“Lo masih kelihatan capek,” kata Mala sambil menyisir rambutnya di depan cermin kecil
Lyo yang sedang melipat lengan kemejanya hanya mengangguk pelan.
“Iya, Mal, tapi gue harus kerja.”
Mala melirik lewat cermin. “Kerja sih kerja, tapi jangan sampai lo pingsan di sana.”
Lyo tersenyum tipis. “Gue nggak selemah itu, Mal.”
“Semoga aja,” gumam Mala pelan.
“Iya semoga aja anak yang dalam kandungan gue ini bisa bertahan deh, gue harus menafkahinya.”
“Jadi, lo udah mutusin buat ngelahirin anak itu?”
“Hooh. Gue harus ngelahirin, setidaknya gue nggak akan sendirian nanti,” jawab Lyo mengelus perutnya yang masih rata.
“Baiklah, terserah lo,” ujar Mala.
“Mal.” Lyo berhenti sebentar, menatap punggung Mala.
“Ada apa lagi?” Mala sebenarnya sudah mulai kesal dan tidak suka pura-pura, tapi ia tidak boleh ketahuan juga, ia harus mencari cara agar bisa membuat Lyo pergi dari kostnya ini, Mala sudah menganggap Lyo beban sejak dulu.
“Kalau gue kenapa-kenapa di kantor, lo bakal dateng, kan?”
Mala tidak langsung menjawab, ia hanya mengambil tasnya, lalu berbalik.
“Ya jangan sampai kenapa-kenapa, karena itu bakal ngerepotin,” jawabnya santai.
Lyo terdiam sesaat. Lalu mengangguk kecil, ia paham, Mala sudah cukup baik kepadanya, jadi ia tidak boleh menyusahkan Mala terus.
***
Hari kedua terasa lebih sunyi dan Lyo kini sudah tiba di hotel tempatnya bekerja, Lyo mendesah napas halus, semua orang kantor belum ada yang datang, kecuali para petugas kebersihan.
“Pagi, Kak,” sapa Lyo pelan.
Nita melirik sekilas sambil menyeruput kopi. “Pagi. Nggak telat, bagus.”
Lyo menganggukkan kepala, ia memang sedang di fase pasrah dengan pekerjaan berat ini di tengah hamil yang masih trimester pertama, bahkan mual selalu menghantuinya, tapi karena ia membutuhkan pekerjaan ini, ia pun harus datang sangat pagi.
“Ini kerjaan lo hari ini,” lanjut Nita sambil menyodorkan daftar.
Lyo menerima, matanya langsung membaca cepat dan lagi, ia mendapakan tugas untuk membersihkan ruang GM, tangannya sedikit menegang, karena kemarin ia di suruh keluar dan kelihatan sekali Rainer tidak suka padanya karena jijik.
“Kenapa?” tanya Nita tanpa menoleh.
Lyo langsung menggeleng. “Nggak apa-apa, Kak.”
“Kalau dipanggil, langsung masuk. Jangan bikin orang nunggu,” ujar Nita datar.
“Iya, Kak.”
Beberapa jam kemudian, setelah membersihkan beberapa ruangan yang sudah menjadi tugasnya di pagi hari, langkahnya terhenti.
“Lyo!” panggil seorang staf dari ujung ruangan.
Lyo menoleh cepat. “Iya, mbak?”
“Antar kopi ke ruang GM,” katanya sambil menunjuk tray di meja.
Jantung Lyo langsung berdetak lebih cepat. Lyo bingung, karena ia hanya seorang OG tapi kenapa ia harus membawakan kopi, itu kan tugas sekretarisnya.
“Iya, Mbak,” jawabnya pelan.
Lyo mengambil tray itu dan tangannya terasa sedikit dingin.
Tak lama kemudian, ia sudah di depan pintu, Lyo berhenti dan menghembuskan napas.
Lyo mengetuk pintu dan tidak masuk sebelum sang empunya menyuruhnya masuk.
“Masuk.”
Lyo lalu membuka pintu perlahan.
“Permisi, Pak.”
Rainer duduk di kursinya, terlihat tenang, tampan dan berwibawa, bahkan terlihat sangat damai.
Tatapan Rainer tetap melihat layar monitor, tapi tanpa ia mendongak ia jelas tahu siapa yang masuk, karena wanginya sama dengan wangi di ranjangnya.
“Taruh saja,” katanya singkat.
Lyo berjalan mendekat, setiap langkah terasa berat. Lyo lalu meletakkan kopi itu dengan hati-hati.
Tangannya hampir menyentuh meja. Lyo langsung tersentak sedikit.
“Iya, Pak,” angguk Lyo kebingungan.
“Kamu baru?” tanya Rainer tanpa melihat, walau ia pura-pura bertanya saja.
“Iya, Pak,” jawab Lyo pelan.
Rainer menutup laptopnya pelan, lalu mendongak, tatapannya langsung ke arah Lyo.
Lyo langsung menunduk sedikit, tidak berani menatap lama.
“Nama?” ujar Rainer.
“Lyo, Pak,” jawabnya cepat.
“Yang lengkap.”
“Lyodra,” lanjutnya.
Rainer mengangguk kecil, tatapannya tidak lepas, sebenarnya ia sudah tahu sejak kemarin Lyo bekerja di sini, hanya Rainer pura-pura saja agar tidak terlalu transparan bahwa selama ini, ia memang mencari Lyo kemana-mana.
“Udah mengerti kerjaan kamu?”
“Iya, Pak,” angguk Lyo.
“Kamu membersihkan di area mana?”
“Di sekitaran ruangan Bapak.”
“Oh oke,” angguk Rainer, padahal ia sendiri yang meminta HRD untuk memperkerjakan Lyo di ruangannya dan di sekitarnya, jadi Lyo tak perlu membersihkan dimana-mana. Ini cukup untuk menjangkau Lyo.
“Ya sudah, kamu keluar saja dan lanjutkan pekerjaan kamu.”
“Iya, Pak.” Lyo langsung berbalik, langkahnya cepat dan sedikit kacau.
Sepeninggalan Lyo, Rainer masih diam, tatapannya ke arah pintu, tangannya mengetuk meja.
Tak lama kemudian, pintu ruangannya kembali ada yang ketuk, secara bersamaan Roy masuk dengan map di tangan.
“Pak, jadwal siang ini—” Roy menghentikan kalimatnya karena melihat ekspresi Rainer. “Ada apa, Pak?” tanya Roy hati-hati.
Rainer tidak langsung menjawab, ia hanya menunjuk ke arah pintu.
“Office girl baru.”
Roy mengernyit. “Yang tadi?”
Rainer mengangguk kecil.
“Kenapa dengan dia? Apa dia membuat masalah sama Bapak?” tanya Roy.
Rainer tersenyum tipis dan menggelengkan kepala.
“Dia adalah orang yang aku suruh kamu cari, dan dia di sini bekerja sebagai OG.”
“Iya, Pak. Saya sudah tahu,” angguk Roy karena sejak kemarin ia juga di suruh mencari tahu tentang Lyo.
Rainer berdiri dari duduknya dan berjalan menuju dinding kaca.
“Jadi, Pak? Bukannya bapak menyuruh saya mencarinya? Jika sudah di depan mata, apa yang akan bapak lakukan?”
“Aku juga belum tahu apa yang harus ku lakukan.”
“Terus dia tahu?” tanya Roy.
Rainer menggeleng. “Sepertinya tidak.”
Roy menghela napas pelan. “Terus … mau gimana, Pak?”
Rainer tidak langsung menjawab, ia hanya menatap keluar, kota yang cukup sibuk, suara klakson dimana-mana dan polusi juga dimana-mana.
“Apa bapak mau saya lanjut cari tahu?” tanya Roy.
Rainer menggeleng. “Tidak perlu, orangnya udah ada di depanku.”
“Jadi, Pak?” tanya Roy.
Rainer berbalik dan tatapannya dingin.
“Awasi saja.”
Roy langsung mengangguk. “Baik, Pak.”
“Jangan terlalu kelihatan.”
“Siap.”
“Dan, kalau dia kenapa-kenapa, lapor ke saya dulu.” Rainer berhenti sebentar.
“Baik, Pak. Saya mengerti.” Roy mengangguk dan sudah tahu bahwa gadis itu adalah gadis yang cukup baik dan gadis itu sudah berhasil membuat Rainer tertarik.
Sementara itu, setelah selesai membereskan pekerjaannya, Lyo bersandar di dinding lorong, tangannya memegang d**a.
“Lo kenapa lagi?” tanya Nita sambil lewat.
Lyo langsung berdiri tegak. “Nggak apa-apa, Kak, hanya istirahat sebentar.”
“Setiap dari ruangan GM pasti muka lo kayak habis dimarahin,” kata Nita.
Lyo tersenyum kaku. “Serem aja, Kak.”
Nita terkekeh kecil. “Biasain. Dia emang gitu.”
“Dia marah kalau salah ya?” tanya Lyo pelan.
“Dia nggak perlu marah, tatapannya aja udah cukup,” jawab Nita.
Lyo terdiam. “Benar, Kak. Saya jadi takut.”
“Biasain diri aja, cukup kerjain tugas lo, beresin lalu keluar.” Nita menjawab.
***
Lyo mengelus leher belakangnya, ia baru saja selesai makan malam setelah bertarung dengan rasa mual.
Lyo sudah di kost dan sudah bersih-bersih.
“Gimana hari kedua?” tanya Mala sambil memainkan ponselnya.
Lyo duduk di kasur dan menghela napas panjang.
“Sama aja, capek,” jawab Lyo.
“Normal sih itu, lo kan kerja jadi babu, eh maksud gue jadi tukang bersih-bersih,” sahut Mala santai.
“Ya sama aja babu, Mal. Gue nggak apa-apa kok lo bilang gitu emang kerjaannya kayak babu kok.”
“Haha. Lo bisa aja nih, asal lo jangan terlalu capek deh. Ingat lo lagi hamil.”
“Hooh. Tenang aja.”
Mala lalu menikmati cemilannya, lalu mengganti chanel di televisi.
“Mal,” panggil Lyo.
“Apaan?”
“Di kantor gue.” Lyo berhenti sebentar.
Mala melirik. “Kenapa di kantor lo?”
“Bos gue.” Lyo menggigit bibirnya.
“Kenapa dia?”
Lyo menggeleng pelan. “Gue ngerasa aneh aja tiap ketemu dia.”
Mala menyipitkan mata sedikit. “Cowok?”
Lyo mengangguk. Mala tersenyum tipis.
“Ganteng?”
Lyo langsung menggeleng cepat. “Bukan gitu!”
“Terus?” tanya Mala.
“Kayak dia lihat gue beda banget,” jawab Lyo.
Mala tidak langsung menjawab. “Beda gimana?” tanyanya pelan.
Lyo menggeleng. “Gue nggak ngerti.”
Mala tersenyum tipis. Namun, matanya dingin.
“Jangan mikir aneh-aneh, apalagi mikir bahwa bos lo mungkin suka sama lo, kaya nggak ada cewek lain aja,” katanya santai.
“Maksud lo apa, Mal?”
“Eh. Maksud gue tuh, kan lo lagi hamil, lo juga kerja jadi tukang bersih-bersih, ya nggak mungkin bos lo tertarik sama lo, jadi jangan berkhayal teralu tinggi ya,” kekeh Mala tertawa kecil dan menggelengkan kepala.
“Kan gue nggak bilang kalau bos gue tertarik sama gue.”
“Ya omongan lo mengarah ke sana, Lyodra!”
Lyo merasa Mala sudah berubah akhir-akhir ini, bicara juga sudah tidak menghargainya, bahkan sering kali meremehkan, namun Lyo tak pernah marah karena ia tahu selama ini Mala baik padanya dan mau memberikannya tumpangan.
Lyo lalu membaringkan kepalanya dan memunggungi Mala yang masih nonton dan ketawa-ketawa.
“Lo marah?” tanya Mala.
“Nggak,” jawab Lyo.