Chapter 21

949 Kata
"Hei My Queen, wake up" Ucap Will lembut membangunkan Macy sembari mengelus pipi sang istri tercinta. Macy menggeliat merasakan sentuhan di wajahnya. Perlahan ia membuka mata dan seketika netranya langsung menangkap sosok pria yang menemani hari-harinya selama dua minggu belakangan. Macy tersenyum sembari memegang tangan Will yang masih setia bertengger di pipinya. "Good morning, Bee" Ucap Macy dengan suara seraknya. "Morning, Queen" Ucap Will kemudian mengecup bibir Macy. "Now, wake up My Queen. We have to go" Lanjutnya masih berusaha membangunkan Macy. "Ke mana?" Tanya Macy dengan kening yang mengerut. "Did you forget it? We’ll go honeymoon, Queen" Jawab Will. Hari ini mereka memang akan pergi untuk bulan madu setelah pernikahan mereka dua minggu yang lalu, karena Macy yang meminta untuk menundanya entah sampai kapan. Alhasil mereka baru bisa bulan madu dua minggu kemudian. Itu pun hasil rengekan Will yang terus menerus merengek dan mengekori Macy ke manapun wanita itu pergi. Will bahkan melakukannya saat mereka berada di kantor, hingga Macy jerah dengan sikap suaminya itu. Ia bahkan hampir tidak percaya dengan berita tentang Will yang mengatakan kalau pria itu dingin, datar, dan tak tersentuh. Mereka berdua bahkan membutuhkan beberapa hari untuk menentukan honeymoon destination mereka. Macy ingin pergi ke Bali karena masih berada di dalam negeri dan tidak terlalu jauh dari ibu kota, sedangkan Will ingin pergi ke Maldives. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk pergi ke Raja Ampat yang terletak di Papua Barat berkat usulan dari Kenia dan Jordan. Kini Will telah siap dengan style kasualnya. Barang bawaan mereka juga telah siap. Private plane mereka juga telah menunggu di landasan pribadi. Fyi, semua barang yang akan mereka disiapkan oleh Will seorang diri karena terlalu bersemangat dalam perjalanan kali ini. Dan sekarang hanya tinggal menunggu Macy yang masih belum bangun dari tidurnya. "Wake up, Queen" Bisik Will tepat di telinga Macy. Macy tak berniat membuka matanya mendengar bisikan Will. Ia bahkan membawa tangan Will yang ia genggam masuk ke dalam selimut lalu memeluknya. Will menggeleng melihat tingkah istrinya. Jika saja mereka menaiki pesawat umum, mungkin mereka akan ketinggalan sejak tadi. "Okay, this is your choice" Ucap Will. Will menyibakkan selimut yang digunakan Macy, menarik pelan tangannya yang di peluk Macy kemudian mengangkat sang istri menuju kamar mandi. "Aaaaa~" Teriak Macy dan refleks ia melingkarkan kedua lengannya ke leher Will. Will menurunkan Macy di meja wastafel lalu memeluknya dan menciumi lehernya, hingga membuat Macy tertawa geli dan mencoba menjauhkan kepala Will dari lehernya namun tak berhasil. Setelah puas membuat Macy tertawa ia mengangkat kepalanya. "Again?" Tanya Will. "No, don't" Ucap Macy tersenggal-senggal. "You want to bathe yourself, or I bathe you?" Tanya Will dengan tatapan menggodanya. "You want to bathe me?" Goda Macy sembari menggigit bibir bawahnya. Will tertawa mendengar godaan Macy. Ia tak menyangka bahwa istrinya akan senakal ini sekarang. "Of course, I will" Ucap Will. Ia lalu melingkarkan kedua kaki Macy di pinggangnya lalu mengangkat Macy dan menurunkannya di samping bathtub kemudian memandikan sang istri. Tentu saja, mereka bukan sekedar mandi. And you guys know what they both do >_ ------- Kini mereka telah berada di landasan pesawat pribadi milik Will. Kedatangan mereka berdua disambut oleh seorang pilot, seorang co-pilot dan beberapa pramugari. "Selamat siang, Tuan Will dan Nyonya Macy" Ucap salah seorang pria muda dan cukup tampan yang akan menjadi pilot mereka dalam perjalanan kali ini. Will hanya mengangguk menjawab pria tersebut sedangkan Macy tersenyum. Will mempercepat langkah kakinya menaiki pesawat dengan mempersilakan Macy masuk terlebih dahulu. "Jangan tersenyum pada pria lain" Katus Will ketika mereka berdua duduk di dalam pesawat. "Siapa?" Tanya Macy sembari membuka halaman majalah yang ada di atas meja. "Pilot itu" Jawab Will. Ia bersumpah akan memecat pilot itu setelah mereka sampai di Raja Ampat. Macy terkekeh mendengar jawaban Will yang terdengar seperti orang merajuk. Dan benar saja saat ia menoleh, ia melihat Will tengah memanyunkan bibirnya persis seperti orang merajuk membuatnya mengecup bibir Will yang terlihat menggoda. "Cemburu ya?" Tanya Macy sembari menyimpan kembali majalah yang baru saja ia buka. "Ya" Jawab Will. "Tenang saja. Dia tidak akan mampu merebut cintaku darimu" Ucap Macy kemudian menangkup wajah Will menghadapnya lalu mengecup bibir suaminya itu berkali-laki. Namun saat dikecupan terakhirnya, Will menahan tengkuk Macy lalu melumat bibir sang istri cukup lama. Seorang pramugari yang hendak menawarkan makanan pada mereka pun membatalkan niatnya ketika melihat adegan 19+ mereka. Will melepas ciumannya dan menatap netra Macy lekat. Kemudian tersenyum ketika melihat bibir istrinya yang agak bengkak karena ulahnya. "Aku baru ingat" Ucap Macy. "Apa?" "Kalau kamu punya pesawat pribadi, kenapa waktu itu kamu naik pesawat umum?" "Waktu itu Papa dan Mama sedang memakai pesawat ini karena pesawat pribadinya sakit. Dari pada harus menunggu hingga perjalanan mereka selesai, lebih baik aku menggunakan pesawat umum yang akhirnya mempertemukanku dengan istriku" Macy terkekeh mendengar kalimat terakhir Will. "Memang saat itu Papa dan Mama ke mana?" "Bulan madu kesekian mereka" Lagi, Macy terkekeh mendengar ucapan Will. "Kesekian, artinya sudah tak terhitung ya?" "Ya, meski sudah tua tapi mereka masih sangat romantis. Dan kuharap, kita juga akan seperti itu saat tua nanti" Lagi-lagi Macy tersipu hanya dengan mendengar kalimat sederhana dari Will untuknya. "Aku mengantuk" Ucap Macy mengalihkan pembicaraan sekaligus menutupi degup jantungnya yang masih saja berdebar kencang mendengar ucapan manis Will untuknya. Macy menyandarkan kepalanya ke bahu Will sembari memeluk lengan prianya. Sementara Will tersenyum melihat tingkah Macy yang terkadang bersikap manja padanya seperti sekarang. Meski begitu ia senang, karena Macy hanya menunjukkan sikap manjanya hanya pada dua pria di dunia ini. Ia dan Derrick, Daddy Macy. Bahkan Papanya yang Macy katakan tampan, tak pernah melihat sikap manja Macy yang seperti ini. Awalnya hanya berniat mengalihkan pembicaraan, akhirnya Macy benar-benar tertidur. Karena jujur, ia juga masih mengantuk akibat dibangunkan pagi tadi hingga mereka melakukan kegiatan yang melelahkan berkali-kali. Melihat Macy yang tertidur pulas, Will mengangkat Macy masuk ke dalam kamar dan membaringkan istrinya ke tempat tidur. Setelahnya, ia juga naik ke atas tempat tidur dan berbaring di samping Macy kemudian menutupi tubuh mereka dengan selimut. Tak lupa, ia membawa Macy ke dalam dekapannya.    ------- Lagi bahagia-bahagianya nih pengantin baru wkwk >_< Love you guys~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN