Setelah insiden Macy yang merengek tetap ingin bekerja sampai ia hamil, dua hari kemudian mereka sudah kembali ke kantor. Karena Macy berpikir pasti pekerjaan mereka akan menumpuk.
Berjalan bersama memasuki gedung setinggi empat puluh lima lantai tersebut. Berita pernikahan mereka bukan lagi rahasia, melainkan berita yang paling banyak diminati seantero Indonesia bahkan Asia hingga Eropa.
Bagaimana tidak?
Seorang Will Carbert, CEO CT Corp., yang terkenal rupawan, dingin, serta diidamkan tiap wanita, namun belum pernah memiliki skandal dengan satu wanita pun. Secara mendadak menikah dengan putri seorang pengusaha kaya Indonesia yang tidak pernah menampakkan wajahnya di media, Macy Allyson.
Berita pernikahan mereka yang secara mendadak tiga hari yang lalu menjadi buruan para wartawan di luar sana, bahkan timbul persepsi bahwa Macy hamil di luar nikah. Dan berita tersebut secara otomatis telah tersebar di dalam perusahaan, karena para petinggi CT Corp. juga turut hadir dalam pernikahan mereka.
Lagi, lagi, dan lagi hal yang membuat trauma Macy muncul kembali. Bisikan-bisikan yang ia lihat dan dengar membuat dirinya menunduk gemetar dan jantungnya berdebar kencang.
Will yang menyadarinya segera merangkul bahu Macy dan menatap tajam tiap karyawan yang tengah berbisik-bisik, membuat mereka semua sontak terdiam dan menunduk ketakutan ketika menyadari tatapan Will.
Sementara Will terus menuntun Macy berjalan masuk ke dalam lift. Sesampainya di dalam lift, Will segera memeluk Macy dan menenangkan wanitanya dengan menepuk punggung dan mengelus rambutnya yang teruari.
Dengan rasa hangat dari pelukan Will, Macy dapat menenangkan dirinya yang gemetar. Ia melingkarkan lengannya pada tubuh Will, memeluk erat prianya. Sampai di lantai teratas, mereka melepas pelukan mereka dan berpisah di depan ruangan Macy.
Macy menurunkan tirai dengan remot pada dinding kaca yang membatasi ruangannya dan ruangan Will. Ia sengaja menutupnya karena masih ingin menenangkan dirinya. Bisikan-bisikan tadi bahkan lebih parah dari pertama ia mulai bekerja di sini.
Tak lama ponselnya berbunyi menandakan ada telepon yang masuk.
Bee is calling...
Sudah ia duga, Will pasti akan meneleponnya dan menanyakan kenapa ia menutup dindingnya. Alasan apa yang akan ia berikan kali ini? Macy menghela nafas sebelum mengangkat telepon Will.
"Kenapa ditutup?" Tanya Will bahkan sebelum Macy sempat menyapa.
"A, aku hanya tidak ingin melihatmu" Jawab Macy.
Hening, Will tak mengatakan apapun setelah mendengar jawaban Macy. Namun setelahnya terdengar suara kekehan Will dari seberang.
"Tapi aku ingin melihatmu" Ucap Will.
"Aku tidak" Ujar Macy.
"Kenapa?" Tanya Will. Macy terdiam sejenak sembari memikirkan alasan yang tepat.
"Aku tak bisa fokus bekerja kalau kamu melihatku" Jawab Macy dan kekehan Will kembali terdengar.
"Baiklah" Ucap Will.
Setelah mendengar ucapan Will, Macy segera memutuskan teleponnya dan menarik nafas dalam lalu menghembuskannya.
"Huft, hampir saja" Gumam Macy sembari memegang dadanya.
Macy duduk di kursinya dan menumpukkan kepalanya di atas meja. Berusaha menenangkan pikiran dan tubuhnya dari trauma masa lalu juga dari perasaan bersalahnya pada Will karena telah membohongi pria itu.
Sampai kapan ia harus merahasiakan semuanya? Ia merasa tak sanggup lagi. Bagaimana jika suatu hari nanti Will mengetahui masa lalunya dan memutuskan untuk pergi karena Macy tak sesuai dengan apa yang ia harapkan?
Macy yang dulunya jelek, pendek, gemuk, berkulit hitam. Seharusnya dari awal ia tak menyukainya. Seharusnya ia tak menyetujui perjodohan ini. Seharusnya takdir tidak mempertemukan mereka.
Macy terisak dengan posisinya yang masih menumpukkan kepalanya di atas meja dan kedua telapak tangannya menutup wajahnya.
Suara dering ponsel yang menandakan ada pesan masuk perlahan menghentikan isakan tangisnya. Macy menghapus air matanya menggunakan tisu yang ada di atas meja. Menenangkan dirinya sebelum melihat pesan yang masuk ke dalam ponselnya.
Melihat nama pengirim pesan tersebut membuat Macy ragu sebelum membukanya.
***
From : Bee
I Love You
***
Isi pesan dari Will membuatnya tersenyum juga perasaan bersalah dan takut kehilangan kembali menyergapnya. Perlahan bulir air mata kembali mengalir di pipinya. Ia terisak sembari memeluk ponselnya.
Disisi lain, Will yang tak bisa fokus bekerja karena memikirkan keadaan Macy memutuskan untuk pergi ke ruangan Macy.
Will membuka pintu ruangan Macy dan terkejut menemukan wanitanya tengah menangis. Ia segera menghampiri Macy dan berlutut di hadapannya.
Tatapannya berubah menjadi sendu, tangannya terulur menghapus buliran air mata yang membasahi pipi Macy. Mata Macy perlahan terbuka merasakan sentuhan di wajahnya.
"Kenapa menangis?" Tanya Will lembut.
Tapi bukan jawaban yang ia dapat, melainkan pelukan erat. Macy memeluknya dengan erat dan isakannya semakin menjadi di pundak Will. Sementara Will hanya bisa mencoba menenangkan Macy dengan mengelus punggung wanitanya.
"Jangan tinggalkan aku" Gumam Macy disela isakannya.
"Jangan tinggalkan aku" Gumamnya lagi.
"Aku tidak akan meninggalkanmu bahkan jika kamu yang meminta" Ucap Will.
"Jangan tinggalkan aku" Gumam Macy lagi.
Ia terus manangis dan menggumamkan kalimat yang sama hingga ia lelah dan jatuh tertidur.
Will yang melihat keadaan Macy sekarang merasa sangat miris. Ia tak tahu kalau apa yang dialami wanitanya di masa lalu semenyakitkan itu.
Sebegitu takutnyakah ia kalau Will mengetahui masa lalunya?
Will mengangkat tubuh Macy ketika tak mendengar gumaman dan isak tangisnya lagi. Ia membawa Macy ke kamar tidur yang berada di ruangannya. Meletakkan Macy di atas tempat tidur dengan perlahan, melepas heels yang bertengger di kaki mulusnya, dan menutup sebagian tubuhnya dengan selimut.
Will menatap lekat wajah Macy.
"Aku tidak akan meninggalkanmu. I love you, My Queen" Gumam Will sembari mengelus pipi Macy.
Will lalu berbaring di sebelah Macy dan memeluk satu-satunya wanita yang ia cintai. Ia memutuskan untuk menemani sang istri sampai bangun karena merasa tak tenang selama belum melihat Macy baik-baik saja.
Lama ia memeluk Macy sembari memandang sang istri hingga akhirnya ia juga jatuh terlelap dan melupakan pekerjaan yang telah menantinya bahkan menghiraukan telepon yang berbunyi dari ruangannya.
-------
Gimana part ini?
Love you guys~