Chapter 12

939 Kata
Akhirnya hari yang dinanti pun berlalu dengan cepat. Yaitu ikrar janji pernikahan Monica dan Roy yang diadakan di sebuah gereja dan hanya mengundang keluarga untuk menyaksikan momen bahagia tersebut. Sementara untuk resepsi diselenggarakan di sebuah gedung mewah kawasan di Jakarta Pusat. Dalam resepsi pernikahan tersebut, tak hanya Monica dan Roy yang merasakan kebahagiaan. Melainkan setiap tamu yang datang pun dapat merasakan kebahagiaan tersebut. Termasuk Macy dan Will. Setelah pesta selesai, Will mengantar Macy pulang. Genggaman tangan mereka pun tak pernah lepas. “Masuklah” Pintah Will setelah mereka sampai di pelataran rumah Macy yang dibalas anggukan olehnya. Macy mengecup pipi Will kemudian turun dari mobil dan masuk ke dalam rumahnya. Will tersenyum melihat tingkah Macy yang semakin manis dan tetap sama. Yaitu Macy tidak akan pernah mau berbalik setiap kali Macy mengecup pipinya. Padahal mereka telah melakukan lebih dari itu meskipun tidak sampai ke hal yang iya-iya. Dan seperti biasa, Will akan pergi setelah melihat Macy benar-benar masuk ke dalam rumahnya. ------- Hari ini, Macy dan Will telah siap di dalam pesawat pribadi milik Will menuju London untuk menghadiri rapat dengan salah satu rekan bisnisnya. Dan sebagai sekretaris, Macy harus selalu ikut ke manapun Will pergi. Macy duduk di samping Will sembari menguap. "Mengantuk?" Tanya Will. Macy hanya mengangguk sebagai jawaban. "Tidurlah. Perjalanan masih lama" Pintah Will yang lagi-lagi hanya anggukan sebagai jawabannya. Namun tak lama, Macy menyandarkan kepalanya ke bahu Will sembari mengamit lengannya, memeluknya layaknya guling. Will hanya tersenyum melihatnya dan membuatnya teringat saat pertama kali mereka bertemu. Saat seorang pramugari ingin menghampiri mereka berniat menawarkan sesuatu pada mereka berdua, tangan Will yang leluasa segera terangkat memberi isyarat bahwa ia tak membutuhkan sesuatu diikuti dengan gelengan kecil pada kepalanya. Pramugari tersebut pun mengerti dengan isyarat Will segera menghentikan langkahnya lalu kembali setelah membungkukkan badannya sebagai tanda hormat. Ia mengerti bahwa sekarang Tuannya tak ingin kalau wanita yang berada di sampingnya terganggu dari tidurnya. Hembusan nafas teratur dirasakan oleh Will di lengannya. Ia lalu mengangkat tubuh Macy dan membawanya masuk ke kamar yang berada dalam pesawat. Ia membaringkan Macy di atas ranjang. Setelah itu, Will melepas jasnya dan ikut berbaring di samping Macy. Mendekap wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya ke dalam pelukan hangatnya. Macy sedikit menggeliat merasakan pergerakan Will, namun tanpa sadar ia membalas pelukan Will yang membuat pria itu semakin mengeratkan pelukannya. Will mengecup kening Macy lalu memejamkan mata. Selang beberapa jam, mata Macy terbuka dan hal pertama yang ia lihat adalah d**a bidang yang dibalut kemeja baby blue. Ia mendongak dan mendapati wajah Will dengan mata yang masih terpejam. Macy tersenyum kemudian memejamkan matanya kembali sembari mengeratkan pelukannya. Mencoba mencari kembali posisi senyaman mungkin di dekapan pria itu. "Bangunlah pemalas" Ucap Will dengan suara serak khas bangun tidurnya. Macy hanya membalas dengan gelengan kepalanya karena ia telah mendapatkan zona nyamannya dan lagi ia masih sedikit mengantuk. "Kita sudah hampir sampai" Ucap Will kembali dan lagi-lagi hanya gelengan kepala yang ia dapat. "Kalau kamu tidak bangun sekarang, aku akan melakukan hal yang lebih dari 'waktu itu'" Ancam Will yang kali ini berhasil membuat Macy bersuara. "Coba saja kamu lakukan kalau mau pernikahan kita batal" Ancam Macy kembali. "Kamu mengancamku?" Tanya Will sembari mengendurkan pelukannya namun segera mendapat pukulan pada punggungnya dari Macy, memberi isyarat bahwa ia harus mengembalikan zona nyaman Macy. "Kamu yang mengancamku duluan" Ujar Macy sembari mendongak dengan tatapan kesalnya. "Baiklah, baiklah kamu menang Princess" Ucap Will mengalah sembari mengecup bibir Macy. ------- Kini Macy dan Will telah tiba di London. Kota yang sangat bersejarah bagi hidup Macy. Dan kota yang tak akan pernah ia lupakan mengingat seberapa keras usahanya untuk menjadi seperti sekarang. Macy yang cantik, tubuh bak model dan ke mana pun ia pergi, semua mata akan beralih padanya. Yang terpenting, keberangkatannya dari London telah membantu mempertemukannya dengan Will. Kadang Macy berpikir. Apakah kalau ia tak berkuliah di London, ia akan memiliki kesempatan bertemu dengan Will? Atau apakah kalau ia tak secantik sekarang dan mereka tetap dijodohkan, Will akan mau menikah dengannya? Apakah Will mau menerima semua yang ada pada dirinya? Apakah Will mau menerima masa lalunya? Apakah Will akan tetap mencintainya kalau pria itu mengetahui masa lalunya? "Kita akan tinggal di mansion" Ucap Will menyadarkan Macy dari lamunannya. "Aku akan tinggal di penthouse" Balas Macy. "Tidak, kamu tinggal di mansion bersamaku" Bantah Will. "Aku mau di penthouse!" Tegas Macy. "Kalau kamu tinggal di penthouse sedangkan aku di mansion, kita akan sulit berkomunikasi. Dan yang terpenting aku tidak mau jauh darimu. Nanti kalau terjadi sesuatu padamu bagaimana?!" Ucap Will. "Tapi aku mau di penthouse. Lagipula kita hanya tiga hari di sini dan itu artinya tidak akan terjadi apa-apa padaku" Ucap Macy membuat helaan kasar keluar dari bibir Will. "Baiklah, kita tinggal di penthouse" Putus Will sembari memberi isyarat pada supir untuk menuju ke penthouse Macy. "Aku! Bukan kita!" Bantah Macy. "Kita atau tidak sama sekali" Ancam Will. "Terserah!" Ucap Macy kesal kemudian membuang pandangannya keluar jendela. Sebenarnya Macy tidak keberatan kalau Will tinggal di penthouse-nya karena di sana terdapat dua kamar tidur tapi yang ia takutkan adalah apa yang akan terjadi nanti kalau setan tiba-tiba berada di antara mereka? Kalian tahu ‘kan setan itu seperti apa? Dan lagi, Macy masih memegang teguh prinsipnya, 'No s*x Before Marriage'. Sementara alasan Macy tidak mau tinggal di mansion masih tetap sama. Sebuah mansion terlalu besar untuk mereka berdua. Akhirnya mereka telah tiba di penthouse Macy. Macy mandi terlebih dahulu karena Will tengah menunggu seorang pelayan membawakan pakaian ganti untuknya dari mansion. Setelah mandi, mereka kemudian keluar untuk menemui rekan bisnis Will. Dan selama mereka dalam perjalanan, tidak ada yang membuka suara seperti biasa. Karena Macy masih berada dalam zona marahnya. Sementara Will yang merasa bukan saatnya untuk membujuk Macy hanya bisa diam. Nanti, nanti ia akan membujuk Macy ketika rapat mereka selesai. Dan membujuk Macy untuk tidak marah lagi sangatlah mudah. Cukup membawanya ke wahana bermain, maka wanita itu akan sangat gembira dan melupakan hal-hal negatif yang memenuhi pikirannya.    ------- Love you guys~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN