi matanya tajam, mencoba membaca ekspresi wanita yang duduk di hadapannya.
Gina menghela napas pelan, lalu menyilangkan kakinya. Matanya menatap lurus ke pria itu, tidak sedikit pun menunjukkan keraguan.
"Sudah," jawabnya tanpa ragu. "Saya ingin ini dilakukan secepatnya. Tanpa celah untuk penundaan atau perlawanan."
Pengacara itu mengangguk, membuka salah satu berkas, lalu membaca isinya dengan saksama sebelum melirik kembali kepada Gina.
"Kita bicara soal hak asuh, 'kan?"
Gina mengangguk. "Aku ingin hak asuh penuh atas Elea. Dan aku ingin memastikan tidak ada satu pun pihak yang bisa menggugat atau mengajukan keberatan, termasuk Tristan."
Pengacara itu menaikkan alisnya. "Anda ingin mencabut hak Tristan sebagai ayah biologis?"
Pengacara itu menyandarkan punggungnya ke kursi, menghela napas pelan sebelum menjawab. "Bu Gina, ini bukan perkara mudah. Tristan adalah ayah kandung Elea. Menghapus haknya membutuhkan alasan kuat—sesuatu yang bisa kita buktikan secara hukum."
Gina tersenyum tipis, tetapi senyum itu sama sekali tidak hangat. "Aku akan memberimu alasan yang cukup kuat. Kau hanya perlu memastikan semuanya berjalan sesuai rencana."
Pengacara itu menatapnya sejenak, lalu mengangguk. "Baik. Kita mulai dari sini. Tapi saya perlu tahu … apakah ada hal lain yang harus kita bahas?"
"Hak waris," jawab Gina singkat.
"Hak waris siapa? Untuk siapa?" tanya pengacara itu.
"Hak waris Soraya untuk Elea." Sejenak Gina menghela napas panjang. "Perusahaan yang saat ini dipimpin oleh Tristan, separuhnya adalah milik Raya. Kau pikir, apa yang akan dilakukan oleh Tristan jika dia sampai memiliki wanita lain?"
"Kemungkinan besar, bagian Bu Soraya akan hilang, Bu," jawabnya. "Itu juga kalau Pak Tristan mau bermain."
"Pintar! Dan aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi," ujar Gina. Sementara itu, sang pengacara mulai memahami ke mana arah berpikir mertua Tristan ini.
"Saya akan menyusun dokumen yang memperkuat hak Elea atas warisan ibunya," ujar sang pengacara, mencatat sesuatu di kertasnya. "Tetapi kita masih harus mempertimbangkan langkah terhadap Pak Tristan. Tanpa bukti kuat bahwa dia tidak layak menjadi wali Elea, kita tidak bisa mencabut haknya begitu saja."
Gina tersenyum tipis, menyandarkan punggungnya ke kursi. "Tidak perlu khawatir soal itu. Tristan tidak akan bisa melawan jika kita punya cukup bukti."
Pengacara itu menatapnya penuh tanya. "Anda sudah punya sesuatu?"
Gina mengangguk pelan. "Saat ini Tristan sedang dekat dengan seseorang. Seorang wanita yang tidak akan pernah diterima oleh publik maupun keluarga besar."
Pengacara itu mendekatkan diri, menautkan jemarinya. "Dan Anda ingin menggunakan itu untuk menjatuhkannya?"
"Tentu saja," jawab Gina mantap. "Dengan reputasi yang hancur, dia tidak akan punya daya tawar lagi. Aku hanya perlu memastikan skandalnya cukup besar untuk menyingkirkannya dari Elea dan juga perusahaan."
"Lalu?" lanjut sang pengacara.
"Apalagi? Tentu saja perusahaan akan menjadi milikku," jawab Gina dengan senyum yang tersungging di sudut bibirnya.
Pengacara itu mengangguk, memahami langkah selanjutnya. "Baik, saya akan menyiapkan segala kemungkinan yang bisa kita gunakan."
"Lakukan yang terbaik. Aku ingin ini selesai sebelum Tristan menyadari apa yang terjadi," ujar Gina.
Gina menyandarkan tubuhnya ke kursi dengan senyum tipis yang masih melekat di bibirnya. Pengacara di hadapannya masih menatapnya penuh perhitungan, tetapi Gina tidak peduli. Yang terpenting baginya bukanlah Soraya, bukan juga Elea—melainkan harta. Dan satu-satunya cara agar bagian Soraya jatuh ke tangannya adalah melalui Elea.
Gina mengetuk ujung jarinya ke meja, matanya menatap kosong ke arah kaca jendela di belakang pengacara itu. Langit di luar berwarna kelabu, seolah mencerminkan pikirannya yang dipenuhi dengan strategi licik.
"Jika aku berhasil mendapatkan hak asuh penuh atas Elea," gumamnya pelan, hampir seperti berbicara kepada dirinya sendiri, "maka seluruh bagian Soraya secara otomatis akan berada di bawah kendaliku."
Pengacara itu menaikkan alisnya, sedikit tergelitik oleh pernyataan Gina. "Elea memang akan menjadi ahli waris sah dari ibunya, tapi bukankah itu berarti asetnya tetap atas nama Elea? Anda hanya menjadi walinya."
Gina tersenyum dingin. "Wali memiliki kuasa, bukan?"
Pengacara itu terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk. "Ya, secara hukum, wali memiliki hak untuk mengelola aset anak di bawah umur. Tapi, tentu saja, ada batasan dan pengawasan hukum."
"Batasan selalu bisa dinegosiasikan," balas Gina ringan. "Dan aku yakin, dengan sedikit usaha, tidak ada yang bisa menghalangi niatku."
Pengacara itu menghela napas, tetapi tidak berkata apa-apa. Ia tahu, kliennya ini adalah tipe wanita yang tidak akan berhenti sebelum mendapatkan apa yang diinginkannya.
"Apakah Anda sudah memiliki rencana bagaimana menjatuhkan Tristan?" tanya pengacara itu.
"Elmira ... ya, aku akan menjatuhkannya melalui perempuan itu." Gina menyiratkan kebencian yang terpancar jelas dari sorot matanya.
Bukan karena ia mengenal Elmira, tetapi sikap acuh yang perempuan itu berikan padanya, membuatnya menyimpan rencana jahat untuk membalas penghinaan Elmira, sekaligus mengambil kuasa atas perusahaan yang Tristan duduki saat ini.
"Sudah terlalu lama aku menunggu Soraya untuk mati, agar seluruh hartanya jatuh ke tanganku. Tapi ... anak itu sudah lahir lebih dulu," gumam Gina.