Di balik keheningan malam yang menyelimuti sebuah rumah besar, di ruang tamu yang terbilang mewah, seorang wanita duduk dengan anggun. Kedua matanya yang tegas menatap api yang menyala di perapian. Gina, nenek Elea, duduk dengan tangan bersedekap di atas kursi goyang tua yang sudah berusia puluhan tahun. Meskipun usia sudah tua, ia masih tetap terlihat segar dan elegan tanpa terlihat kerutan yang berarti. Matanya, yang dulu tajam dan penuh ambisi, kini penuh dengan kebencian yang mendalam, bagaikan dua bola api yang menyala di dalam kegelapan. Gina bukanlah wanita yang mudah menyerah, semangatnya tak surut hanya karena usia. Kemarahan dan ambisinya masih sekuat dulu. Namun, ada satu hal yang tidak bisa dia anggap enteng—Elmira. Wanita itu adalah batu sandungan besar dalam hidupnya. Hara

