Cahaya matahari menerobos masuk ke dalam kamar dua insan yang baru saja terlelap tiga jam yang lalu melalui jendela kaca.
Perlahan mata Macy terbuka dan hal pertama yang ia lihat adalah d**a bidang Will, prianya. Ia mengulas senyum mengingat kegiatan mereka semalam. Mereka melakukannya berkali-kali. Wajahnya merona mengingat kejadian itu, mereka berdua bahkan masih dalam keadaan naked.
Macy mengelus rahang Will dengan lembut.
"Jangan melakukannya jika tak ingin membangunkan singa yang baru saja tertidur" Ucap Will dengan suara serak khas bangun tidur sembari membuka mata, membuat Macy terkejut.
"K, kamu sudah bangun?" Tanya Macy.
"Aku bukan seperti kamu pemalas" Ucap Will lalu mengecup bibir Macy. "Morning kiss" Lanjutnya kemudian mengeratkan pelukannya pada Macy.
"Kalau aku pemalas, lalu kamu apa? Padahal aku lebih dulu bangun darimu" Bantah Macy.
"Aku sudah bangun dari tadi bahkan sebelum kamu bangun" Ucap Will.
"Aku tak percaya" Ucap Macy. "Sudahlah, aku ingin ke kamar mandi" Lanjutnya kemudian mencoba untuk duduk, namun tertahan oleh rasa sakit pada selangkangannya.
"Aaahh!" Rintih Macy.
"Sakit ya? Padahal aku sudah melakukannya dengan pelan" Tanya Will khawatir.
"Kalau sudah tahu kenapa masih tanya? Ini semua juga karena kamu yang berkali-kali melakukannya. Lagipula kenapa punyamu besar sekali?" Kesal Macy. Ia bahkan tak bisa berbuat apa-apa dan memikirkan apa yang barusan diucapkannya karena sakit di selangkangannya.
"Bukankah yang besar selalu memuaskan?" Goda Will.
Perlahan Macy mulai mencerna perkataan Will. Dan wajahnya seketika merona mengingat apa yang telah ia ucapkan. Saat itu juga ia langsung merutuki mulutnya yang seenaknya saja mengeluarkan kata menjijikkan seperti itu.
"Lagipula bukankah kamu yang meminta?" Goda Will kemudian menggendong Macy ala bridal style. Sedangkan Macy yang terkejut secara otomatis melingkarkan kedua lengannya pada leher Will.
"Apa yang yang kamu lakukan?! Turunkan aku!" Teriak Macy.
"Kamu bilang ingin ke kamar mandi" Ucap Will santai sambil berjalan ke kamar mandi.
"Awas saja kalau kamu modus. Pokoknya fokus saja ke depan" Pintah Macy mengingat mereka masih dalam keadaan naked, membuat Will menghentikan langkahnya.
"Kenapa? Aku sudah melihat semuanya semalam. Aku bahkan sudah merasakannya" Ucap Will sembari memandang seluruh tubuh Macy, yang membuat empunya merapatkan selangkangannya.
Dan itu juga berdampak pada Will yang saat ini area bawahnya telah menegang hanya dengan melihat tubuh naked Macy. Will lalu tersenyum miring dengan apa yang otaknya rencanakan sekarang.
"Jangan lihat macam-macam dan ada apa dengan senyummu itu? Sangat mencurigakan" Tuduh Macy sembari memukul pelan punggung Will.
Tanpa menjawab, Will melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi dan mendudukkan Macy di atas closet.
"Keluar!" Pintah Macy.
"Aku akan menunggu di sini sampai kamu selesai" Bantah Will.
"Aku bisa melakukannya sendiri. Lagipula aku akan memanggilmu setelah aku selesai" Pintah Macy.
"Aku lelah berjalan keluar masuk" Bantah Will lagi.
"Tapi aku malu kalau kamu ada di sini. Ini menjijikkan" Ucap Macy jujur.
"Aku akan membalikkan badanku" Ucap Will sembari membalikkan badannya.
Macy berpikir sejenak sebelum mengiyakan ucapan Will. Ia ingin menolak lagi, tapi kalau ia menolak maka perdebatan mereka akan semakin panjang sementara ia sudah tak tahan ingin mengeluarkan apa yang sedari tadi ia tahan.
"Baiklah, awas saja kalau kamu mengintip" Ancam Macy. Ia lalu segera menuntaskan tujuannya dengan cepat.
"Sudah selesai" Ucap Macy membuat Will membalikkan badannya dan mengangkat tubuh Macy kembali lalu berjalan menuju bathtub.
"Kamu mau ke mana?" Tanya Macy.
"Mandi. Kita harus mandi pagi" Ucap Will dengan wajah polosnya.
"Kalau begitu kamu mandi saja dulu, aku masih mengantuk" Ucap Macy.
"Tidak, sudah pagi dan waktunya mandi pemalas. Aku akan memandikanmu" Ucap Will lalu meletakkan Macy ke dalam bathtub yang telah terisi air hangat.
"Kalau begitu aku mandi sendiri saja. Aku bisa melakukannya" Bantah Macy.
"No, you're not" Ucap Will lalu menyusul Macy masuk ke dalam bathtub dan mulai melakukan rencana mesumnya.
Ya, mereka melakukannya lagi di dalam bathtub.
-------
Setelah melakukan kegiatan pagi mereka yang melewatkan sarapan, Will mengajak Macy mengelilingi mansion. Dan tentu saja Will tak membiarkan Macy berjalan dalam keadaan s**********n yang masih sakit. Will terus menggendong Macy ala bridal style sembari melangkah mengelilingi seisi mansion.
Mansion yang berada di tengah laut ini bertingkat tiga, lima belas kamar tamu, satu kamar utama yang merupakan kamar Will dan Macy, dua lift dan tangga, dapur, ruang tamu, ruang makan, home teater, perpustakaan, taman bermain, serta games room.
Di bagian sisi kanan mansion terdapat kolam renang yang cukup luas meski mansion mereka berada di tengah laut, sedangkan sisi kirinya terdapat gazebo untuk bersantai, tak lupa terdapat sebuah yacht di seberang jalan mansion dan dataran luas di bagian belakang tempat di mana helikopter mendarat.
Dan jangan lupakan rumah yang terdapat di bagian kanan dan kiri mansion yang di khususkan untuk para pelayan di sana. Rumah sebelah kiri khusus pelayan wanita, sementara rumah sebelah kanan khusus pelayan pria termasuk supir dan tukang kebun.
Sekarang Macy dan Will tengah duduk di jembatan yang menghubungkan mereka dengan yacht.
"Kamu tidak lelah?" Tanya Macy mengingat sedari tadi Will menggendongnya mengelilingi mansion yang Macy rasa sangat luas itu.
Ia menghapus setitik keringat yang keluar dari kening Will dengan ibu jarinya.
"Tidak ada kata lelah untukmu, Queen" Jawab Will lalu mengecup bibir Macy membuat wajah wanitanya merona.
"Oh iya, kita tidak ke kantor?" Tanya Macy.
"Kamu lupa? Aku bosnya, jadi aku bebas masuk atau tidak. Dan lagi aku tidak akan membiarkanmu bekerja. Karena mencari nafkah adalah tugas suami, bukan tugas istri" Jawab Will panjang kali lebar.
"Tapi aku sekretarismu" Ucap Macy.
"Dan sekarang aku memecatmu dengan terhormat" Ujar Will.
"Pokoknya aku tetap mau bekerja!" Tegas Macy.
"No" Tegas Will.
"Aku mau bekerja" Rengek Macy.
"No!" Tegas Will sekali lagi.
"Setidaknya izinkan aku bekerja sampai aku hamil" Ucap Macy putus asa.
Will tampak berpikir dengan tawaran Macy. Kalau ia menolak, Macy pasti akan marah dan mengancam tidak akan memberinya jatah. Kalau menunggu hingga Macy hamil, mungkin itu akan butuh waktu yang cukup lama.
Tidak apa-apa, mereka hanya harus bekerja lebih keras lagi.
"Baiklah. Tapi kamu harus menepati janjimu" Ucap Will setelah berpikir cukup lama.
"Thank you, Bee" Ucap Macy senang dan langsung memeluk Will. Untung saja daya refleks pria itu cepat, sehingga ia dapat dengan sigap menahan tubuh Macy agar mereka tak terjatuh ke dalam laut.
-------
Will mah udah nikah makin agresif. Eh, Macy juga kayaknya wkwk >_<
Love you guys~