bc

Air Susuku Harga Kebangkrutan Suamiku

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
dark
love-triangle
family
second chance
friends to lovers
heir/heiress
drama
sweet
lighthearted
serious
city
office/work place
addiction
like
intro-logo
Uraian

Setelah lima bulan menjaga kehidupan kecil yang begitu ia cintai, dunia Vivian hancur ketika bayinya meninggal. Luka itu bahkan belum sempat sembuh, sementara tubuhnya masih terus menghasilkan air s**u untuk anak yang sudah tidak ada lagi. Namun kesedihan Vivian tidak berarti apa-apa bagi suaminya. Perusahaan Rayan, berada di ambang kebangkrutan. Demi mendapatkan suntikan dana dari sahabatnya yang kaya, ia membuat keputusan yang menghancurkan harga diri Vivian: menawarkan istrinya menjadi ibu s**u bagi bayi sahabatnya yang alergi s**u formula. Bagi suaminya, itu hanyalah sebuah kesepakatan bisnis. Namun bagi Vivian, setiap tetes air s**u yang ia berikan kepada bayi itu seperti membuka kembali luka karena kehilangan anaknya sendiri. Di tengah penderitaan dan penghinaan itu, Vivian perlahan menemukan sesuatu yang tidak pernah ia duga—sebuah ikatan yang mengubah takdirnya, sekaligus membuka rahasia besar yang selama ini tersembunyi di balik pernikahannya. "Mari kita saling memuaskan!" Arsen. "Mau aku temani sampai mana? Perceraian atau sampai kau bosan!" balas Vivian menantang dengan kakinya yang masih memakai heels berada di atas d**a Arsen. Dimatanya terpancar kilatan dendam yang membara.

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1
Lima Bulan yang Terlalu Singkat Rumah itu terlalu sunyi. Vivian duduk di tepi ranjang sambil memeluk baju bayi kecil berwarna biru yang sudah lama tidak dipakai. Tangannya gemetar, tetapi ia tidak mampu melepaskannya. Lima bulan. Hanya lima bulan Tuhan memberinya waktu untuk menjadi seorang ibu. Air matanya jatuh lagi tanpa suara. Sejak pagi ia sudah menangis berkali-kali sampai matanya terasa perih. Namun setiap kali mencoba berhenti, ingatan tentang anaknya kembali datang seperti gelombang yang menabrak d**a. Lemari bayi di sudut kamar masih terbuka. Botol s**u, selimut kecil, mainan berbunyi lembut—semuanya masih tersusun rapi seperti menunggu pemiliknya kembali. Namun bayi itu tidak akan pernah kembali. Vivian menunduk ketika rasa nyeri di dadanya kembali muncul. Bukan hanya karena hatinya yang hancur. Dadanya terasa penuh. Air s**u masih terus keluar. Tubuhnya belum mengerti bahwa anak yang seharusnya meminumnya sudah tidak ada. Vivian memejamkan mata sambil menggigit bibirnya. “Aku bahkan tidak sempat mengucapkan selamat tinggal…” bisiknya lirih. Tiba-tiba suara pintu kamar terbuka. Vivian tidak menoleh. Ia sudah tahu siapa yang masuk. Langkah kaki itu berat, tetapi tegas. Suaminya. “Vivian.” Suara pria itu terdengar datar. Tidak lembut. Tidak juga penuh empati. Vivian mengusap air matanya dengan cepat sebelum akhirnya menoleh. Di depan pintu berdiri seorang pria tinggi dengan jas abu-abu mahal. Pria itu adalah suaminya. Rayan Sudah satu minggu sejak pemakaman bayi mereka. Namun Vivian merasa suaminya tidak pernah benar-benar berduka. “Ada apa?” tanya Vivian pelan. Rayan berjalan masuk beberapa langkah. Tatapannya menyapu kamar bayi yang masih dipenuhi barang-barang kecil. “Masih seperti ini?” katanya. Nada suaranya membuat hati Vivian terasa ditusuk. “Dia anak kita,” jawab Vivian lirih. Rayan menghela napas seolah lelah dengan situasi itu. “Kita tidak bisa terus seperti ini.” Vivian menatapnya. Ada sesuatu yang aneh dalam cara suaminya berbicara malam ini. “Apa maksudmu?” Rayan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Tatapannya berubah serius. “Aku butuh kamu melakukan sesuatu.” Vivian mengerutkan kening. “Apa?” Beberapa detik Rayan terdiam, seolah sedang menimbang kata-kata. Kemudian ia berkata dengan tenang. “Sahabatku punya bayi yang alergi s**u formula.” Vivian berkedip bingung. “Apa hubungannya denganku?” Rayan menatap langsung ke arah dadanya, lalu kembali menatap wajah Vivian. “Kamu masih punya ASI.” Tubuh Vivian langsung membeku. “Apa?” “Bayinya butuh ibu susu.” Vivian merasa seolah tidak mendengar dengan benar. “Kamu… bercanda?” “Tidak.” Jawaban itu terlalu cepat. Jantung Vivian berdetak keras. “Kamu menyuruhku menyusui bayi orang lain?” suaranya bergetar. Rayan tetap tenang. “Hanya sementara.” Vivian berdiri dengan cepat. Tangannya masih menggenggam baju bayi kecil itu. “Anakku baru saja meninggal!” suaranya pecah. Namun Rayan tidak menunjukkan ekspresi apa pun. “Dan susumu masih ada,” katanya dingin. “Kalau tidak dipakai, itu hanya akan terbuang.” Kalimat itu terasa seperti tamparan keras. Air mata Vivian langsung jatuh. “Bagaimana kamu bisa mengatakan itu…?” Rayan berjalan mendekat. “Aku tidak mengatakan ini tanpa alasan.” Tatapannya berubah tajam. “Perusahaanku hampir bangkrut.” Vivian menatapnya dengan napas tersendat. “Apa hubungannya dengan… aku menyusui bayi itu?” Rayan menatapnya beberapa detik. Lalu ia mengucapkan kalimat yang membuat dunia Vivian runtuh untuk kedua kalinya. “Sahabatku akan menyuntikkan dana besar ke perusahaanku.” Vivian merasa kakinya lemas. “Dan sebagai gantinya,” lanjut Rayah tanpa emosi, “kamu akan menjadi ibu s**u bayinya.” Baju bayi kecil itu jatuh dari tangan Vivian. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa dirinya tidak lebih dari sebuah barang. “Aku rasa kau tidak punya banyak waktu untuk berpikir, karena ibumu juga butuh uang untuk kemoterapi,” kata Rayan lagi dengan suara datar. Kalimat itu jatuh seperti batu besar yang menghantam d**a Vivian. Vivian mendongkak perlahan. Matanya membesar, seolah tidak percaya bahwa kata-kata itu benar-benar keluar dari mulut suaminya sendiri. “Mas Rayan…” suaranya serak, hampir seperti bisikan. “Kamu… memakai ibuku untuk menekanku?” Rayan tidak menjawab. Tatapannya tetap dingin, bahkan nyaris tidak menunjukkan emosi sedikit pun. Vivian merasa tenggorokannya tercekat. Ia menatap pria di depannya itu lama. Pria yang dulu ia pilih menjadi suaminya. Pria yang dulu berjanji akan melindunginya. Namun sekarang… pria yang sama sedang memaksanya menjual sesuatu yang paling pribadi dari tubuhnya. Perlahan tangan Vivian bergerak ke dadanya. Dadanya masih terasa berat. Air s**u itu masih ada. Tubuhnya masih percaya bahwa bayinya masih hidup… bahwa sebentar lagi akan ada tangisan kecil yang meminta untuk disusui. Namun bayi itu sudah tidak ada. Dan sekarang… Suaminya ingin s**u itu diberikan kepada anak orang lain. Air mata Vivian akhirnya jatuh tanpa bisa ditahan. “Anakku baru saja meninggal…” bisiknya lirih. “Bahkan belum sebulan…” Rayan tetap diam. Tidak ada simpati. Tidak ada penyesalan. Vivian tertawa kecil, tetapi tawanya terdengar lebih seperti tangisan yang pecah. “Jadi sekarang… aku harus menyusui bayi orang lain demi menyelamatkan perusahaanmu?” Rayan menatapnya datar. “Anggap saja begitu.” Jawaban singkat itu terasa seperti pisau yang ditarik perlahan di luka yang belum sembuh. Vivian menutup matanya. Air mata terus mengalir. Dalam benaknya tiba-tiba muncul wajah kecil bayinya. Tangan mungil itu. Tangisan lembutnya. Cara bayi itu menggenggam jarinya dengan kuat seolah takut ditinggalkan. Dada Vivian terasa sesak. “Maafkan Mama…” bisiknya pelan, seolah berbicara kepada anaknya yang sudah tidak ada. Namun suara langkah Rayan kembali menariknya pada kenyataan yang lebih menyakitkan. “Besok,” kata Rayan tegas. Vivian membuka matanya perlahan. “Kita temui sahabatku itu.” Tidak ada ruang untuk menolak. Tidak ada ruang untuk memohon. Vivian berdiri di sana seperti seseorang yang baru saja kehilangan segalanya. Anaknya sudah pergi. Dan sekarang harga dirinya pun akan diambil.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
2.0M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
760.2K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.9M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
990.9K
bc

A Warrior's Second Chance

read
366.3K
bc

Not just, the Beta

read
351.8K
bc

The Broken Wolf

read
1.2M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook