"Semuanya, perkenalkan, ini adalah CEO baru kita yang menggantikan Pak Roland untuk sementara waktu, sementara Pak Roland sendiri sedang ditugaskan ke Polandia."
Suara pak Dirga terdengar dari mikrofon yang tersedia, memperkenalkan sosok pria yang berdiri teguh di sebelahnya yang akan menggantikan posisi Pak Roland untuk sementara waktu.
Saat ini mereka berada di lantai 19 tempat di mana Olivia berada. Sengaja Davin meminta pada Pak Dirga untuk memperkenalkan dirinya pada semua staf yang bekerja di perusahaan ini.
Setiap lantai sudah mereka datangi dan saat ini mereka sudah berada di lantai 19.
Olivia yang memiliki tubuh mungil bersembunyi di belakang tubuh Tania yang memang agak lebih tinggi darinya.
Olivia baru menyadari jika Davin adalah orang yang diceritakan oleh Tania beberapa waktu yang lalu. Davin juga merupakan CEO dari pusat perusahaan yang untuk sementara waktu menggantikan Pak Roland.
"Masa iya, sekelas bos besar maunya menggantikan posisi Pak Roland walaupun cuma untuk sementara waktu," gumam Olivia penuh curiga. Kacamata yang dikenakan olehnya kini diturunkannya sedikit untuk melihat kaki sampai ke pinggang dan kini menuju wajah Davin yang bisa dilihat olehnya. "Apa jangan-jangan dia datang ke sini sengaja untuk balas dendam karena aku ngomong aneh-aneh kemarin sama dia?"
Kalau tahu Davin adalah bosnya, mungkin Olivia tidak akan punya keberanian untuk mengatakan kata-kata buruk itu pada Davin. Masalahnya, Davin sendiri yang mencari gara-gara.
Baru juga diketahui oleh Olivia hari ini jika namanya adalah David Nugraha, pemilik perusahaan besar di mana salah satu perusahaannya merupakan anak cabang tempat di mana Olivia bekerja.
"Kalau aku dipecat bagaimana? Gaji di sini sudah lumayan besar untuk bisa hidup. Ah, kalau tahu dia bos aku, kayaknya lebih baik aku menghindar." Olivia panik sendiri.
"Perkenalkan, nama saya Davin Nugraha. Sementara saya akan menggantikan Pak Roland yang saat ini sedang bertugas di Polandia. Semoga rekan-rekan semua bisa bekerja sama agar kita bisa memajukan perusahaan anak cabang ini. Bonus untuk yang kerja giat dan lembur tentunya akan tetap dapat di akhir bulan."
Suara tepuk tangan gemuruh terdengar di lantai 19 tempat dimana mereka berada ketika mendengar apa yang dikatakan oleh CEO baru mereka.
Tepuk tangan dari orang-orang yang bersemangat untuk mendapatkan bonus juga lembur. Tidak heran jika banyak karyawan yang betah bekerja di perusahaan ini meskipun mereka harus bersusah payah terlebih dahulu untuk mendapatkan bonus.
Termasuk Olivia yang juga sering ikut lembur agar bisa mencukupi kebutuhannya karena setengah dari gaji yang ia terima dikirim ke kampung halamannya tempat di mana nenek dan juga adik laki-lakinya berada.
Tatapan Davin kemudian tertuju pada Olivia yang hanya terlihat rambut dan juga bahunya sedikit, kemudian pria itu tersenyum miring.
Davin merasa jika Olivia pasti akan segera menghampirinya dan berusaha untuk menggodanya agar bisa dekat dengannya setelah tahu jika Davin adalah seorang CEO sekaligus cucu dari pemilik perusahaan ini.
"Kamu lihat saja nanti, pasti kamu bakalan datang menghampiri aku dan minta tanggung jawab padaku," kata Davin dengan penuh percaya diri.
Pria itu kemudian segera membubarkan barisan dan menuju lantai 20 untuk memperkenalkan dirinya lagi. Meskipun lelah, tidak masalah bagi Davin karena memang sengaja ia lakukan untuk menunjukkan kekuasaan dan pesonanya sendiri pada Olivia.
"Sebenarnya bos nggak perlu melakukan hal ini. Cukup panggil saja Olivia ke ruangan bos, nanti juga bakalan ketemu," kata Samuel pada Davin.
Saat ini mereka sudah menyelesaikan tugas memperkenalkan diri dan bersiap untuk kembali ke ruang CEO.
Perkataan Samuel spontan membuat Davin melirik dingin pada sekretarisnya itu.
"Menurut kamu saya ini sengaja memperkenalkan diri dari lantai ke lantai untuk menunjukkan diri saya pada perempuan bernama Olivia itu?" Davin mendengus sinis. Sungguh tidak terima dengan tebakan Samuel.
"Bukannya gitu?" Samuel menyahut dengan suaranya yang lirih. "Soalnya bos jangankan untuk memperkenalkan diri dari lantai satu ke lantai yang lain, di perusahaan utama aja bos jarang muncul di perusahaan. Kalaupun muncul lewat basemen dan lift khusus."
Samuel hafal sekali dengan kebiasaan bosnya ini. Tidak pernah menampakan diri di depan karyawan saat berada di perusahaan pusat. Jadi, ketika sengaja datang dari lantai satu ke lantai yang lain untuk memperkenalkan diri yang sebenarnya tidak perlu dilakukan mengingat dia adalah bos besarnya, Samuel juga bisa menebak jika ini dilakukan karena adanya sosok Olivia yang sudah membuat Davin agak uring-uringan akhir-akhir ini.
"Nggak usah sok tahu. Siapa juga yang mau dikenal sama perempuan itu. Kamu lihat saja nanti, pasti dia bakalan datang untuk menggoda saya. Hmph, nggak akan mempan kalau saya digoda sama perempuan."
Seperti biasa Davin membalas dengan penuh percaya diri, membuat Samuel yang berada di sebelahnya mengangkat bahunya.
Samuel memiliki mata yang normal dan dapat melihat jika Olivia sama sekali tidak tertarik dengan bosnya ini. Bisa dikatakan Olivia bahkan tidak terlalu mengenal bosnya, namun perkataan-perkataan yang dilontarkan oleh bosnya seolah-olah Olivia yang sangat berharap. Menurutnya, bosnya terlalu narsis dan terlalu percaya diri.
Seharian berada di kantor sampai akhirnya Davin memutuskan untuk pulang. Ada Samuel yang selalu mengikutinya dan duduk di samping sopir. Sementara dirinya sendiri duduk di belakang dengan tangan terlipat di d**a.
"Bos, itu sepertinya Olivia. Bos nggak mau menawarkan tumpangan?" Samuel memutar tubuhnya sedikit menatap pada bosnya itu sambil menunjuk pada Olivia yang kini duduk di halte menunggu bis datang.
Beruntungnya perusahaan mereka berada di pinggir jalan sehingga bagi karyawan yang tidak membawa kendaraan bisa menyeberang jalan dan menunggu bis yang akan membawa mereka ke tempat tujuan.
Davin langsung menatap ke arah tempat di mana Olivia berada. Perempuan cantik itu duduk sendiri di halte sambil memainkan ponselnya.
"Kamu mau mendudukkan dia di mana? Di atap mobil?" Davin menatap Samuel. "Nggak usah tawarin dia. Saya ini bosnya di sini, nggak mungkin saya mau menawarkan karyawan biasa untuk duduk di sebelah saya."
Samuel mengangkat bahunya sambil menganggukkan kepala kemudian memposisikan duduknya kembali untuk menyamankannya.
Mobil hampir saja mendekati halte, tiba-tiba mulut Davin terbuka. "Berhenti."
Decitan ban langsung terdengar ketika suara Davin terangkat untuk meminta mobil berhenti.
"Bos?" Sopir bernama Danu itu menolehkan kepala menatap bosnya begitu juga dengan Samuel.
Sementara pria itu sendiri menurunkan kaca mobil menatap ke arah Olivia yang kini juga menatap ke arahnya.
Olivia mengerut keningnya. Mau mengeluarkan kacamata rasanya malas, namun ia tidak melihat dengan jelas siapa yang berada di dalam mobil dan sedang membuka kaca jendela itu.
"Kamu butuh tumpangan?" Samuel bertanya karena Davin hanya membuka kaca jendela tanpa mengatakan apa-apa pada Olivia.
Olivia menatap ke arah samping kemudi kemudian menggelengkan kepalanya. Takut jika orang yang menawarinya adalah orang jahat, tentu Olivia langsung membuat alasan.
"Saya sudah mau dijemput sama kakek saya. Beliau lagi dalam perjalanan kemari." Perempuan itu juga mengangkat teleponnya di hadapan pria yang duduk di samping kemudi.
Ada orangnya namun wajahnya tidak terlihat dengan jelas, jadi Olivia tidak tahu jika yang menawarinya adalah asisten sekaligus sekretaris dari CEO baru di perusahaan mereka. Namun, jika gadis itu mengenakan kacamata mungkin dia akan melihat dan mengenalinya sebagai Samuel.
"Langsung jalan," titah Davin. Pria itu segera menutup kembali kaca jendelanya begitu juga dengan Samuel dengan kendaraan mereka yang sudah melaju pergi meninggalkan Olivia sendiri di halte.
"Ciri-ciri perempuan nggak tahu terima kasih. Sudah diberi tumpangan, tapi ditolak." Davin berkata dengan mulutnya miring ke samping juga raut wajahnya yang terlihat kesal akan penolakan yang diberikan oleh Olivia padanya.
Sementara mereka yang di dalam mobil tidak tahu saja jika Olivia mengalami rabun jauh dan tidak bisa melihat orang dengan jelas. Jadi, tanpa kacamata yang terpasang, perempuan cantik itu hanya bisa melihat siluet tubuh manusia tanpa wajah.