Setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam, akhirnya mereka tiba di Waisai, Raja Ampat, Papua Barat.
Will mengajak Macy ke sebuah resort mewah. Resort yang tak lain merupakan properti milik Carbert's Corp..
Macy memandang deretan air yang membentang di hadapannya. Ia tengah berdiri di tepi jembatan yang menghubungkan ke resort. Ia membentangkan kedua tangannya merasakan angin yang menerpa kulitnya.
Sepasang lengan kokoh melingkar di pinggangnya, Will memeluknya dari belakang.
"Sedang apa?" Tanya Will.
"Berdiri" Jawab Macy membuat Will terkekeh.
"Ada yang ingin kutanyakan" Ucap Will.
"Apa?"
"Kenapa kamu selalu memghancurkan momen romantis kita?"
Macy tertawa mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Will.
"Momen romantis?" Tanya Macy dengan kekehannya.
"Ya momen romantis, seperti sekarang" Jelas Will yang lagi-lagi membuat Macy tergelak.
"Salah kamu. Sudah tahu aku lagi menikmati pemandangan, kenapa bertanya lagi"
"Tapi kamu bisa jawab lagi tunggu aku atau berharap aku peluk seperti ini"
Macy terkekeh mendengar ucapan Will.
"Ya sudah replay ‘deh"
"Sedang apa?"
"Lagi tunggu kamu cium"
Hening. Macy merasa aneh dengan keheningan yang melanda mereka. Ia sudah mencoba menjawab pertanyaan Will dengan romantis tapi ia tak kunjung mendapat respon apapun, bahkan kekehan pun tidak. Apa ia salah jawab lagi? Macy menoleh ingin melihat respon Will, namun yang ia dapat malah ciuman bertubi-tubi di bibirnya.
Dan sekarang ia mengerti kenapa Will tak meresponnya. Suaminya itu menunggu dirinya menoleh agar Will dapat menciumi dirinya tanpa mau bersusah payah.
"Permintaanmu telah terkabul, My Queen" Ucap Will sembari tersenyum.
Macy menatap Will dengan tatapan yang sulit diartikan. Hingga Will kebingungan dibuatnya.
"Ada apa?" Tanya Will, namum tak mendapat respon dari Macy.
Sekarang ia merasa bersalah telah mengerjai istrinya. Ia lalu melepaskan kedua tangannya dari pinggang Macy dan beralih ke hadapan istrinya yang kini masih menatapnya dengan pandangan yang benar-benar sulit diartikan.
Ia menangkup wajah Macy dengan kedua telapak tangannya.
"Queen, maafkan aku. A, aku ti..."
Will belum sempat menyelesaikan ucapannya karena Macy langsung melingkarkan kedua lengannya ke leher Will dan melumat bibir suaminya.
Seketika Will mematung di tempatnya seperti orang bodoh yang tak mengerti dengan perubahan tingkah sang istri. Ia bahkan tidak membalas lumatan Macy, hingga Macy menggigit bibir bawahnya.
Ketika ingin membalas ciuman Macy, Macy segera menyudahi ciumannya dan menatap Will sembari tertawa.
"Kamu harus menciumku dengan benar" Ucap Macy dengan senyum lebarnya.
"Jadi istriku ini sudah pintar menjahili suaminya, hm?" Tanya Will.
"Bukannya suamiku ini yang terlebih dahulu menjahili istrimu ini?"
"Okay, okay, you win and I’ll never win from you, my wife" Ucap Will kemudian mengecup bibir Macy singkat.
Tak mau kalah, Macy juga mengecup bibir Will yang membuat Will kembali tertawa.
"я тебя люблю" Ucap Will.
"Я тоже тебя люблю" Ucap Macy. Will lalu melumat bibir istrinya lembut.
Will menggendong Macy dengan melingkarkan kedua kaki istrinya di pinggangnya kemudian membawanya masuk ke dalam resort dan melanjutkan ronde kedua kegiatan panas mereka hari ini.
Dan hari pertama mereka di Raja Ampat mereka habiskan di resort tanpa pergi ke manapun.
-------
Di hari kedua Macy telah siap dengan mini white dress, white sneakers serta topi pantai berwarna cream dengan pita hitam yang melingkar di tengahnya. Sedangkan Will memakai kaos abu-abu, celana pendek, black sneakers dan topi dengan warna senada dengan kaosnya yang sengaja ia pakai terbalik di kepalanya.
Hari ini mereka berencana untuk pergi ke Pianemo Island. Will dan memutuskan Pianemo Island sebagai tujuan pertama mereka karena ingin melihat Mini Wayag Island yang terletak di distrik Waigeo dan terkenal akan keindahannya.
Perjalanan ke sana hanya membutuhkan waktu beberapa jam menggunakan boat.
"Kamu bisa mengendarai ini?" Tanya Macy.
"Ya, kemarilah" Jawab Will yang telah berada di atas boat sembari mengulurkan tangannya pada Macy dan membantunya naik ke atas boat.
Will menyalakan mesin boat dan mulai mengemudikannya. Ia menambah kecepatan ketika mendengar teriakan senang dari Macy.
Tiba-tiba ia menghentikan laju boat-nya.
"Kenapa berhenti?" Tanya Macy.
"Kamu mau coba?" Tanya Will balik.
"No. Aku tidak bisa, nanti boat-nya terbalik kalau aku yang bawa" Jawab Macy.
"There is me. I'll teach you"
“No”
“That’s okay, I’m here”
Dengan nada meyakinkan dari Will, akhirnya Macy mencoba mengendarai boat dengan Will yang berada di belakangnya sembari menjelaskan satu persatu apa saja yang harus Macy ketahui dan lakukan.
"Got it?" Tanya Will.
"Yes" Jawab Macy mantap.
"Okay. Now we get ready. Then, let's go" Ucap Will.
"Okay" Ucap Macy. Ia lalu mulai menyalakan mesinnya, lalu mulai mengendarai boat tersebut.
"Aaaaa~" Teriak Macy karena ia mengendarai boat dengan kecepatan tinggi.
"Bee, bee, bee tolonggg~ Aaaa! Will boat-nya akan terbalik aaaa!" Teriak Macy panik sementara Will hanya tertawa sembari memeluk istrinya itu dari belakang. Tak ada tanda-tanda panik sama sekali dari dirinya.
"Jangan tertawa! Ini bagaimana? Aaaa!" Teriak Macy gemetar hingga bulir air mata mengalir di wajahnya.
"Don't be scared, that’s okay" Ucap Will tepat di telinga Macy. Yang mengakhiri tawanya ketika melihat Macy menangis.
"Sekarang lepas setir dan pedalnya dengan pelan" Pintah Will, Macy pun menurutinya dan Will langsung mengambil alih meski berada di belakang Macy.
Kecepatan boat mereka pun berubah menjadi sedang. Macy membalikkan tubuhnya dan memeluk Will dengan erat. Ia menangis di pundak suaminya, tubuhnya gemetaran ketakutan.
"Hiks~ B, b, bagaimana kalau tadi boat ini terbalik? Kita b, belum sampai di P, Pianemo Island, b, baru nikah juga. P, punya anak saja belum. B, bagaimana kalau tadi k, kita, kita... Huwaaa~" Ucap Macy tersenggal-senggal karena menangis.
Will ingin tertawa mendengar ucapan istrinya tapi takut kalau tangis Macy semakin menjadi. Akhirnya ia menahan tawanya dengan senyum lebar. Ia lalu memberhentikan laju boat kemudian menangkup wajah sang istri dan menatapnya dalam.
"Hei, listen! Semua yang kamu pikirkan itu tidak akan terjadi. Kita belum sampai di Pianemo Island karena perjalanannya memang cukup jauh. Kamu benar, kita memang baru menikah dua minggu yang lalu, tapi kita akan segera memiliki anak dan cucu bahkan cicit. Dan kalaupun boat ini terbalik, maka hal pertama yang aku lakukan adalah menyelamatkanmu" Jelas Will.
"T, tapi..."
"No buts. Now, stop crying and get smile" Ucap Will sembari menghapus buliran air mata di pipi Macy.
Meski masih terisak tetapi air mata Macy telah berhenti keluar.
"Smile" Pintah Will dengan lembut.
Awalnya Macy ragu, namun perlahan ia tersenyum.
"Good girl" Puji Will sembari mengusap kepala Macy. "Sekarang berbaliklah dan kita lanjutkan perjalanan kita" Lanjutnya kemudian membalikkan tubuh Macy dan kembali mengemudikan boat.
Will mengemudikan boat dengan Macy yang tetap berada di depannya. Sebelah tangannya memegang kemudi sementara tangan lainnya memeluk pinggang Macy serta kepala yang ia tumpukan ke pundak Macy. Sesekali ia mencuri kecupan di pipi dan bibir Macy.
Perjalanan mereka ke Pianemo Island masih cukup jauh. Dan selama perjalanan tersebut, mereka habiskan dengan canda dan tawa hingga mereka sampai di tujuan.
-------
Love you guys~