Kata-kata Shaka terus terngiang di dalam benaknya hingga malam hari menyisakan beribu spekulasi besar.
Kalila terduduk di sofa, layar televisi dinyalakan yang merupakan satu-satunya sumber pencahayaan. Melamun sambil menunggu kepulangan anak tirinya yang tak ada kabar sejak peristiwa tadi pagi.
Pada menjelang tengah malam, barulah suara motor terdengar memasuki pekarangan. Perlu setidaknya dua menit bagi Rangga berjalan memasuki rumah dengan langkahnya yang gontai. Remaja itu masih mengenakan seragam sekolah yang ditutupi jaket kulit berwarna hitam.
“Baru pulang, Rangga?” Kalila membuka suaranya sekadar berbasa-basi.
Rangga menghentikan langkahnya. Tampak terkejut sesaat.
“Jangan sekarang. Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu,” ujarnya acuh dan hendak beranjak.
Kalila langsung berdiri dan membalikkan badannya. Kakinya bergerak menuju saklar dan seketika lampu menjadi terang benderang.
Rangga sedikit mengerang dan menutup matanya dengan tangan kanannya yang terluka.
“Apa yang terjadi dengan tanganmu?!” Mata Kalila terbelalak dan beringsut meraih tangan Rangga.
Tangan kanannya benar-benar terluka dan menyisakan bekas darah yang mengering dan lebam pada area di sekitarnya.
“Kamu berkelahi?” Kalila sontak memeriksa wajah Rangga yang juga tampak lebam pada sudut bibir dan pelipis.
“Ini bukan urusanmu.” Rangga menepis tangan Kalila dan melangkah mundur.
“Lukamu harus diobati dulu.”
“Nggak usah. Nanti juga sembuh sendiri.”
Disaat Rangga sudah ingin melangkah pergi, Kalila mencekal tangannya dan memaksanya untuk duduk di sofa.
“Kalau dibiarkan nanti bisa infeksi. Tunggu disini, palingan ngobatinnya nggak sampai lima menit.”
Rangga sudah ingin memprotes tapi Kalila sudah pergi dari hadapannya. Wanita itu membuka salah satu laci di samping televisi dan mengeluarkan satu kotak P3K dari dalamnya. Rangga mengerutkan kening, tak mengingat jika mereka menyimpan kotak perlengkapan seperti itu di rumahnya.
Dengan cekatan Kalila meraih tangan Rangga yang terluka, membersihkan lukanya dan perlahan mengolesinya dengan obat merah yang pada akhirnya sanggup membuat pria itu meringis pelan.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” gumam Kalila pelan tanpa menatap mata Rangga.
“Menyelesaikan masalahku.”
“Dengan berkelahi?”
“Lebih tepatnya aku yang menghajarnya habis-habisan.”
Sontak saja Kalila mendongak dan menatapnya dengan sorot mata ngeri.
“Ini bukan yang pertama kali kan?”
Rangga hanya mengendikkan kedua bahunya acuh tak acuh. “Aku ditantang maka dengan senang hati aku menerimanya.”
“Dasar anak remaja! Tidak semua hal harus kamu ladeni. Kalau tidak, kamu yang akan kena masalah. Seberapa parah lukanya?”
“Seharusnya tidak sampai membuatnya di rawat di rumah sakit.”
Kalila memejamkan matanya. Tak sanggup membayangkan sebesar apa masalah yang akan ditimbulkannya.
“Rangga, kamu dalam masalah besar.”
“Aku tahu. Dan itu sudah biasa kan,” jawabnya terlalu santai.
Kalila hanya bisa menghela napas berat. “Lalu apa yang dikatakan guru baru itu saat kamu berada di ruangannya?”
“Bukan sesuatu yang besar. Dia hanya bisa memperingatkanku agar tidak salah langkah.”
“Dia melepaskanmu?”
Rangga mengangguk. “Harusnya. Dia pasti sudah mendapat perintah dari kepala sekolah.”
Diam-diam Kalila menghembuskan napas lega selagi ia kembali menunduk. Tangannya meraih plester untuk menutupi beberapa luka di punggung tangan Rangga.
“Kenapa? Apa kamu khawatir kalau dia akan memanggil Papa?”
“Bisa jadi. Kalau sampai itu terjadi, berarti masalahnya sudah besar kan? Mengingat saat ini pun ayahmu sedang sibuk-sibuknya.”
“Bukan karena kamu takut kalau orang akan tahu?”
Kalila memutarkan bola matanya. “Orang akan tahu kalau ada yang membocorkannya. Aku yakin ayahmu tidak akan melakukan itu, begitu juga kepala sekolah. Tapi kalau kamu ….”
“Jadi kamu menantangku?” Rangga menaikkan sebelah alisnya.
“Maka kamu akan berhadapan dengan ayahmu,” jawab Kalila tegas namun bisa terdengar santai.
Setelah langkah terakhir perawatan Rangga selesai, Kalila dengan sigap berdiri dan merapikan kembali kotak P3K seperti semula lalu beranjak pergi.
***
Keesokan harinya, saat Kalila sudah siap dengan mengenakan seragam perawatnya. Ia hanya terpaku di depan motor matic yang terparkir di garasi rumah Irsyad Affandi.
Jika sebelumnya ia selalu bersemangat untuk datang ke sekolah untuk bekerja, meski ada gangguan dari anak tirinya, tapi kali ini situasinya jelas sudah berbeda.
Mantan kekasihnya sekaligus cinta pertamanya yang kandas dengan tidak baik-baik.
Lalu kini, mereka dipertemukan lagi dan lucunya bekerja di lingkungan pekerjaan yang sama, dan itu artinya mereka akan lebih sering bertemu kedepannya.
“Dia adalah guru sementara aku adalah hanyalah perawat di sekolah. Pekerjaan kami tidak bersinggungan langsung. Harusnya kami tidak akan sering-sering bertemu, kan?” tanya Kalila menyakinkan dirinya sendiri.
Sekaligus menjadi mantra untuk menenangkan dirinya.
Sekolah pada hari itu berlangsung seperti biasa, tidak ada lagi yang membuat keributan dan juga berkat kehadiran counselor baru bernama Shakawira Adhitama membuat para kaum hawa agaknya menjadi teralihkan perhatiannya pada sosok pria tampan yang menjadi guru mereka.
Namun, hanya ada satu orang yang tak terusik. Dialah Rangga Affandi, yang sejak kedatangannya terus berada di UKS sampai jam menuju pulang.
“Mau sampai kapan kamu berada di UKS terus dan meninggalkan jam pelajaran?” tanya Kalila setengah jengkel karena melihat sosok Rangga yang menempatkan dirinya di ranjang UKS yang paling dekat dengan mejanya.
“Apakah aku sudah selama itu?” sahut pria itu santai sembari melirik jam pada pergelangan tangan kirinya.
“Ya. Hanya kamu yang ada disini. Cepat sana kembali ke kelas. Sebelum ada yang mencari-carimu.”
“Siapa?”
“Itu … kalau tidak salah namanya Olivia.”
Rangga mengerang lalu berbalik badan memunggungi Kalila yang sedang berkaca pinggang. “Dia tidak akan menggangguku selama beberapa hari kedepan.”
“Apa maksudnya?” Kalila mengerutkan keningnya heran.
Namun, Rangga tak menjawab. Ia hanya mengibaskan sebelah tangannya. Mengusirnya, lebih tepatnya.
“Benar-benar remaja tanggung susah dibilangin,” gumamnya jengkel dan berbalik badan.
Bertepatan dengan itu pintu UKS terbuka lebar dan sosok yang sedang dihindarinya pun berdiri di depan pintu.
Seketika Kalila merasa seperti deja vu, ia teringat bagaimana sosok itu muncul persis seperti saat ini.
Shaka, berdiri di ambang pintu. Mata mereka bersitatap sesaat sebelum akhirnya pria itu memalingkan wajah.
“Apa dia memang sakit atau mengada-ngada?” tanya Shaka sambil menunjuk Rangga dengan tatapan matanya.
“Saya sakit, Pak.” Rangga menjawab singkat dan melambaikan tangannya yang sudah diperban kembali oleh Kalila sebelumnya.
Shaka menyipitkan matanya. “Kamu berkelahi?”
“Tidak.”
“Jangan berbohong.”
“Kalau Bapak tidak percaya juga nggak apa-apa kok. Saya juga nggak minta Bapak percaya.”
Kalila yang berada di tengah-tengah mereka berdua hanya bisa menahan napas melihat ketegangan berangsur-angsur naik.
“Ternyata kamu membolos hanya untuk meladeni permintaannya.”
“Saya hanya berusaha menyelesaikan masalah saya di luar sekolah.”
“Dengar, Rangga. Saya tahu siapa kamu tapi bukan berarti saya bisa bersikap lembek. Sekolah itu punya aturan, dan kamu harus menuruti itu selagi kamu masih menjadi siswa disini.”
Rangga pun tak merespon. Tapi sorot matanya memancarkan kilat amarah yang berusaha dipendam.
“Sekarang, kembalilah ke kelas. Sekarang.” Shaka memberi perintah tegas.
Ajaibnya, Rangga tak protes sedikitpun malah bangkit dari kasur dan melenggang pergi dari ruangan UKS.
Sepeninggal remaja itu, situasi kembali canggung. Terlebih hanya ada Shaka dan Kalila di ruangan. Kalila tak berani menatap, bahkan menelan ludah pun rasanya tak sanggup.
Sejurus kemudian, Shaka melangkah masuk. Kekhawatiran yang sama pun mulai menyergapnya.
“A-ada yang bisa aku bantu?”
“Jangan terlalu kaku, Kalila. Kita kan saling kenal.” Pria itu menyunggingkan senyum di tengah suaranya yang sinis.
Sementara Kalila hanya mengerjap mata. Heran akan perubahan sikap pria itu. Kemarin ia begitu dingin, kini ia terlihat jauh lebih santai.
“Lalu ada apa? Kamu ada keluhan kesehatan?” Kalila mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Kamu sudah menikah?” cetusnya to the point.
Mata Kalila sontak terbelalak, tak siap dengan pertanyaan mendadak yang dilontarkan oleh Shaka.
“Kenapa diam? Kamu sudah menikah?” cecarnya lagi.
Matanya menyipit dan perlahan melangkah mundur. Pria itu memiringkan kepala dan matanya mencari-cari benda berkilau yang biasanya disematkan perempuan di jari manisnya.
“Aku tak melihat cincin kawin. Jadi bisa kuanggap kamu belum menikah?”
“A-aku ….” lidahnya mendadak kelu. Namun suara hatinya sudah menjerit-jerit meminta pertolongan.
“Kalau begitu, aku minta nomormu.” Pria itu mengeluarkan ponsel dan menyerahkannya kepada Kalila.
“Apa?!”
***