Bab 5. Ketemu lagi

1030 Kata
Bab 5 Tania mengetuk meja di mana Olivia saat ini sedang membaringkan kepalanya, tengah terlelap di jam istirahat yang seharusnya digunakan untuk mengisi perut namun gadis itu lebih memilih untuk tidur di mejanya. "Oliv, kamu nggak pergi ke kantin buat cari makan?" Olivia yang sedang membaringkan kepalanya di atas meja membuka kelopak matanya dan menatap Tania yang berdiri tak jauh dari posisinya. Gadis itu menggeleng pelan kepalanya. "Aku nggak ada uang untuk beli makan siang." Tania yang mendengarnya mendengus. "Kamu nggak ada uang atau perut kamu sudah kekenyangan? Dari tadi mulut kamu nggak berhenti mengunyah makanan terus. Bekal yang seharusnya kamu gunakan untuk makan sore juga sudah kamu habiskan. Ck, kenapa nafsu makan kamu tinggi sekali? Udah kayak kakak iparku yang lagi hamil saja." Olivia mencibir mulutnya tanpa suara ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Tania. "Perut lapar karena memang minta diisi. Kalau kamu mau pergi ke kantin, pergilah sendiri. Aku nggak usah makan siang juga nggak apa-apa." "Ya udah kita pergi bareng, nanti kamu aku yang traktir. Gimana menurut kamu?" "Gini aja, kamu yang beli makanan dan bawa ke sini terus aku tinggal makan aja. Aku lagi nggak tahan beneran, mau lanjut tidur." "Nggak tahu diri namanya." Tania melengos pergi begitu saja meninggalkan Olivia yang melanjutkan kembali tidur siangnya yang sempat terganggu oleh kehadiran Tania yang mengajaknya untuk makan siang bersama. Lantai tempat mereka saat ini berada cukup kosong dan lengang karena beberapa orang memilih untuk mengisi perut mereka dan bahkan melanjutkan pekerjaan yang tertunda di cafe yang pastinya tidak ada orang di lantai ini. Olivia tidak menyadari jika saat ini ada langkah kaki yang mulai mendekat ke meja tempatnya saat ini berada. Gadis itu bahkan masih memejamkan matanya ketika sosok pria dengan setelan eksekutif kini sudah berdiri di sebelah mejanya, sambil menatapnya dengan tatapan tajam dengan dua alis yang bertaut. Ekspresi wajah pria itu terlihat tenang, sementara jari telunjuknya mengetuk pelan meja di mana kepala Olivia berbaring. Suara ketukan yang meskipun pelan tentu bisa masuk ke telinga Olivia hingga membuat gadis itu membuka sedikit kelopak matanya. Rasa-rasanya sedikit kabur karena memang Olivia tidak mengenakan kacamata. Melihat ada sosok pria yang berdiri di dekat mejanya, gadis itu segera mendudukkan dirinya dengan tegap menatap terkejut pada sosok pria itu. "Hantu apa manusia?" Sebuah pertanyaan bernada polos dilayangkan oleh Olivia pada sosok pria itu. "Menurut kamu, saya ini apa?" Pria yang tidak lain adalah Davin melipat tangannya di d**a menatap Olivia. "Nggak tahu, nggak kenal juga." Olivia mengambil kacamata yang ada di atas meja kemudian memakainya hingga akhirnya ia bisa melihat jelas wajah pria yang berada di dekatnya. Sebenarnya dari tempat duduknya dan di mana laki-laki itu berdiri, Olivia bisa melihat wajahnya, namun kabur seperti cermin yang baru dibersihkan tapi belum dikeringkan. Baru saat inilah Olivia melihat wajah asli pria tampan yang berdiri di hadapannya ini adalah pria yang pernah bertemu dengannya di cafe tempat di mana Naura bekerja. Pria yang memiliki wajah tampan dengan pesona yang mampu memikat banyak perempuan. Olivia juga begitu, langsung menyukai wajah tampan ini sebelum pria itu mengeluarkan kata-kata narsis hingga membuat Olivia mengaburkan kembali ketampanan yang dimiliki oleh pria ini. "Pura-pura nggak kenal dengan saya? Apa ini menurut kamu cara paling jitu untuk menarik perhatian saya setelah kita berdua tidur bareng?" Olivia membelalakkan matanya ketika mendengar apa yang dikatakan oleh pria di hadapannya ini. Takut jika ada yang mendengarnya, Olivia mengedarkan pandangan ke sekitar kemudian segera berdiri hingga akhirnya ia bisa sejajar dengan pria ini namun tentunya ia masih harus sedikit mendongakkan kepala untuk menatap langsung wajah tampan dan bersih pria yang belum dikenal namanya ini. "Kamu yang tidur dengan aku malam itu?" Olivia bertanya dengan nada berbisik takut jika ada yang mendengar. "Kamu mau ngapain di sini? Jangan bilang kalau kamu mau minta bayar sewa hotel setengah? Heh, kamu dengar, aku nggak ada uang untuk bayar setengah dari sewa hotel yang kamu pesan sendiri. Kalau kamu merasa dirugikan, itu urusan kamu karena sok-sokan pilih hotel mahal buat tidur." Olivia langsung berkata secara terang-terangan. Merasa beruntung juga dia ternyata tidur dengan laki-laki tampan, bukan laki-laki tua yang membuatnya sedikit takut. Kalau tampan seperti ini juga tidak masalah, setidaknya tidak terlalu rugi. "Kamu kira saya semiskin itu sampai harus minta bayar sewa sama kamu juga? Saya di sini cuma mau mengingatkan kamu kalau kamu nggak berhak untuk minta tanggung jawab sama saya meskipun saya tahu ini adalah pertama kali untuk kamu. Jadi, kamu nggak usah berusaha untuk menarik perhatian saya." Davin berkata dengan penuh percaya diri menatap remeh pada Olivia yang membalas tatapannya dengan aneh. "Kamu gila, ya? Dari tadi pembahasan Aku nggak ada minta tanggung jawab sama kamu sama sekali." Olivia menatap aneh pada Davin. "Kalau aku memang minta tanggung jawab sama kamu, kayaknya kamu nggak mungkin aku tinggalkan begitu saja di kamar hotel. Jadi, kamu nggak usah kepedean mengira kalau aku ini bakalan minta tanggung jawab sama kamu. Kamu memang ganteng, tapi aku juga nggak bodoh-bodoh banget mau minta tanggung jawab sama laki-laki yang nggak aku kenal." Olivia berdecih sinis menatap Davin yang begitu penuh percaya diri. Dari pertama bertemu sampai hari ini sepertinya pria ini terlalu narsis dengan dirinya sendiri. "Trik apa yang kamu gunakan untuk menarik perhatian saya? Mau pura-pura jual mahal supaya saya tertarik sama kamu?" "Wah!" Olivia langsung tertawa remeh menatap Davin. "Aku nggak ada niat untuk meminta tanggung jawab sama kamu. Aku bahkan nggak tahu kamu kerja di mana, tinggal di mana, dan nama kamu aja aku nggak tahu. Sedangkan kamu terus yang menghampiri aku. Jangan bilang kalau kamu yang minta tanggung jawab sama aku?" Nah, tuduhan dibalikkan oleh Olivia membuat Davin segera menegakkan tubuhnya. "Nggak usah percaya diri dengan menganggap kalau saya mau minta tanggung jawab sama kamu," sinis Davin. "Saya cuma nggak mau kalau ada perempuan yang tiba-tiba datang dan minta tanggung jawab bahkan buat skandal jadi besar. Jangan sampai itu terjadi." "Nggak akan terjadi. Kalau aku mau minta tanggung jawab sama kamu sepertinya sudah aku lakukan dari 2 minggu yang lalu." Olivia mengibas tangannya. "Udahlah mendingan kamu pergi sana, anggap kita nggak pernah ketemu. Lagian kamu ini kalau takut aku minta tanggung jawab sama kamu, harusnya kamu pergi jauh-jauh dari aku bukannya datengin aku. Kalau kayak gini aku yang curiga kalau kamu sebenarnya naksir aku." "Kamu--"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN