Bab 9: Sedikit Paksaan

1082 Kata
Sudah setengah jam Kalila tampak mondar-mandir di kamarnya, tampak gelisah. Setelah Shaka berhasil mendapatkan nomornya, dia menghubunginya dan langsung mengutarakan keinginannya. Yaitu, bertemu atau lebih tepatnya menuntut penjelasan darinya. Sekuat tenaga Kalila berusaha untuk menolak, tapi pria itu lebih tetap pada keinginannya. Kalau kamu tidak bisa datang, aku akan terus mencari waktu sampai kita bisa bertemu. Kecuali … kalau kamu mau kita ngobrol soal ini di sekolah. – Shaka Kalila menggigit bibir bawahnya melihat balasan langsung dari Shaka. “Dia benar-benar bersikeras,” gumamnya pelan seraya menghela napas. Hari ini adalah dimana mereka seharusnya bertemu. Kalila tidak punya pilihan untuk menolak karena ancaman dari pria itu terdengar lebih menyeramkan. Ia tak ingin orang lain tahu bahwa dirinya dan Shaka pernah menjadi sepasang kekasih yang dimabuk cinta, bertahun-tahun yang lalu. Tapi masalahnya adalah Shaka belum tahu yang sebenarnya. Perihal statusnya yang kini sudah menjadi istri orang. Tapi permasalahannya adalah, apakah pantas dirinya yang sudah menikah masih menemui seorang pria yang notabene-nya adalah mantan pacarnya sendiri? Meski pernikahan ini rahasia, tapi pernikahan itu tetaplah sah. Suka tidak suka, Kalila telah menyandang istri dari seorang Irsyad Affandi. Dan sudah tugasnyalah untuk menjaga marwah suaminya. “Tapi dia juga harus tahu, apa yang sudah terjadi.” Kalila bergumam pelan dengan raut wajah sendu. Ini adalah kesempatan, pikirnya kemudian. “Selama ini, Pak Irsyad tidak pernah ada di rumah. Maka aku bisa menyelinap keluar sebentar untuk bertemu Shaka dan mengakhiri semuanya.” Kalila bergumam sambil sesekali menganggukkan kepalanya merasakan bahwa rencananya cukup kuat. Meski tak bisa dipungkiri bahwa jantungnya sudah cukup berdebar memikirkan bagaimana reaksi pria itu. Kalila pun menarik napas panjang, membulatkan tekadnya. Ia sudah berpakaian cukup rapi dengan mengenakan kaos lengan pendek dengan dilapisi cardigan knit dan celana linen panjang. Dengan gerakan cepat, ia menyambar totebag dan ponselnya yang sedari tadi tergeletak di atas kasur. “Aku harus menyelesaikan semua ini, sebelum semuanya terlambat,” gumamnya lirih seraya melirik jendela yang membiaskan sinar matahari tengah hari. Namun, pintu kamar itu sudah lebih dulu terbuka diikuti sosok Irsyad yang sudah berdiri di ambang pintu kamar dan menatapnya dengan sorot mata penuh tanda tanya. Sementara Kalila seperti sedang melihat hantu di siang bolong. “Kalila? Kenapa terkejut begitu?” “Eh Mas—” Kalila menggeleng pelan. “Pak. Sudah pulang? Bukannya harusnya lusa?” “Semuanya sudah selesai kemarin, dan karena tidak ada lagi yang dikerjakan, saya langsung terbang pulang dengan jadwal paling pagi.” Irsyad melangkah masuk sembari menyeret kopernya. “Biar saya saja, Pak.” Dengan sigap Kalila meraih pegangan koper bermaksud untuk mengambil alih. Irsyad tampak tak keberatan, ia pun melangkah menuju armchair yang terletak di sudut kamar tampak cukup kelelahan. “Kamu mau pergi?” tanya Irsyad dengan sorot mata sudah menatapnya. “Oh, iya. Tadinya saya berencana untuk pergi, tapi tidak jadi.” “Sekarang tidak jadi?” Irsyad menelengkan kepalanya. “Karena saya sudah pulang?” “Bukan. Bukan begitu. Saya tadinya memang ada keperluan di luar, hanya saja sedari awal sudah ragu. Jadi lebih baik tidak jadi.” Irsyad mengerutkan keningnya. “Memangnya mau kemana?” Detik itu juga Kalila merasa kesulitan menelan. Tenggorokannya mendadak kering dan lidahnya pun ikutan kelu. “Ke minimarket terdekat, ada yang harus saya beli.” Kalila menjawab pelan memutar otaknya untuk mencari alasan. Ia tidak mungkin kan mengatakan akan bahwa ia berencana bertemu cinta pertamanya? “Kalila, kamu tahu kan, kalau saya tidak pernah melarang kamu punya kegiatan di luar rumah. Selama … kamu tahu ada batasan yang sudah disepakati.” Dengan cepat Kalila mengangguk. Perkataan Irsyad terdengar seperti sebuah jawaban. “Kalau begitu, saya keluar dulu untuk menyiapkan makan siang bersama Mbok Asih.” Kalila pamit keluar tanpa menunggu jawaban dari Irsyad. Benaknya sudah dipenuhi berbagai alasan yang sedang ia pertimbangkan untuk bagaimana menolak ajakan pertemuannya dengan Shaka yang pasti sudah menunggunya di tempat yang sudah dijanjikan. Maaf aku tak bisa datang, aku ada urusan mendadak. – Kalila *** “Ternyata kamu tidak datang.” Kalila mendongak sedikit terkejut dan mendapati Shaka sudah berada di ambang pintu UKS pada siang hari itu dengan sorot mata memandangnya tajam dan tangan yang sudah dilipat di d**a. “Aku sudah kirim pesan kalau aku tidak bisa datang, kan?” “Dengan alasan seperti itu?” Shaka mengerutkan keningnya. “Apa yang salah?” Bukannya menjawab, Shaka malah melangkah masuk mendekati Kalila yang tengah berdiri terpaku menahan napas. “Urusan mendadak, Kal? Entah kenapa itu terdengar seperti alasan yang mengada-ngada? ” tanyanya dengan nada kesinisan. “Aku memang tak bisa datang.” Shaka memicingkan matanya tak percaya. “Kamu yakin? Bukan karena sedang menghindariku?” “Aku sudah mengatakan yang sebenarnya, tapi kalau kamu nggak percaya, itu urusanmu.” Kalila memalingkan wajahnya. “Kalila, kamu tahu kan kalau kamu tidak pandai berbohong.” Nada suara Shaka berubah menjadi lebih rendah. Wanita itu bergeming, diam-diam membenarkan ucapan Shaka. Urusan mendadak hanyalah alasannya agar bisa tidak bertemunya. Sejujurnya, hanya itu yang terpikirkan olehnya. Namun, Kalila hanya menggeleng pelan. “Waktu sudah berlalu lama setelah kita berpisah, Shaka. Aku telah berubah banyak.” “Tidak semudah itu merubah suatu sifat, Kal. Kamu lupa kalau kita pernah bersama cukup lama?” Kalila kembali memalingkan wajahnya dan kini berpura-pura sibuk membereskan meja kerja yang berserakan pulpen dan buku catatan. “Atau sebenarnya ada yang kamu disembunyikan?” Kalila mengerjap. Tak siap dengan pertanyaan yang dilontarkan Shaka lengkap dengan sorot mata penuh selidik itu. Keduanya saling tatap cukup lama, membiarkan keheningan mengambil alih suasana. “Tidak ada,” jawabnya singkat. Belum, lanjut Kalila dalam hati. Namun agaknya Shaka tidak mudah langsung percaya begitu saja. Lama ia menatap Kalila yang tampak menyibukkan diri. Dan sejurus kemudian ia melangkah masuk tanpa menutup pintu UKS. “Fine, akan aku anggap kalau kamu jujur. Memangnya urusan apa sampai kamu harus cancel janji kita?” “Aku tidak pernah bilang janji. Aku hanya mengusahakan,” gumam Kalila pelan. Mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Kalila, wanita yang pernah mengisi hari-harinya, membuat Shaka berjengit. “Seriously, Kalila? Kamu dengan enteng ngomong begitu?” “Coba ingat-ingat lagi, Shaka. Sejak awal aku kan memang keberatan.” Kalila menghela napas panjang. Shaka melangkah semakin dekat dengan sorot mata tajam dan rahang yang mengeras. “Shaka … kamu mau apa?” “Kalau kamu nggak bisa bertemu di luar untuk membicarakan ini, maka pilihannya adalah disini.” Pria itu berjalan semakin dekat, mempersempit jarak diantara mereka. Kalila tahu, seharusnya ia menghindar tapi ia tubuhnya justru terpaku di tempat. Degup jantungnya sudah bergemuruh hebat dan ia pun menahan napas. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN