Pak Heri sepertinya marah padaku. Dia memang menjemputku, tapi sepanjang jalan bibirnya cuma diam. Gak ngomong sama sekali. Didiamin kayak gini tuh gak enak, lho! Mau ngomong juga takut salah. Apa aku minta pulang ke rumah mama aja ya? Kalau dicuekin sampe rumahnya gimana? Gak nyaman kan? Masa aku tinggal di rumahnya sementara yang punya rumah cemberut terus sama aku. Hua, mama tolong! Mobil Pak Heri berhenti dan langsung masuk ke garasi. Tapi sepertinya ada tamu yang datang ke pabriknya. Pak Heri meski sedang dalam mode diam, tetap membukakan pintu mobil untukku. "Makasih," ucapku dan hanya dijawab gumaman pelan dari mulutnya. Aku masuk ke kamar dan langsung gak bisa nahan diri untuk tidak menangis. Bayangin aja, semalaman ia bermanja-manja padaku. Dan hari ini malah diperlakukan kaya

