Ruang kerja Satria siang itu berubah menjadi seperti tempat pesta. Suara gelak tawa mereka terdengar riuh di sela menikmati pizza dan minuman ringan yang memenuhi meja di sana. Naresh juga datang setelah dipanggil oleh Satria, hanya saja Ibra belum tampak batang hidungnya. “Pantas saja Ibra ngamuk. Lihat genangan darah bukan masalah baginya, tapi dia paling jijik kalau ada orang muntah.” kata Naresh yang sudah bersahabat dengan Ibra sejak zaman pakai seragam abu-abu itu. “Aku kan tidak sengaja, Resh.” elak Johan. “Tidak sengaja? Kamu tinggal buka pintu sampingmu dan bisa muntah di luar mobil, tapi nyatanya malah kamu semburkan ke Bang Ibra. Untung tidak langsung kena tonjok lagi kamu!” dengus Satria menggeleng. “Ck, kita sedang makan, berhenti membahas soal muntah!” protes Rena dengan