Bab 10: Sinyal Peringatan

1192 Kata
Shaka tidak menghentikan langkahnya walaupun jarak mereka semakin dekat. Alarm dalam benak Kalila sudah berbunyi nyaring sebagai tanda peringatan, tapi tubuhnya bersikap sebaliknya. Kalila, mundur! Kamu harus ingat posisimu. Kamu sudah punya suami dan tak pantas melakukan ini! “S-shaka! Apa yang mau kamu lakukan?” Suaranya terdengar parau. “Berbicara denganmu, tentu saja.” Sekuat tenaga Kalila menggeleng pelan dan melangkah mundur hingga tubuhnya membentur dinding. “Ini di sekolah, Shaka. Jangan membahas urusan pribadi.” “Aku sudah memberikan opsi itu, Kalila. Menurutmu kenapa aku bersikeras untuk mengajakmu bertemu di luar sekolah?” Nada suara pria itu menjadi lebih tinggi. “Jangan keras-keras, nanti anak-anak bisa dengar.” “Tidak ada yang keluar di tengah waktu ujian.” “Jangan lupakan kalau mereka bisa saja dipersilahkan untuk ke toilet atau hanya sekadar lewat?” sergah Kalila setengah panik. Setiap lantai memiliki toilet pada ujung lorong, di lantai bawah, tempat kelas satu berada harus melewati UKS terlebih dahulu sebelum akhirnya mencapai toilet yang berada di ujungnya. Dan itu memungkinkan siapa saja yang melewatinya akan bisa mendengar percakapan mereka bahkan melihat interaksi mereka berdua, terlebih ketika pada saat pintu UKS tidak tertutup. Mendengar itu, Shaka menutup mulutnya rapat. Sorot matanya masih memandangi Kalila dengan perasaan yang sudah campur aduk. “Kenapa? Kenapa kamu terus berkelit?” “Aku tidak berkelit, Shaka. Aku mengatakan yang sebenarnya.” Kalila mendesah pelan. Diliriknya Shaka dengan hati-hati. Pria itu masih terpaku di tempatnya, wajahnya tampak menunjukkan segala bentuk emosi yang sedang pria itu berusaha pendam. Kalila menyadari itu, ia tahu karena begitu mengenalnya. “Kenapa kamu bersikeras ingin penjelasan?” “Karena aku berhak tahu alasan yang sebenarnya kenapa aku ditinggalkan begitu saja.” “Kamu tahu, kalau kamu bisa menebak.” Kalila mengalihkan pandangannya. Menatap sudut objek acak di salah satu sudut ruangan. “Aku nggak ingin main tebak-tebakan, Kal. Aku ingin penjelasan.” Kalila menoleh dan kini mata mereka saling bersitatap dalam waktu yang cukup lama. Membiarkan keheningan mulai mengambil alih suasana. Saat Shaka sudah hendak membuka kembali mulutnya untuk bersuara, hal yang ditakutkan oleh Kalila agaknya terjadi, terdengar langkah kaki yang semakin mendekat. Sementara pria itu masih bergeming di tempat seolah tak mengkhawatirkan apapun. “Kamu masih akan terus disini?” tanya Kalila. “Kita tak melakukan apapun, kenapa harus ketakutan?” Benar, batin Kalila. Tapi benaknya sudah berkelana kemana-mana. Membayangkan hal buruk terjadi. Bagaimana kalau Rangga melihat interaksi mereka berdua? Bagaimana jika Shaka mengetahui statusnya? “Lagi pula, aku masih menunggu jawabanmu,” tukas Shaka. Mata Kalila terbelalak. “Kamu benar-benar bersikeras ya?” “Ya. Dan kali ini aku tak akan melepaskanmu begitu saja dengan mudah.” Bagaimana ini? Kalila menjerit dalam hatinya. Sementara langkah kaki itu kian mendekat hingga sosoknya pun akhirnya muncul dari balik punggung Shaka yang masih berdiri menghalanginya. Seketika wajah Kalila berubah pucat. “Suster Kalila,” panggil Rangga sembari memasuki ruangan UKS. Sorot matanya memandangi dirinya dan Shaka dengan pandangan penuh tanda tanya. Shaka menoleh santai seraya melangkah mundur. Tak terlihat adanya rasa canggung dari pria itu. “Rangga? Ngapain kamu ada disini?” “Mau istirahat sebentar, Pak.” “Bukannya ini masih waktunya ujian?” Shaka mengangkat pergelangan tangan kirinya, melirik jam tangan yang tersemat di sana. “Sudah selesai.” “Kalau sudah selesai, harusnya kamu tetap berada di kelas. Bukannya berkeliaran.” “Saya capek. Kelelahan habis menjawab soal. Jadi boleh dong istirahat di UKS sebentar?” Rangga bertanya balik tanpa ketakutan. Ya Tuhan, Rangga! Bisa-bisanya sesantai itu ngomong di depan gurunya? Hati Kalila langsung mencelos antara keheranan dengan sikap anak tirinya sekaligus juga ketakutan akan reaksi Shaka. Shaka terdiam. Matanya menatap Rangga dengan tajam dan penilaian. “Setelah ujian ini, terpotong jam istirahat. Masih ada waktu untuk ikut ujian selanjutnya,” tutur Rangga kemudian. “Baiklah, pastikan kamu ikut ujian selanjutnya.” Rangga menjawab hanya dengan anggukan ringan dan berjalan melewati keduanya lalu merebahkan tubuhnya di salah satu ranjang UKS. “Kita masih belum selesai,” gumam Shaka pelan, setengah berbisik ke arah Kalila. “Aku yang akan waktu pertemuan kita selanjutnya.” Kalila menyaksikan Shaka berlalu setelah menyetujui kesepakatan di antara mereka. Mungkin sudah waktunya Shaka mengetahui yang sebenarnya, dan Kalila sudah memantapkan niatnya. *** Namun, mencari waktu untuk bisa keluar rumah belakangan ini cukup sulit. Karena sudah hampir seminggu Irsyad berada di rumah dan tampaknya tak ada rencana untuk melakukan perjalanan bisnis. “Saya rasa perlu berada di rumah selama pekan ujian Rangga,” ungkap Irsyad pada suatu malam. Di lain pihak, Shaka masih menerornya setelah ia menjanjikan akan mengatur ulang pertemuan. “Kamu tidak lupa janji yang kamu ucapkan sendiri kan?” cecar Shaka lagi sore hari itu di hari terakhir pekan ujian. “Bersabarlah, ada hal-hal yang harus aku pastikan dulu.” “Apa tuh?” Pria itu menyilangkan tangan di depan dadanya. Rasa penasaran sudah mulai memenuhinya. Kalila menatap pria itu dengan sorot mata dalam. “Nanti, nanti kamu akan tahu semuanya.” Dan Shaka pun membalas tatapan Kalila dengan pandangannya yang kelam dan dalam. Seolah ia ingin wanita itu tahu perasaan apa yang sedang berkecamuk di dalam hatinya setelah mereka bertemu kembali. “Baiklah. Aku akan tunggu.” Pria itu pun berbalik badan dan meninggalkan Kalila di ruangannya diiringi tatapannya yang tak lepas hingga ia menghilang dari pandangan seutuhnya. Setelah para murid sudah menyelesaikan hari terakhir ujian tengah semester, beberapa diantara mereka langsung pulang, beberapa sisanya masih bertahan di sekolah karena terjebak hujan yang cukup deras. Seharusnya Kalila juga, tapi ia malah dikejutkan dengan sebuah pesan dari Irsyad. Kalila, ke parkiran sekolah ya. – Pak Irsyad “Ada apa?” tanya Kalila dengan kening sudah berkerut dalam. Namun, ia juga tetap melangkahkan kakinya dan pandangannya pun tetap waspada memperhatikan sekitarnya. Mobil sedan hitam itu terparkir di salah satu sudut parkiran paling ujung yang terhubung dengan kanopi untuk pejalan kaki. Saat Kalila sudah semakin dekat, seorang pria paruh baya sudah langsung membukakan pintu penumpang bagian belakang untuk dirinya. “Loh, Pak? Ada apa?” tanya Kalila pada Pak Amir, Sopir Keluarga dengan tatapan heran. “Bapak di dalam, Bu.” Sontak saja Kalila menoleh dan tak kalah terkejut melihat sosok Irsyad duduk di baris kedua mobil mengenakan setelan kemeja santai dengan iPad yang masih bertengger di tangannya. Dan yang lebih mengejutkannya lagi, ada Rangga yang duduk di kursi depan. Ah … dia ingat bahwa Rangga tadi pagi tak berangkat menggunakan motornya seperti biasa. “Masuklah, kita pulang bersama.” “Ta-tapi, bukannya kita tidak boleh terlihat bersama jika di sekolah?” “Tidak ada yang melihat. Pak Amir sudah memastikan bahwa kita parkir di sudut yang jarang dilalui para siswa,” jawab Irsyad santai. “Tapi, bagaimana dengan motor saya?” “Gampanglah itu. Saya bisa suruh orang untuk mengambilnya. Lagipula, sekarang hujan, masa kamu mau hujan-hujanan?” Kalila kembali mengerjap. Kebingungan. “Masuklah, sebelum yang lain curiga kenapa kamu berdiri lama di samping mobil seperti itu.” Mendengar itu, Kalila tak lagi bisa membantah dan memilih memasuki mobil itu setelah matanya ikut memastikan tak ada yang melihat keberadaannya. Namun, tanda disadarinya sejak tadi ada sepasang mata yang sudah memperhatikan Kalila diam-diam. Dan kini, sorot mata itu berkilat tajam dan tangan yang sudah dikepal kuat. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN