70. Jangan lupa nyoblos

1788 Kata

Kak Alfath menggendongku menerobos para tamu undangan. Aku menyembunyikan kepalaku di d**a Kak Alfath, malu sekali saat orang-orang menggodaku dengan gombalan-gombalan mereka. Aku mendengar Kak Alfath terkekeh dengan pelan. Aku mencengkram leher belakangnya agar Kak Alfath memandangku yang di gendongannya. "Kenapa?" tanyanya berbisik. Bahkan nada yang dikeluarkan Kak Alfath sangat lirih dan serak, membuat aku makin bersemu malu. "Aku malu jadi bahan pembicaraan orang-orang," jawabku juga berbisik. "Gak usah malu. Para orangtua juga pernah muda, pasti mereka merasa maklum," jawabnya. Aku kembali menyandarkan kepalaku di dadanya, meski maklum tetap saja aku malu. Aku bernapas lega saat aku dan Kak Alfath sudah sampai di depan kamar. Aku memaksa minta turun, tapi Kak Alfath tidak kunj

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN