"Apa Mbak Fitri mau saya putus sama Pak Heri?" tanyaku pelan setelah diam beberapa saat. "Terserah kamu sih, kalau masih mau bersenang-senang dengan Heri, silahkan saja. Tapi jangan berharap lebih, karena Heri akan menikah dengan saya," jawab Mbak Fitri dengan tatapan prihatin. Apa aku se-menyedihkan itu? Aku merasa seperti anak kecil yang sedang diberi mainan punya orang dan hendak dirampas kembali sama yang punya. Aku menarik nafas dalam dan menghembuskannyaperlahan. Butuh kekuatan agar aku tidak menangis sekarang. "Baiklah, saya tidak pernah mengajak Pak Heri untuk menjalin hubungan. Lagi pula, belum waktunya saya memikirkan pernikahan. Saya masih harus melanjutkan pendidikan saya," jawabku. Mati-matian aku pura-pura tegar, aku komat-kamit merapal doa, jangan nangis! Jangan nangis!

