Tristan menelan ludah, rasa bersalah menggumpal di dadanya saat mendengar suara lemah Elmira menyebut namanya. Jemarinya menggenggam tangan wanita itu lebih erat, seolah ingin menyampaikan betapa ia menyesal. Jika awal dia bertemu, dia sudah menghilangkan nyawa bayi yang dikandung Elmira, akankah dia akan merasa bersalah untuk kdua kalinya jika saat ini Elmira kehilangan nyawa demi buah hatinya sendiri? “Elmira ... kamu sudah sadar?” suaranya bergetar. Kelopak mata Elmira berkedip lemah, tatapannya masih buram. Napasnya tersengal, tetapi senyuman samar muncul di bibirnya. “E-Elea … bagaimana dia? Di mana Elea?” tanyanya hampir tanpa suara. Tristan merasakan hatinya mencelos. Sekalipun dalam keadaan seperti ini, Elmira masih lebih mengkhawatirkan Elea dibanding dirinya sendiri. Ia meng

