Sepulang dari markas Bimo malam itu Satria tidak langsung kembali ke rumahnya, tapi ikut ke kediaman Aksa untuk menengok keadaan Naya. Meski dokter psikiater bilang keadaan Nay hanya sedikit shock, tapi tetap meminta mereka memberi perhatian dan waktu lebih untuk menemaninya selama beberapa hari ini. Selesai mandi di kamar Rena, Satria bergegas naik ke lantai atas dimana letak kamar anaknya berada. Begitu membuka pintu, hatinya menghangat mendapati Rena dan Nay yang tertidur pulas saling berpelukan. Lega, itu yang Satria rasakan setelah bisa mencabut duri dari kehidupan Rena dan Nay. Mulai sekarang tidak akan ada lagi yang bisa menyakiti mereka, dua orang paling berharga dalam hidupnya. “Sat …” Satria yang hendak meraih gagang pintu kembali berbalik begitu mendengar panggilan lirih da