Chapter 17

1419 Kata
"Kita mau ke mana?" Tanya Macy yang matanya masih tertutup oleh kain hitam. "Somewhere" Jawab Will seadanya. "Dari tadi kamu terus mengatakan itu. Ini sudah malam Will, aku lelah" Gerutu Macy. Sedangkan Will tak merespon gerutuan Macy. Setelah resepsi pernikahan mereka, Will segera menarik Macy menuju mobilnya lalu menutup mata Macy menggunakan kain hitam kemudian mengendarai mobilnya dengan kecepatan normal. Selama di perjalanan mulut Macy tak pernah diam menanyakan tujuan mereka. Namun Will selalu menjawab dengan seadanya saja. Setelah melalui perjalanan yang cukup panjang, mobil berhenti. Macy segera mengangkat kedua tangannya meraba sekitarnya meski ia masih berada di dalam mobil. Will keluar dari mobil membuat Macy meneriakkan namanya. "Will!" Teriak Macy. "Will kamu mau ke mana?" Tanya Macy mulai ketakutan. "I'm here My Queen" Ucap Will sembari membuka pintu dibagian penumpang di mana Macy berada. Will membantu Macy keluar dari mobil dengan memegang tangan dan menjaga kepala wanitanya agar tidak terbentur dengan bagian atas mobil. "Kita di mana?" Tanya Macy kembali ketika Will mulai mengajaknya berjalan entah ke mana. "Still waiting for that" Jawab Will. Langkah Will berhenti, begitu pula dengan Macy. "Here we go. Are you ready My Queen?" Tanya Will yang dibalas anggukan oleh Macy. Perlahan Will mulai membuka kain yang menutup mata Macy. Sedangkan Macy yang matanya baru terbuka, menyipit berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam pupil matanya. Tak lama matanya benar-benar terbuka lebar, terkejut melihat pemandangan yang berada di hadapannya. Sebuah mansion berdiri kokoh di tengah-tengah laut yang terbentang luas. Macy menatap Will seakan tak percaya. "Our homes. You, me, and our future children's" Ucap Will. Macy memandang lekat wajah Will, lebih tepatnya pada kedua netra pria itu. Ia tak tahu harus berkata apa. Ia merasa semua ini sangat berlebihan, mansion ini terlalu besar untuk mereka bahkan untuk jika mereka punya anak kelak. Di seberang jalan bahkan terdapat sebuah yacht. Tapi ia juga tak menyangkal bahwa ia menyukai tempat ini. Indah. Hembusan angin laut menerpa wajahnya. Macy lalu memeluk Will dengan erat dan menumpahkan air matanya di atas bahu pria itu. "Hei! Hei! Queen, why do you cry?" Tanya Will lembut sembari melepas pelukan Macy dan menghapus air mata di pipi Macy dengan ibu jarinya. "K, k, kenapa kamu m, melakukan ini? I, ini terlalu b, besar untuk k, kita. T, tapi aku juga s, suka tempat ini. I, ini sangat i, indah" Ucap Macy tersedu. Will tersenyum mendengar ucapan Macy yang ingin menolak tapi menyukainya. "I did this for us. And I think this place is not too big. Because we will make and have many children" Ucap Will. Macy yang mendengar ucapan Will segera menghentikan tangisnya, berganti dengan wajahnya yang merona. Ia memukul pundak prianya untuk mengalihkan debaran jantungnya yang berdetak cepat, mengingat malam ini adalah malam pertama mereka. “P, panggilanmu berubah lagi” Ucap Macy mencoba mengalihkan pembicaraan. “Tentu saja. Karena Princess hanya untuk panggilan putri kita kelak” Ujar Will. “Yakin sekali kamu akan punya seorang putri. Bagaimana kalau yang lahir putra semua?” Tanya Macy. “Kita hanya perlu lebih berusaha lagi untuk mendapatkan seorang putri” Jawab Will dengan penuh percaya diri membuat wajah Macy semakin merona. "Ayo masuk. Angin malam tidak baik untukmu" Ajaknya. Sebenarnya malam ini ia ingin langsung mengajak Macy mengelilingi mansion. Tapi mengingat gerutuan Macy disepanjang perjalanan, ia mengurungkan niatnya dan langsung membawa Macy ke dalam kamar. "Aku mandi dulu. Kalau kamu sangat lelah, kamu boleh tidur duluan tapi ganti baju terlebih dahulu. Walk in closet-nya ada di sana" Ucap Will pengertian kemudian berlalu ke kamar mandi. Sementara Macy diam di tempatnya memikirkan ucapan Will. Bagaimana ia bisa langsung tidur di malam pertama mereka? Harusnya ini jadi malam panjang bagi mereka. Akhirnya setelah bergelung dengan pikirannya, Macy memutuskan untuk duduk di atas tempat tidur menunggu Will keluar dari kamar mandi dan mendapatkan gilirannya untuk mandi. Ia juga tak perlu khawatir dengan pakaiannya karena pasti pakaiannya telah tersedia di sini. Tidak mungkin Will mengajaknya bermalam ke sini tanpa menyediakannya pakaian. Tak lama, Will keluar dari kamar mandi dalam keadaan basah dengan hanya menggunakan lilitan handuk di pinggang yang menutupi hingga lututnya sehingga menampilkan perut six pack serta d**a bidangnya membuat Macy langsung terpana melihat pemandangan di hadapannya. Memang ini bukan pertama kalinya ia melihat tubuh Will, tapi tentu saja kali ini terlihat berbeda. Ia sangat ingin menyentuh tubuh Will sekarang. "Ehem!" Deheman Will membuyarkan fantasi liar Macy. "Kenapa belum ganti pakaian dan tidur?" Tanya Will. Jujur sekarang gairahnya semakin naik ketika melihat pandangan Macy pada tubuhnya. "A, aku mau mandi" Ucap Macy kemudian berlari ke kamar mandi. "Bodoh! Macy bodoh! Sudah pernah lihat juga" Gerutu Macy pada dirinya sendiri ketika ia telah berada di kamar mandi. Saat ingin melepas dress-nya, tangan Macy tak bisa menjangkau resleting yang berada di belakangnya. Beberapa kali ia mencoba tapi tetap tidak bisa. Kini ia ragu, keluar meminta bantuan pada Will atau tetap berusaha di sini. Alhasil setelah lama berdebat dengan dirinya sendiri, ia memutuskan keluar untuk meminta bantuan Will. "Will!" Panggil Macy begitu membuka pintu kamar mandi. "Kenapa?" Tanya Will menoleh. Ia segera menghentikan aktivitasnya mengeringkan rambutnya dan segera menghampiri Macy. Sementara ia sendiri telah memakai piyamanya. "Tolong bantu aku buka resletingnya" Ucap Macy lalu membalikkan tubuhnya. Tanpa diminta dua kali, Will menarik resleting dress milik Macy ke bawah. "Selesai" Ucap Will. "Makasih" Ucap Macy lalu segera kembali ke kamar mandi tanpa menoleh ke arah Will. Will yang melihatnya sedikit bingung dengan tingkah Macy namun terkekeh kemudian karena menurutnya tingkah Macy yang seperti itu sangat lucu dan manis. Seuasi mandi, Macy keluar dari kamar mandi dan mendapati Will telah berbaring di atas tempat tidur sambil memejamkan matanya. Hingga membuat Macy bingung. Mengapa Will tidur terlebih dahulu padahal ia telah menunggunya. Malam ini merupakan malam pertama mereka. Apakah Will tidak mau melakukannya malam ini? Macy lalu berjalan ke walk in closet dengan lesu dan memakai piyamanya kemudian mengeringkan rambutnya. Selesai dengan aktivitasnya, ia melangkah ke arah tempat tidur. Langkahnya semakin lesu mengingat Will telah tertidur. Macy naik ke tempat tidur dan berbaring di samping Will dengan memunggungi pria itu. Baru sedetik ia memejamkan mata, sebuah lengan melingkar di perutnya yang membuat Macy terkejut. Macy kembali