Bab 10. Ricuh

1128 Kata
Elmira masih duduk di sudut ruangan, membiarkan dirinya tenggelam dalam ketenangan sementara. Ia tidak terkejut. Ia sudah tahu bahwa cerita ini akan terjadi begitu dia melangkahkan kaki di kediaman itu untuk pertama kalinya. Langkah-langkah kaki mendekat, membuatnya mendongak. Tristan berdiri di ambang pintu, menatapnya dengan ekspresi sulit ditebak. Tidak ada amarah, tidak ada kekecewaan—hanya sorot mata tajam yang seperti menembus pertahanannya. "Kita pulang," ujar Tristan. Elmira terdiam, mengeratkan pelukannya pada Elea. "Aku pikir jika Elea akan menginap." Tristan menggeleng. "Tidak perlu. Aku tidak suka bagaimana mereka memperlakukanmu." Elmira tersenyum tipis. "Aku tidak masalah." "Tapi itu adalah masalah buatku," balas Tristan cepat. Mata Elmira membulat. Tristan berjalan mendekat, lalu berjongkok di hadapannya, sejajar dengan Elea yang baru saja membuka mata bulatnya yang indah. Tristan mengalihkan pandangannya pada sang putri yang tak lagi memiliki ibu tersebut. "Papa tidak akan membiarkan rumah keduamu merasa terancam, Sayang." Elmira menatap Tristan sejenak sebelum akhirnya mengangguk. Ia perlahan bangkit dari duduknya, mengatur posisi Elea dalam gendongannya dengan hati-hati. Bayi itu mengerjapkan mata, melihat ke sekeliling sebelum kembali menyandarkan kepalanya di d**a Elmira. Tristan berbalik lebih dulu, berjalan menuju pintu keluar dengan langkah tegap. Elmira mengikuti di belakangnya, menjaga jarak agar tidak menarik lebih banyak perhatian dari anggota keluarga yang masih berkumpul di ruang utama. Tepat saat ia melewati ambang pintu, sesuatu terjadi. Sebuah sentuhan halus namun disengaja mengenai pergelangan kakinya, membuat langkahnya tersendat. Dalam sepersekian detik, keseimbangannya hilang. Elmira tersandung, tubuhnya oleng ke depan, dan yang ada di pikirannya hanya satu hal: Elea harus selamat! Dengan reflek cepat, Elmira memutar tubuhnya di udara, menahan guncangan dengan punggungnya sendiri. Elea tetap dalam dekapannya, aman dan terlindungi di pelukan eratnya. Namun, tubuhnya menghantam lantai dengan keras. Brak! "Elmira!" Tristan berbalik dengan wajah panik. Ia langsung berlari menghampiri Elmira yang masih terbaring di lantai dengan napas memburu. Elea menangis keras, tapi tetap dalam keadaan utuh tanpa luka. Jenny, yang berdiri di dekatnya, memasang ekspresi terkejut yang dibuat-buat. "Astaga, Elmira! Kamu hampir saja membuat Elea celaka. Untung dia baik-baik saja?" sentak Jenny menyudutkan dan penuh kepalsuan. Elmira menahan perih di punggungnya, menenangkan Elea dengan usapan lembut. Ia tidak bodoh. Ia tahu apa yang baru saja terjadi. Itu bukan kecelakaan—itu adalah perbuatan Jenny. "Apa yang terjadi?!" serunTristan. Jenny mengangkat bahu, memasang ekspresi polos. "Aku tidak tahu. Tiba-tiba dia jatuh di depanku begitu saja. Mungkin wanita ini tidak terbiasa memakai sepatu mahal, Tan." Elmira menarik napas dalam, menenangkan emosinya. Ia tidak ingin memperpanjang masalah di hadapan semua orang. Dengan susah payah, ia mencoba bangkit. Namun, sebelum ia bisa berdiri sendiri, Tristan sudah lebih dulu membungkuk dan mengulurkan tangannya. Tanpa berkata apa-apa, ia segera menarik Elmira ke dalam dekapannya, memastikan wanita itu tidak terluka lebih parah. "Apakah ada yang sakit?" "Tidak ada," jawab Elmira cepat. "Mana Elea? Apakah dia ada yang luka?" tanyanya kemudian. Tristan dengan sigap memeriksa Elea yang masih berada dalam dekapanya. Bayi itu masih menangis, tapi tubuhnya baik-baik saja. “Elea baik-baik saja. Kau yang harusnya aku khawatirkan,” ucap Tristan, matanya menelusuri Elmira, memastikan tidak ada luka yang terlihat. Elmira menggeleng pelan, menelan rasa nyeri di tubuhnya. “Aku baik-baik saja.” Namun, apa yang Elmira katakan, tidak sesuai dengan apa yang terlihat. Tristan melihat gaun yang dikenakan Elmira mulai berwarna merah, terkena tetesan darah yang mengalir dari pelipisnya. Tatapan tajam Tristan kembali beralih ke Jenny yang masih berdiri di tempatnya, menyilangkan tangan di d**a dengan ekspresi berpura-pura tak bersalah. “Kenapa kamu berdiri di situ, Jenny?” suara Tristan dingin, mengisyaratkan bahwa ia tidak sebodoh itu untuk tidak menyadari apa yang baru saja terjadi. Jenny tersenyum tipis, seolah pertanyaan itu tak berarti. “Aku? Aku hanya kebetulan berdiri di sini. Lagipula, seperti yang kubilang, mungkin Elmira tidak terbiasa berjalan dengan sepatu mahal.” Tristan mengepalkan rahangnya. Ia tahu Jenny sedang mempermainkan situasi. “Aku tidak peduli sepatu seperti apa yang dia pakai,” suara Tristan terdengar lebih rendah dan mengintimidasi. “Yang aku pedulikan adalah ada seseorang yang baru saja mencoba menjatuhkan Elmira." Ruangan menjadi hening. Beberapa anggota keluarga yang ada di sana mulai saling pandang, merasakan ketegangan di antara mereka. Jenny masih berusaha mempertahankan senyumnya, tapi ada kilatan gugup di matanya. “Tristan, kamu menuduhku?” tanyanya dengan nada menggoda, seolah mencoba mengendalikan situasi. Tristan tidak menjawab, tapi sorot matanya cukup untuk memberi jawaban. “Hentikan!” Suara berat dan penuh wibawa itu menggema di seluruh ruangan, memecah ketegangan yang hampir meledak. Semua kepala menoleh ke arah asal suara, termasuk Tristan yang masih berdiri tegang di hadapan Jenny. Roy, ayah Tristan, berdiri di tengah ruangan dengan tatapan tajam. Garis-garis tegas di wajahnya mencerminkan ketidaksabaran. Ia menatap Tristan, lalu Jenny, sebelum akhirnya matanya jatuh pada Elmira yang masih terduduk di lantai dengan napas memburu. “Sudah cukup drama ini,” ucapnya, suaranya berat dan penuh otoritas. “Tristan, bantu wanita itu berdiri dan segera bawa dia keluar dari sini!” Tristan tidak menjawab, tetapi ia langsung menunduk dan mengulurkan tangannya. Elmira, meski masih merasakan nyeri di tubuhnya, menerima bantuan itu. Dengan perlahan, ia bangkit, tetap memeluk Elea dengan erat di dadanya. Namun, sebelum mereka bisa melangkah keluar, Jenny kembali bersuara. “Om, kenapa Om terlalu baik?” Jenny menatap dengan tatapan penuh kepura-puraan. “Aku bahkan tidak melakukan apa-apa. Tapi lihat, sekarang aku yang disalahkan.” Roy menatap Jenny dengan tajam, "cukup, Jenny." “Om, aku hanya ingin Tristan sadar bahwa perempuan seperti Elmira tidak pantas untk berada di sini. Dia bukan siapa-siapa, dan dia hanya akan membawa masalah. Lihat saja—dia baru di sini sebentar, tapi sudah menimbulkan kekacauan.” Tristan yang mendengar itu mengepalkan tangannya, tetapi Roy segera mengangkat satu tangan, menghentikan anaknya sebelum Tristan sempat melangkah ke arah Jenny. Amanda, yang sejak tadi hanya mengamati, akhirnya melangkah maju. Wanita anggun itu menatap tajam ke arah Jenny sebelum menghela napas panjang. “Sudah-sudah,” katanya, suaranya tenang tapi penuh ketegasan. “Kita tidak perlu memperpanjang masalah ini.” Jenny membuka mulut, hendak membalas, tetapi Amanda langsung menatapnya tajam. “Cukup, Jenny. Jangan buat keadaan semakin buruk.” Jenny mendengus pelan, tetapi ia memilih diam. Ia tahu bahwa meskipun ia bisa bermain-main dengan Tristan, Amanda adalah sosok yang sulit dipermainkan. Tristan tidak menunggu lebih lama. Ia meraih tangan Elmira dengan erat, menggenggamnya seolah ingin memastikan wanita itu tetap bersamanya. Tanpa kata-kata, ia menarik Elmira pergi dari ruangan itu, meninggalkan suasana yang masih dipenuhi ketegangan. Elmira mengikuti langkahnya, meskipun tubuhnya masih terasa nyeri akibat jatuh tadi. Elea masih dalam dekapannya, kini mulai terdiam setelah menangis cukup lama. Saat mereka sampai di depan pintu utama, Elmira akhirnya memberanikan diri berbicara. “Tristan, aku baik-baik saja. Kau tidak perlu—” Tristan berhenti mendadak, membuat Elmira hampir menabraknya. Ia menoleh, menatap Elmira dengan mata penuh kemarahan yang ia tahan sekuat tenaga. “Aku tidak akan pernah membawamu kembali ke rumah itu lagi," ujarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN