Lyo 7. pertemuan tak disengaja

1083 Kata
“MALA!” teriak Lyo. “Eh apa sih? Lo ngagetin gue aja.” “Gue dapat panggilan kerja,” seru Lyo. “Ha? Panggilan kerja? Dimana?” “Di hotel Atmaja. Lo tahu?” tanya Lyo menatap Mala yang saat ini tidak menunjukkan kesenangan. “Emang lo daftar di sana sebagai apa?” tanya Mala karena melupakan satu perusahaan untuk menyebar aib Lyo di sana, Mala terlalu fokus sama kehamilan dan kehancuran Lyo, sampai lupa ia tak menyebar aib pada salah satu perusahaan tempat Lyo mendaftarkan diri. “Gue di terima jadi OG.” “Apa? Office girl?” tanya Mala. Lyo menganggukkan kepala, membuat Mala tertawa terbahak-bahak, kalau jadi OG Mala tidak perlu menyebab aib di sana, jadi ia biarkan saja Lyo sampai lelah bekerja dan mengurus pekerjaan berat itu. Mala tahu perusahaan Atmaja itu adalah perusahaan RRA Corp. Memilih beberapa cabang hotel dimana-mana, bahkan ada dua hotel di dua negara, yaitu Singapura dan Malasyia. Mala tahu setinggi apa gedungnya, hal itu akan memicu kehancuran Lyo. “Lo kenapa ketawa, Mal?” “Eh maaf maaf, gue nggak yakin lo bisa, lo kan S1,” ujar Lyo. “Udah nggak apa-apa, gue akan kerja sebaik mungkin walau sebagai OG. Karena, hanya ini satu-satunya perusahaan yang menerima gue, kalau jadi staf baru mau mulai wawancara eh udah di tolak. Jadi, mungkin ini udah rejeki gue.” “Ya udah. Semangat ya,” ujar Mala. “Gue siap-siap dulu,” ujar Lyo, begitu semangat di hari pertamanya bekerja. “Ya udah siap-siap gue anterin lo.” *** Lyo berdiri di depan gedung tinggi dengan napas tertahan, ia mendesah napas halus dan mengelus perutnya, ia harus cari cara agar keluar dari badainya, sembari bekerja. “Gue beneran diterima,” gumamnya pelan sambil menatap logo perusahaan di atas pintu kaca. Jangan gugup, jangan sampai bodoh,” bisiknya sambil merapikan bajunya. “Lyo!” suara Mala terdengar dari belakang sambil melambaikan tangan. Mala mendekat, lalu berhenti di depannya sambil mengamati dari atas sampai bawah. “Lumayan, udah kayak orang kerja beneran.” “Ishh. Lo kan udah lihat gue tadi, kenapa jadi menilainya sekarang? Lo juga pergi sana, buru-buru kan? Lo nanti telat deh.” Mala menyilangkan tangan. “Kerja yang bener, ya. Jangan bikin masalah lagi. Udah, masuk sana,” ujar Mala sambil mendorong bahunya pelan. Lyo mengangguk, lalu berbalik ke arah pintu dan langkahnya ragu, tapi ia tetap maju. “Nama?” tanya resepsionis sambil mengetik. “Lyodra,” jawab Lyo pelan sambil berdiri tegak. Resepsionis itu melirik sebentar. “Office girl baru, ya?” “Iya, Bu.” Lyo mengangguk kecil. “Lantai tiga. Bagian operasional,” ujar resepsionis sambil menunjuk arah lift. “Makasih.” Lyo tersenyum tipis, lalu berjalan cepat. Setelah berganti pakaian menjadi pakaian dinas para OG, Lyo menatap dirinya didepan cermin di dalam lift, ia sudah membawa alat-alat pembersihannya yang memiliki roda, jadi ia tidak perlu mengangkatnya kemana-mana. Lyo berdiri di lift dengan tangan saling menggenggam. “Kerja, gue akhirnya kerja,” gumamnya pelan. Namun, perutnya tiba-tiba terasa mual dan secara bersamaan lift terbuka. “Eh, lo baru ya?” tanya seorang wanita sambil menyandarkan badan di meja pantry. Lyo mengangguk cepat. “Iya, Kak.” “Nama?” tanya wanita itu sambil menatapnya. “Lyodra, biasa saya dipanggil Lyo,” jawabnya pelan. Wanita itu mengangguk. “Gue Nita.” Lyo tersenyum kecil. “Iya, Kak.” “Kerjaan lo simple. Bersihin meja, pantry, bantu-bantu kalau disuruh,” ujar Nita sambil menyerahkan lap kain Lyo menerima kain itu. “Iya, Kak.” “Jangan telat dan jangan bikin masalah, lo bagus dapat lantai ini untuk bekerja, di sini staf prianya tampan-tampan,” tambah Nita sambil menatapnya tajam. Lyo mengangguk cepat. “Siap, Kak.” “Lo jangan sampai menjadikan kecantikan lo jadi daya tarik para pria di sini, termaksud Pak GM.” Beberapa jam kemudian, Lyo berjalan pelan di lorong sambil membawa tray berisi kopi. Tangannya sedikit gemetar. “Tenang,” bisiknya pelan. Lyo berhenti di depan pintu besar. Tulisan di pintu itu, General Manager. Lyo menelan ludah. “Masuk!” suara seorang pria dari dalam. Lyo tersentak sedikit. “Permisi,” ucapnya pelan sambil membuka pintu. Di dalam ruangan luas itu, terasa dingin dan sunyi. Rainer berdiri di dekat jendela dan membelakangi pintu, kedua tangannya masuk ke saku. “Taruh di meja,” katanya tanpa menoleh. Lyo melangkah pelan. Langkahnya terasa berat dan jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat, entah kenapa tiba-tiba ia merasakan hal ini. “Ini, Pak, tadi Bu Sekretaris menyuruh saya untuk membawakan kopi ini untuk Anda, karena beliau mau ke lantai bawah mengambil paket Anda,” katanya pelan sambil meletakkan kopi. Rainer tidak langsung menjawab, ada sesuatu yang terasa aneh dan ia perlahan menoleh dan matanya bertemu dengan Lyo, tangannya berhenti di udara dan matanya membesar. Wajah itu, pria itu, ahh nggak mungkin pikirnya. Tapi, wajah pria itu tidak asing, entah ia pernah lihat dimana, namun pria yang ia kenal hanya Danial dan beberapa kawan Danial, ia tidak pernah kenal sama GM. Rainer menatapnya cukup lama dan dalam, Rainer merasakan jantungnya berdetak kencang, ia melihat dari ujung kaki hingga ujung rambut Lyo. “Keluar,” usir Rainer, tiba-tiba. Lyo langsung tersentak. “I-iya, Pak.” Lyo berbalik dan langkahnya cukup kacau karena hari pertamanya harus berhadapan dengan GM tampan yang porsi tubuhnya lengkap dan sempurna. Di dalam ruangan, Rainer tidak bergerak. Tatapannya masih ke arah pintu. Beberapa detik kemudian, ia meraih ponselnya. ‘Roy,’ katanya singkat saat panggilan terhubung. ‘Ya, Pak?’ suara di seberang langsung menjawab. ‘Berhenti mencari perempuan itu,’ lanjut Rainer pelan dengan tangan yang ia kepal. ‘Ada apa, Pak? Bukannya bapak ingin sekali bertemu dengannya dan mencari tahu kabarnya?’ ‘Sudah ada didepanku, dia bekerja di sini. Tapi, dia tidak tahu siapa aku.’ ‘Baik, Pak. Saya akan cari informasi dia bekerja di bagian apa.’ ‘Dia jadi OG.’ ‘Baik.’ Lyo masih mencari tahu dan mencoba mengingat dimana ia melihat Rainer, ia berusaha mengingatnya, namun seolah ingatannya tertutup sesuatu. “Eh, lo kenapa?” tanya Nita sambil menatapnya heran. Lyo langsung menggeleng cepat. “Nggak apa-apa, Kak.” “Pucat banget lo,” ujar Nita sambil mendekat. “Cuma capek,” jawab Lyo pelan. “Udah, ke pantry dulu sana,” kata Nita sambil melambaikan tangan. Lyo mengangguk, lalu berjalan menjauh. Lalu di pantry, Lyo bersandar ke meja, ia merasakan air putih akhirnya melewati kerongkongannya, ia haus sekali, ia sudah membersihkan beberapa ruangan para staf dan berakhir di ruangan GM, lalu di usir keluar, mungkin karena Lyo terlihat menjijikkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN