Bab 11. Mata-Mata

1011 Kata
Di sebuah ruangan luas, seorang wanita paruh baya duduk di kursi empuknya. Wajahnya tenang, tapi matanya yang tajam menunjukkan bahwa ia bukan seseorang yang bisa dianggap remeh. Di hadapannya, seorang pria dengan setelan rapi berdiri dengan sikap kaku. Ia baru saja menyampaikan laporan, dan Gina mendengarkan dengan seksama. "Jadi, Elmira benar-benar ada di rumah Amanda dan Roy tadi?" Gina bertanya, suaranya lembut tapi dingin. "Ya, Nyonya. Tidak hanya itu, terjadi keributan antara dia dan Nona Jenny," jawab pria itu. "Elmira terjatuh, dan hampir saja Nona Elea terjatuh." "Lalu? Apa Elea terluka?" tanya Gina kaget. "Tidak, Nyonya," jawab pria itu. "Sepertinya, insiden itu bukan karena kecelakaan, Nyonya. Ada seseorang yang sengaja membuatnya tersandung, dan kemungkinan besar itu adalah Nona Jenny." Gina mengetuk-ngetukkan jarinya di sandaran kursi. Wajahnya tetap tanpa ekspresi, tapi pikirannya berputar cepat. "Lalu, bagaimana reaksi Tristan?" "Dia marah, Nyonya. Sangat marah. Bahkan, dia langsung membawa Elmira pergi." Sepasang bibir Gina melengkung tipis. "Menarik," gumamnya. Ia sudah menduga sesuatu seperti ini akan terjadi. Elmira bukan wanita bodoh. Dia mungkin terlihat lembut dan selalu diam. Tampak acuh, tetapi Gina tahu ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kepasrahannya. "Tidak ada yang menyentuh Elmira secara langsung?" tanya Gina lagi. "Tidak, Nyonya. Tapi Nona Jenny jelas punya andil dalam insiden itu. Bahkan, Tuan Roy sendiri menghentikan keributan sebelum semakin membesar." Gina mengangguk pelan. "Roy memang selalu netral, tetapi Amanda … bagaimana mungkin dia hanya diam?" Pria itu masih diam di sana, menunggu kata-kata yang akan keluar selanjutnya. "Bagaimana reaksi keluarga lainnya?" "Sebagian besar hanya diam, Nyonya. Mereka tidak ingin terlibat lebih jauh. Namun, setelah Tristan pergi, Nona Jenny terlihat kesal dan mengeluh pada beberapa anggota keluarga." Gina tersenyum tipis. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu berdiri dengan anggun. "Jika Tristan mulai benar-benar melindungi Elmira, maka kita harus mulai bersiap." Pria itu menunduk sedikit, menunggu instruksi lebih lanjut. "Pastikan aku tahu setiap langkah yang diambil Tristan dan Elmira setelah ini," kata Gina yang tak ingin dibantah. "Baik, Nyonya." Saat pria itu pergi, Gina tetap berdiri di tempatnya, menatap jendela besar di hadapannya. "Elmira … sepertinya aku harus mengenalmu lebih jauh," gumamnya. -- Saat Elmira masuk ke dalam rumah, pintu di belakangnya tertutup dengan keras. Suara itu bergema di ruangan luas yang dihiasi dengan desain elegan, tetapi hawa di dalamnya terasa jauh dari nyaman. Tristan berjalan melewatinya dengan langkah cepat, jaketnya dilepas dan dilemparkan sembarangan ke sofa. Elmira belum sempat mengatur napasnya sejak mereka meninggalkan rumah Amanda dan Roy. Ia masih sedikit gemetar, bukan karena ketakutan, tetapi karena hatinya sudah terlanjur lelah. "Tristan—" "Jangan mulai," potong Tristan dingin, membalikkan badan dengan tatapan tajam. "Apa yang baru saja terjadi itu adalah sebuah insiden yang memalukan!" Elmira terdiam. Sejak meninggalkan rumah keluarga besar Tristan, Elmira sudah menduga jika hal ini akan terjadi. Namun tetap saja, ia hanya diam, dan tak ingin memperpanjangnya. Baginya, Elea tidak terluka saja ia sudah bersyukur. "Bagaimana bisa kamu melakukan hal ceroboh seperti itu, Mira?" lanjut Tristan. "Apa kamu tahu, kamu hampir menjatuhkan Elea! Apa kau sadar betapa fatalnya itu?!" Elmira mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia ingin menjelaskan, ingin mengatakan bahwa itu bukan kesalahannya. Namun, melihat tatapan marah Tristan, ia tahu percuma saja. "Jenny memang sengaja melakukannya," ucap Elmira akhirnya, suaranya lirih dan datar. Tristan tertawa sinis, seolah mendengar sebuah alasan yang tak jelas. "Jangan melempar kesalahan pada orang lain, Mira. Seharusnya kamu sudah tahu bagaimana keadaan di sana sejak kita datang, dan seharusnya kamu juga bisa lebih berhati-hati!" Elmira mengepalkan tangannya, berusaha menahan emosinya. "Aku tidak melempar kesalahan, Tristan. Aku hanya mengatakan fakta." Tristan menghela napas kasar, jari-jarinya meremas rambutnya sendiri. "Aku tidak peduli siapa yang melakukannya, tetapi satu hal yang jelas, aku tidak akan membiarkan Elea berada dalam bahaya. Jika kamu sampai melakukan hal ceroboh seperti ini lagi—" Elmira menatap Tristan tanpa berkedip. "Maka?" Tristan terdiam sesaat, seolah mencari kata-kata yang tepat. Ia tidak ingin menyakiti Elmira, tetapi kemarahannya masih membakar. "Jangan buat aku kehilangan kesabaran," katanya akhirnya, suaranya lebih rendah, tetapi terdengar lebih berbahaya. Elmira merasakan sakit yang aneh di dadanya. Bukan karena Tristan berteriak atau membentaknya, tetapi karena laki-laki itu bahkan tidak mempertimbangkan kemungkinan bahwa dirinya juga adalah korban. Ia ingin mengatakan banyak hal. Ingin berteriak bahwa ia tidak pernah meminta untuk berada di situasi ini, tidak pernah meminta untuk dijebak dalam permainan licik Jenny. Akan tetapi, seperti biasa, Elmira memilih diam. Ia menundukkan kepala sedikit, menghela napas panjang, lalu berkata, "Aku lelah, Tristan. Jika kamu masih ingin menyalahkanku, lakukanlah besok. Malam ini, aku hanya ingin tidur." Tanpa menunggu jawaban, Elmira berbalik dan berjalan ke kamarnya dengan Elea yang masih terlelap di dalam pelukannya. Tristan hanya bisa menatap punggungnya yang perlahan menghilang di balik pintu. Di dadanya ada rasa bersalah yang mulai muncul, tetapi egonya masih terlalu tinggi untuk mengakuinya. "Hah ...." Ia menghempaskan dirinya ke sofa, mendesah panjang sembari menatap langit-langit. Hatinya masih dipenuhi amarah, tapi di balik itu semua, ada ketidakpuasan yang menggerogoti dirinya. Tristan adalah seseorang yang perfeksionis. Ia selalu memastikan segala sesuatunya berjalan sesuai rencana, tanpa celah sedikit pun untuk kesalahan. Kejadian tadi—Elmira terjatuh, Elea hampir saja ikut terjatuh—itu adalah sebuah kesalahan besar dalam sistem yang sudah ia bangun. Tristan mengusap wajahnya dengan kasar. Ia harus membela Elmira tadi di depan keluarganya. Bukan karena dia percaya sepenuhnya bahwa Elmira tidak bersalah, tetapi karena ia tidak bisa membiarkan dirinya terlihat gagal. Tidak bisa membiarkan mereka berpikir bahwa ia telah memilih sosok yang tidak kompeten untuk berada di sisi Elea. Di dalam dunia mereka, setiap langkah dan keputusan dinilai. Jika ia membiarkan Elmira disalahkan di depan semua orang, itu sama saja mengakui kelemahannya sendiri. Namun di dalam rumah ini, jauh dari tatapan mereka semua, ia bisa menunjukkan ketidakpuasannya. Ia bisa melampiaskan kekecewaannya. Tristan memejamkan matanya sejenak, lalu berdiri. Ia berjalan menuju kamarnya dengan langkah berat, melewati pintu kamar Elea yang tertutup rapat. Tanpa sadar, tangannya terangkat dan mengetuk pintu tersebut. "Mira, kamu sudah tidur?" tanyanya. Namun, beberapa saat ia di sana, tak terdengar adanya jawaban. Hingga dia mengulang hal yang sama, mengetuk dan kembali memanggil nama Elmira. Sekali lagi, hanya hening, tanpa jawaban. "Mungkin dia benar-benar lelah," gumam Tristan pada dirinya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN