Gak terasa, aku tinggal di rumah Pak Heri sudah mau dua bulan. Ternyata rumah tangga itu tidak serunyam yang aku bayangkan. Apalagi Pak Heri orangnya gak ribet. Simple banget. Ia mengerti keadaan aku yang masih menjadi mahasiswa. Aku sering melihat kesibukan mama di pagi hari yang harus menyiapkan sarapan untuk seisi rumah. Nah, Pak Heri gak begitu menuntut. Bahkan ia tak marah kalau aku bangun kesiangan saat haid. Kalau untuk sarapan, paling aku buatkan yang simple aja. Beli dari warung, haha. Ya mau gimana lagi, pernah nyoba bikin telor ceplok juga malah tanganku banyak terkena minyak panas. Masak telor ceplok ternyata penuh perjuangan. Telornya sering ngajakin perang. Pak Kholis juga sangat baik. Beliau gak pernah protes kalau setiap pagi sarapan yang aku sajikan hanya nasi uduk atau

