Bab 4
Davin melakukan kunjungan ke kantor cabang dengan membawa 4 pengawal dan juga Samuel yang selalu mengikutinya.
Pria itu berada di lobby perusahaan dan sedang disambut oleh para direktur dan manajer perusahaan yang tahu akan kedatangannya.
Davin menatap mereka dengan tatapan dinginnya, kemudian melangkah melewati beberapa karyawan yang menundukkan kepala ketika berpapasan dengannya.
Davin sengaja datang ke perusahaan ini secara tiba-tiba tanpa mengabari mereka hanya untuk melihat kinerja mereka dan juga melakukan investigasi sendiri untuk melihat juga menilai keluhan-keluhan yang sering ia terima dari karyawan maupun klien.
Davin memberi kode pada beberapa pengawal yang mengikutinya membuat mereka menganggukkan kepala dan langsung berpencar. Sementara ia dan Samuel pergi ke ruang direktur utama yang berada di lantai 24 bersama Pak Roland selaku direktur utama yang menjabat saat ini.
Setelah beberapa jam berada di ruangan tersebut, juga anak buah yang sudah berpencar dan kini sudah berkumpul mereka menemukan beberapa orang yang memiliki masalah dengan pekerjaan dan bahkan menemukan beberapa tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh direktur lain juga manager.
Mereka belum menyasar pada bagian bawah karena fokus mereka hanya tertuju pada orang-orang yang memiliki jabatan.
Ternyata setelah Davin masuk ke dalam kantor dan berbicara dengan para pejabat di perusahaan, ada beberapa orang lagi kembali muncul yang merupakan tim investigasi yang disiapkan oleh Davin.
"Sesuai dengan rencana dan kontrak yang berlaku, apabila seseorang ketahuan melakukan korupsi ataupun tindak pidana yang merugikan perusahaan maupun karyawan, mereka akan dipecat secara tidak hormat, di blacklist dari beberapa perusahaan lainnya, dituntut secara hukum, dan akan mengambil semua aset berharga milik pelaku."
Samuel menunjukkan berkas yang sudah ditandatangani oleh mereka-mereka yang memiliki jabatan penting di perusahaan. Semua yang berada di dalam ruangan besar tersebut lebih dari 40 orang saling menatap dan tidak percaya jika hasil investigasi berhasil menemukan lebih dari 20 orang yang terlibat dalam kekacauan.
"Terima kasih untuk kerjasama kalian. Bagi yang melakukan tindak kejahatan, kalian akan dihukum sesuai dengan peraturan dan kejahatan yang kalian lakukan. Sementara bagi yang bersih, kalian akan mendapatkan penghargaan."
Samuel kembali berbicara membuat Davin segera bangkit dari tempat duduknya. Pria itu merapikan jas yang dikenakannya sambil menatap dingin pada rombongan orang-orang yang kini sudah ditahan oleh pihak berwajib yang memang sudah siap siaga untuk menahan mereka yang berbuat ulah.
Para pelaku pelecehan pada karyawan ada tiga orang termasuk para karyawan perempuan yang menggunakan tubuh mereka untuk mendapatkan posisi dan bahkan untuk mendapatkan proyek.
Sebenarnya untuk menjual tubuh tidak masalah jika tidak merugikan perusahaan. Hanya saja Davin tidak ingin hasil kerja keras nenek buyutnya di zaman dahulu harus ternoda oleh orang-orang yang menjual tubuh untuk meraup keuntungan.
"Sebenarnya, Pak Davin sudah lama mengincar perusahaan ini untuk melakukan bersih-bersih. Aku mendapatkan informasi dari perusahaan utama kalau penyelidikan di perusahaan ini sudah dilakukan sejak 6 bulan yang lalu secara diam-diam."
"Aku juga curiganya seperti itu. Soalnya nggak mungkin bisa dapat banyak perangkap kalau nggak hasil menyelidiki dalam waktu yang lama. Nggak mungkin cuma sebentar aja, bahkan hampir 3 jam tim investigasi tiba dan langsung menangkap semuanya."
"Mungkin mereka-mereka yang tertangkap memang sudah masuk dalam daftar cari."
Bisik-bisik karyawan terdengar terutama mereka yang menyaksikan para pelaku yang dibawa pergi.
Davin bersiap untuk meninggalkan perusahaan tidak peduli dengan ocehan para karyawan tentang penangkapan yang dilakukan olehnya secara besar-besaran.
Langkah kaki pria itu langsung menghambat ketika keluar dari lift. Dilihatnya seorang perempuan cantik dengan kemeja putih dan rok hitam di bawah lutut melangkah dari arah berlawanan sambil memegang permen lolipop di tangannya.
Perempuan dengan rambut yang diikat menjadi satu itu mengangkat kepala dan mata mereka saling bertemu pandang.
"Apa yang dilakukan dia di kantor ini? Apa jangan-jangan dia sengaja mengincarku sampai di tempat ini untuk meminta pertanggungjawabanku?" Davin berkata pada dirinya sendiri, menatap sosok perempuan yang pernah ditidurinya.
Pria itu mendengus. "Aku memang tampan dan kaya, nggak heran kalau banyak yang naksir dan berusaha untuk mendapatkan perhatianku."
Pria itu berucap dengan penuh percaya diri sambil melangkahkan kakinya bersiap dengan segala kemungkinan perempuan di hadapannya akan menabraknya lalu pura-pura mereka saling mengenal dan akhirnya meminta pertanggungjawabannya.
Davin sudah siap dengan segala kejadian yang akan terjadi, namun perempuan itu hanya melewatinya begitu saja seolah tidak melihat Davin.
Pria itu sedikit menghentikan langkahnya diikuti oleh Samuel dan anak buahnya yang lain.
"Bos, kenapa?" Samuel menatap Davin dengan tanya yang terlihat dari raut wajahnya, membuat pria itu menggelengkan kepala dan memutar tubuhnya menatap punggung wanita yang sudah pergi dan menghilang di balik pintu lift.
"Ketemu dengan dia dan ini sudah ke berapa kalinya dia pura-pura nggak kenal sama aku?" Davin bergumam tidak percaya. "Mustahil dia nggak ingat sama wajah tampanku."
Davin baru saja akan melangkah mengejar sosok perempuan itu, namun langkahnya terhenti ketika Samuel menghadangnya dan menatapnya bingung.
"Bos, ada pertemuan dengan klien dari Singapore." Samuel menunjuk jam yang ada di pergelangan tangannya mengingatkan pada Davin tentang pertemuan dengan klien dari Singapura.
Davin akhirnya mengalah dan memilih untuk pergi, bertemu dengan klien sesuai dengan janji.
Sementara Olivia yang baru saja melewati Davin tidak menyadari jika orang yang baru saja dilewatinya adalah orang yang pernah ditidurinya dan bahkan merupakan pemimpin perusahaan pusat yang datang untuk melakukan investigasi.
Olivia duduk di kursinya, mengambil kacamata yang harus dikenakannya untuk bekerja, kemudian baru saja akan memulai pekerjaannya namun suara di sebelahnya kembali terdengar.
"Olivia, kamu tahu nggak kalau tadi itu ada investigasi besar-besaran? Banyak yang ketangkap dan bahkan dibawa ke kantor polisi. Termasuk, Pak Dendi, yang pernah melecehkan karyawan kantor dan tetap bebas karena keluarganya menjamin dia."
Olivia menolehkan kepalanya menatap rekannya yang kini sudah menarik kursi dan dekat dengannya.
Olivia menaik alisnya sebelah. "Pak Dendi, bapak-bapak gembrot yang perutnya besar kayak ibu hamil 11 bulan?"
Tania menganggukan kepalanya sebagai respon. "Banyak yang ketangkap termasuk Bu Feli, manajer kita juga ikut ketangkap karena ketahuan korupsi dana perusahaan yang harusnya dipakai buat beli alat produksi, tapi ditilep hampir sebagian."
Olivia menganggukkan kepalanya. "Syukurlah kalau orang jahat ketangkap."
"Kamu kayaknya biasa aja, nggak senang atau sedih gitu dengan penangkapan yang begitu tiba-tiba?"
"Masalahnya, mau mereka ketangkap atau enggak, gajiku segitu-gitu saja. Nggak mempengaruhiku sama sekali."
Olivia mengangkat bahunya dengan acuh karena memang ia tidak begitu peduli dengan urusan orang lain.
Baginya yang penting dia bekerja dengan giat dan gaji dibayar sesuai ketentuan yang berlaku.
Tidak peduli siapapun yang ditangkap selama ia tidak ikut korupsi, Olivia akan tetap bekerja dengan tenang.