membuka matanya lalu menoleh ke belakang, melihat Will yang tetap memejamkan matanya. Perlahan ia memutar tubuhnya menghadap pria itu. Tangannya terangkat mengelus rahang prianya. "Kamu sangat lelah ya?" Tanya Macy yang dibalas gelengan oleh Will. "Lalu kenapa cepat tidur?" Tanyanya lagi, kali ini Will membuka matanya dan menatap Macy. "Tidurlah, tadi kamu bilang kalau kamu lelah?" Tanya Will kemudian memejamkan matanya kembali sembari mengeratkan pelukannya pada Macy. "Tapi ini ‘kan malam pertama kita" Ucap Macy. "Lalu?" Tanya Will tanpa membuka matanya. "Kamu, tidak mau..." Ucapan Macy terpotong oleh ucapan Will. "Kita bisa melakukan itu besok dan kapan saja setelah ini. Sekarang tidurlah" Ucap Will, meski jujur ia sangat menginginkannya saat ini apalagi ketika ia membukakan resleting dress Macy tadi. Tapi ia harus menahannya karena tak ingin membuat Macy semakin lelah. Macy segera duduk setelah mendengar ucapan Will. Alhasil Will membuka matanya merasakan pergerakan Macy yang tiba-tiba. "Apa maksudmu? Malam pertama itu hanya sekali. Kalau besok itu namanya malam kedua dan seterusnya" Bantah Macy. "Tapi kamu lelah. Nanti kamu tambah kelelahan kalau kita melakukannya sekarang dan aku tidak ingin kamu kelelahan" Ucap Will. "Kelelahan tidak akan membuatku mati. Pokoknya aku mau sekarang!" Tegas Macy. Dengan nekat ia ke atas tubuh Will dan mencium bibir Will dengan rakus. Tentu saja tindakan agresif Macy membuat Will terkejut, tapi ia tetap membalas ciuman wanitanya. Ia bingung kenapa sekarang Macy tiba-tiba berubah seperti ini. Macy melepaskan ciuman mereka ketika ia merasa kehabisan nafas. "Kamu benar-benar menginginkannya malam ini?" Tanya Will yang dibalas anggukan oleh Macy. "Iya, karena kalau besok itu bukan lagi malam pertama" Jawab Macy. "Baiklah. Aku akan mengabulkan permintaanmu My Aggressive Queen" Ucap Will. Hanya dengan sekali gerakan, Macy telah berada di bawah Will. Dengan rakus Will langsung melumat bibir Macy, mencurahkan nafsu yang sedari tadi ia tahan. Tangannya pun tak tinggal diam, ia melepaskan satu persatu kancing piyama Macy. Setelah melepaskan pakaian Macy, ia juga segera menanggalkan seluruh pakaiannya hingga kini mereka berdua telah full naked. Macy langsung terpana melihat milik Will yang besar dan panjang. Ini pertama kalinya ia melihat milik seorang pria. Melihat tatapan menginginkan Macy untuk kedua kalinya, tanpa basa-basi Will langsung menyerbu bibir Macy. Mereka melakukannya hingga ke tahap dimana mereka mendapatkan kepuasan hasrat masing-masing. Melakukannya berkali-kali hingga peluh keringat membasahi tubuh mereka meski AC yang berada di dalam kamar berfungsi dengan baik. Setelah berkali-kali melakukannya, mereka akhirnya menghentikan kegiatan mereka. Meski Will masih merasa belum cukup tapi melihat Macy yang sudah sangat kelelahan, akhirnya ia menyudahi permainan mereka. Will berbaring di samping Macy dan merengkuh wanitanya ke dalam dekapannya. Ya, kini Macy telah benar-benar menjadi wanitanya. Dan akan menjadi satu-satunya wanita dalam hidupnya. "Ik hou van je, Mijn Koningin" Bisik Will. "Ik hou ook van jou, Bee" Balas Macy. Mereka berdua kemudian terlelap ke alam mimpi bersama setelah aktivitas yang mengharuskan mereka tertidur di pukul empat dini hari.    ------- Mereka udah mantep-mantep tuh wkwk >_< Love you guys~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN