Chapter 20

1369 Kata
Tugas matahari menyinari dunia telah selesai dan kini digantikan oleh bulan dan bintang yang menyinari gelapnya malam. Will membuka mata ketika marasakan sentuhan di wajahnya dan melihat Macy tengah memandangnya. "Kamu tidak bekerja?" Tanya Macy. "Aku tak bisa bekerja kalau sekretarisku tidak ada" Jawab Will dengan suara serak. "Tapi kamu sudah tidak kerja selama tiga hari" Protes Macy sambil bangkit dari tidurnya. "Aku tidak akan bangkrut hanya karena tidak bekerja tiga hari" Ucap Will ikut duduk di samping Macy. "Tapi perusahaan ini tanggung jawab dan kewajibanmu. Kamu harus menjadi contoh yang baik bagi semua karyawanmu" Ucap Macy. Meski Macy selalu memberikan protes atas setiap ucapannya, tapi ia senang karena sekarang Macy telah melupakan apa yang membuatnya sedih. "Baiklah istriku. Suamimu ini tidak akan mengulanginya lagi" Ucap Will sembari memeluk Macy. Wajah Macy merona mendengar Will memanggilnya dengan sebutan istri dan memanggil dirinya sendiri dengan suami. Macy tersenyum malu namun segera ia mengembalikan ekspresi cemberutnya ketika merasa Will akan melepas pelukannya. "Aku akan pegang kata-katamu" Ucap Macy. "Dan sekarang suamiku, istrimu ini sangat lapar dan ingin makan secepatnya" Lanjutnya. “Tapi sebelum itu, aku punya satu pertanyaan” Ucap Will. “Apa?” “Kenapa kamu bisa tidur seharian seperti ini tanpa makan siang?” Tanya Will. Pasalnya Macy baru bangun di malam hari sejak tidur tadi pagi. “Itu memang biasa terjadi. Aku juga tidak tahu alasannya” Jawab Macy. “Sekarang lupakan itu karena aku sangat lapar sekarang. Ayo makan” Gerutunya. Will menatap Macy dengan tatapan menggoda. "Tapi suamimu ini ingin dirimu untuk makan malamnya" Ucap Will. Wajah Macy merona mendengar ucapan Will. Untung saja keadaan di kamar tersebut sedang gelap dan hanya cahaya bulan yang menyinari mereka, jadi Will tidak bisa melihat wajah Macy yang merona. "Aku ma..." Will segera melumat bibir Macy sebelum bisa menyelesaikan kalimat protesnya. Will melumat bibir Macy dengan rakus, membaringkan istrinya dengan pelan sembari membuka satu persatu kancing kemeja Macy dan menyelesaikan pekerjaannya. Hingga akhirnya kegiatan mereka berakhir pukul sebelas malam dan Will mengajak Macy berkeliling kota Jakarta yang masih cukup ramai untuk mencari restoran yang masih buka di tengah malam seperti ini. "Ini semua gara-gara kamu" Kesal Macy. "Kenapa aku?" Tanya Will. "Coba kamu tidak melakukan itu, kita tidak akan kesusahan mencari makan di jam segini. Dan aku juga sudah bilang kita makan di warung pinggir jalan atau kita makan di mansion saja" "Tapi tadi kamu juga menikmati. Dan kalau makan di warung pinggir jalan, makanannya tidak higienis dan butuh waktu yang cukup lama untuk sampai ke mansion" "Tapi dari tadi kita sudah mengelilingi Jakarta dan semua restoran sudah tutup. Pokoknya kita makan di warung pinggir jalan saja" "Tapi..." "Itu, itu, itu di depan berhenti, berhenti" Teriak Macy sembari memukul-mukul lengan Will ketika melihat warung di pinggir jalan yang masih terbuka. Menerima pukulan Macy, otomatis Will segera menepikan mobilnya tepat di depan warung yang di tunjuk sang istri. Setelah mobil berhenti, Macy segera berlari keluar sebelum Will dapat mencegahnya. Ia hanya menggelengkan kepala melihat Macy yang telah berbicara cukup akrab dengan penjualnya sembari tertawa. Meski awalnya penjual tersebut meneliti penampilan Macy dengan tatapan terkejut. Will melihat Macy memanggilnya dari sana dan dengan terpaksa ia keluar dari mobil menghampiri Macy. Sebenarnya ia tak mau makan di pinggir jalan bukan karena tidak higienis. Tapi ia tidak tahu makanan apa yang dijual warung pinggir jalan seperti ini dan bagaimana cara memesannya. "Kamu mau makan apa? Ada nasi goreng, bakso, pangsit, pecel, soto ayam, dan lalapan" Tanya Macy ketika Will berada di sampingnya. Will bersyukur bahwa Macy menyebut menu makanannya terlebih dahulu sebelum ia bertanya. Tapi tetap saja, hampir semua menu makanan yang disebutkan Macy tidak ia ketahui kecuali bakso dan nasi goreng. "Samakan saja denganmu" Ucap Will meski ia tak tahu makanan apa yang Macy pesan. "Ya sudah. Mang, mie ayamnya dua ya" Ucap Macy. "Siap neng Macy. Neng Macy duduk saja dulu" Ucap penjual tersebut. "Ok, Mang" Ucap Macy kemudian menarik lengan Will ke kursi kayu panjang serta meja panjang yang tersedia. "Kenapa penjualnya tahu nama kamu?" Tanya Will setelah mereka duduk. "Oh itu, dulu waktu SMP sampai SMA aku sering makan di sini. Dan kebetulan tadi kita lewat sini, pas banget warung ini buka sampai tengah malam" Jawab Macy. "Dan kamu tenang saja, di sini higienis. Buktinya aku masih sehat sampai sekarang" Ucap Macy. Tak lama seorang wanita dan pria datang dan duduk tak jauh dari Macy dan Will. Semenjak duduk, wanita tersebut terus saja melihat Will meski sudah ada pria di sampingnya. Macy merasa seperti terbakar melihat pemandangan tersebut. Ia lalu menggandeng lengan Will yang sontak membuat lelaki tengah sibuk memeriksa e-mail yang masuk ke ponselnya tersebut menoleh ke arah Macy. "Ada apa Queen?" Tanya Will. "Tidak apa-apa" Bisik Macy tanpa menoleh ke arah Will dan terus melirik wanita yang dari tadi secara terang-terangan melihat Will. Tak lama, wanita tersebut pindah ke samping Will dan menggandeng lengan Will. "Mas ganteng" Ucap wanita tersebut dengan manja dan menyandarkan kepalanya di bahu Will. Will terkejut dengan perlakuan wanita itu. Sementara Macy telah melotot melihat pemandangan di hadapannya. Rasanya ia ingin memutilasi tiap bagian tubuhnya dan membuangnya di segitiga bermuda. "Aduh, maaf atas kelancangan istri saya mas, mbak. Dia memang selalu seperti ini sejak hamil. Kalau melihat cowok yang dia lihat ganteng, pasti langsung begini" Ucap pria yang datang bersama wanita itu sembari menghampiri wanita yang diaukinya sebagai istri. "Sayang, jangan begini sekarang" Ucap pria itu, mencoba membujuk istrinya agar mau melepaskan lengan Will. Nasi sudah menjadi bubur, Macy sudah terlanjur sangat marah namun juga ingin menangis. Jadi sebelum ia mempermalukan dirinya sendiri, lebih baik ia pergi. Membuat penjual di warung tersebut yang baru saja ingin membawakan pesanannya kebingungan. "Loh, loh, loh, neng Macy mau ke mana? Ini pesanannya sudah jadi neng" Tanya si penjual namun Macy tetap tak menghiraukannya dan meneruskan langkahnya masuk ke mobil. Will yang melihat tingkah Macy segera menghentakkan tangan wanita yang dari tadi menggandengnya dengan kuat dan menatapnya dingin. "Mang dibungkus saja" Ucap Will pada si penjual dan menyusul Macy ke mobil. Will melihat Macy tengah duduk sembari melipat kedua tangannya di depan d**a dan memandang keluar jendela. "Queen" Panggil Will namun Macy masih tak bergeming dari tempatnya. "Are you mad?" Tanya Will yang lagi-lagi tak dihiraukan oleh Macy. "Queen" Panggilnya lagi kemudian mengarahkan kepala Macy ke arahnya dengan kedua telapak tangannya. "Why are you crying?" Tanya Will mendapati Macy tengah menangis. Ia lalu menghapus buliran air mata yang menbasahi pipi istrinya dengan lembut menggunakan kedua ibu jarinya. "Apa karena wanita itu?" Tanya Will. Macy mengangguk sebagai jawabannya. "Kenapa harus marah? Kami tidak punya hubungan apa-apa, kenal pun tidak. Dan lagi dia juga sudah bersuami. Tadi suaminya sudah bilang kalau istrinya sudah biasa seperti itu semenjak hamil" Jelas Will. "Tapi tadi kamu menikmati waktu dia gandeng lengan kamu dan bermanja ria di bahumu ‘kan?" Tuduh Macy. "Aku tidak me..." "Bohong. Buktinya kamu tidak melakukan apapun waktu dia dekatin kamu, malahan kamu diam saja" "Karena aku tidak ingin membentak seseorang tanpa sebab sebelum mendengar penjelasan terlebih dahulu, apalagi seorang wanita. Siapa tahu dia gila atau bagaimana dan benar ‘kan dia sedang hamil. Kamu bayangin kalau tadi aku mendorong dan membentak wanita yang sedang hamil, kasihan bayi yang ada di dalam janinnya" Jelas Will mencoba memberikan pengertian pada Macy. "Aku cuma takut kamu tinggalin aku dan pergi sama wanita lain" Ucap Macy sembari menunduk. "Hei, listen to me. Aku tidak akan tinggalin kamu bahkan jika kamu yang meminta. Karena istri aku itu cuma kamu, Macy Carbert" Ucap Will sembari menangkup wajah Macy menghadap ke arahnya. Macy menatap Will, mencoba mencari kebohongan di sana. Namun yang ia dapat hanya kejujuran dan keseriusan. Macy lalu memeluk Will erat. "Maafin aku" Ucap Macy sembari melepaskan pelukannya. "Tidak usah minta maaf. Kamu marah itu karena kamu cemburu. Dan kamu cemburu karena kamu cinta sama aku. Malah aku berharap kalau kamu hamil, kamu tidak akan seperti wanita itu. Yang memeluk setiap pria yang menurut kamu ganteng" "Tidak akan. Karena yang ganteng itu cuma kamu, Daddy, dan Papa" Ucap Macy sembari tersenyum. Tok... Tok... Tok... Suara jendela mobil yang diketuk menyadarkan mereka. Will menurunkan kaca jendela mobil dan melihat si penjual warung membawa dua kantung plastik berwarna hitam. "Ini pesanannya" Ucap penjual tersebut. "Iya, makasih mang. Ini berapa semua?" Tanya Will sembari mengambil kantung plastik tersebut. "Dua puluh ribu, a'" Jawab si penjual. Will lalu mengeluarkan uang berwarna biru dari dompetnya dan memberikannya pada si penjual. "Ambil saja kembaliannya, mang" Ucap Will. "Wah, makasih banyak atuh a'" "Mang, maafin Macy ya tadi langsung tinggalin mamang begitu saja" Ucap Macy. "Tidak apa-apa neng Macy, tadi juga sudah dijelasin sama pasangan yang di dalam" "Ya sudah, kami pergi dulu mang" Ucap Will lalu menutup kembali jendela mobil setelah mendapat anggukan dari si penjual dan melajukan mobilnya menuju mansion.    ------- Secuil kecemburuan seorang istri wkwk >_< Love you guys~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN