Lyo 6. dicampakkan

1510 Kata
Pagi menunjukkan pukul 9 pagi, Lyo dan Mala baru selesai sarapan dan ketika mencium aroma yang ditolak hidupnya, Lyo mual lagi. “Uh.” Lyo langsung bangkit dari duduknya, tangannya refleks menutup mulut. Lyo buru-buru turun, hampir tersandung sandal. “Lagi?” tanya Mala yang sejak tadi sedang minum s**u langsung hilang selera karena mendengar Lyo mual dan akhirnya muntah. Lyo tidak menjawab, langsung masuk kamar mandi. Suara muntah terdengar lagi dan kali ini lebih lama. “Ahh b******k,” gumam Mala karena kesal. Beberapa menit kemudian, Lyo keluar dengan wajah lebih pucat dari biasanya. Ia tidak bisa membiarkan ini terjadi, ia harus cepat periksa, mungkin ada masalah kesehatan. “Gue capek,” gumamnya sambil menyandarkan bahu ke dinding. Mala mendesah napas halus dan meraih jedainya, lalu mengenakannya, ia menatap Lyo dari ujung kaki hingga rambut karena ia juga sudah mulai tidak tahan dengan suara Lyo yang mual dan muntah setiap hari. “Lo udah nggak bisa bilang ini masuk angin lagi, sih,” katanya sambil menatap Lyo. “Gue juga mulai takut, Mal.” “Ya udah, kita keluar,” ujar Mala berdiri, mengambil jaket. Lyo mengernyit. “Ke mana?” “Apotek,” jawab Mala singkat sambil meraih tas. “Tapi gue—” “Nggak punya duit? Udah gue beliin obatnya, sekalian periksa sama apoteker sana.” Di tengah perjalanan, Lyo terus memegang perutnya, setiap apa yang ia makan selalu keluar begitu saja, dan Lyo sempat minum obat lambung karena mengira yang jadi masalah adalah lambungnya. “Lo yakin kita perlu?” tanya Lyo sambil duduk di jok belakang motor, tangannya memegang jaket Mala. “Daripada lo overthinking tiap hari,” sahut Mala santai sambil menyalakan motor. “Gue takut, Mal,” ujar Lyo pelan tertiup angin. Mala mendesah napas halus dan berkata, “Kalau lo takut, ya justru harus tahu.” Beberapa menit kemudian, mereka berdiri di depan apotek kecil. Lyo memilih berhenti di depan pintu. “Mal,” panggilnya pelan. Mala menoleh. “Hm?” “Kalau hasilnya nggak bagus gimana?” tanya Lyo ragu. Mala mengangkat bahu. “Ya kita hadapin.” “Berdua?” Lyo menatapnya. Mala tersenyum tipis. “Iya, berdua.” Di dalam apotik, Mala langsung berdiri didepan kasir yang berjaga, Mala tak basa-basi. “Tes pack ada?” tanya Mala ke kasir sambil bersandar santai. Kasir mengangguk, lalu mengambil dari rak. Lyo langsung menunduk, tangannya mencengkeram ujung bajunya. Karena ini pengalaman pertamanya, Lyo tidak pernah berpikir sampai ke kehamilan, namun Mala malah memikirkan itu. “Ini,” kata kasir sambil menyerahkan barang itu. Mala langsung membayar dan berkata lagi, “Oh iya sama obat mual.” Kasir itu memberikannya lagi dan Mala membayar semuanya. “Udah, ayo,” ujarnya sambil menarik lengan Lyo pelan. Ketika mereka tiba di kost, Lyo bingung melihat tespack yang sudah ada diatas meja, Mala juga tidak memaksanya dulu untuk periksa sekarang, ia memberikan waktu pada Lyo untuk berpikir. “Lo mau sekarang?” tanya Mala sambil meletakkan kotak kecil itu di meja. Lyo menatap benda itu. “Gue takut, Mal.” Mala duduk di depannya, mencondongkan badan karena Lyo terus mengatakan bahwa ia takut, Mala juga tidak tahan mendengarnya. “Lyo,” katanya pelan. Lyo mengangkat wajahnya dan menatap Mala. “Kalau lo terus nggak tahu, lo bakal makin takut,” lanjut Mala. Lyo menggigit bibirnya. “Baiklah.” Lyo lalu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi dan memeriksa kehamilannya, ia harus tenang dan ia harus berpikir jernih, jika ia beneran hamil, apa yang akan terjadi pada masa depannya? Ia belum mendapatkan pekerjaan. Beberapa menit kemudian, Lyo berdiri di depan pintu kamar mandi, memegang test pack itu. Tangannya gemetar. Beberapa menit terasa seperti berjam-jam. “Mal,” suara Lyo terdengar dari dalam. Mala langsung berdiri dari kasur. “Kenapa?” “Udah,” jawab Lyo pelan. Mala mendekat ke pintu. “Keluar.” Pintu terbuka dan Lyo berdiri di sana. Wajahnya kosong dan tangannya memegang benda kecil itu. “Gimana?” tanya Mala pelan. Lyo tidak langsung menjawab, ia hanya mengangkat tangannya sedikit. Mala melihat dan tebakannya benar, ada dua garis. “Mal, beneran gue hamil?”” suara Lyo bergetar. Mala menganggukkan kepala. Lalu berkata, “Iya. Ini garis dua, dan tandanya di sini kalau garis dua ya hamil.” Lyo langsung mundur satu langkah. “Nggak mungkin, Mal. Gue melakukannya sama pria asing itu, ini pasti salah, gue baru sekali melakukannya masa langsung hamil sih.” “Lyo—” “Ini nggak mungkin!” suaranya meninggi, tangannya gemetar. “Lo harus tenang—” “Gimana gue bisa tenang?! Gue bahkan nggak tahu siapa dia.” Lyo menatapnya, matanya mulai basah. “Lo tahu,” katanya pelan. Lyo langsung menggeleng keras. “Gue nggak inget!” “Ya tapi kejadian itu cuma sama satu orang,” sahut Mala. Lyo menutup wajahnya dengan tangan. “Hidup gue jadi hancur gini, Mal. Gue harus gimana? Gue belum siap jadi Ibu dan gue—” Mala melangkah mendekat seolah-olah ia menjadi sahabat yang baik di tengah badai yang menimpa Lyo, karena ini lah yang Mala inginkan, Mala ingin Lyo hancur berkeping-keping, dan ingin Lyo bunuh diri. “Denger gue,” katanya sambil menarik tangan Lyo pelan. Lyo menatapnya. “Sekarang lo punya dua pilihan,” lanjut Mala. “Pilihan apa?” suara Lyo lemah. “Lo simpan atau lo selesein?” Lyo langsung menarik tangannya dengan ketegangan. “Apa maksud lo?” suaranya gemetar. Mala mengangkat bahu. “Lo tahu maksud gue.” “Enggak. Gue nggak bisa.” “Lo mau besarin anak ini?” tanya Mala santai. Lyo terdiam. “Ayahnya aja lo nggak tahu siapa,” lanjut Mala. Lyo menutup mata. Air matanya jatuh, ia bingung dan ia tidak tahu harus berbuat apa, ia tidak mungkin hidup seperti ini, tapi untuk menggugurkannya pun ia rasa itu bukan pilihan yang baik untuknya. “Gue harus bilang ke Danial.” Mala langsung menoleh cepat. “Ngapain kamu telepon Danial? Dia bisa bantu kamu? Dia ajak nggak percaya sama kamu, yang ada kamu di maki sama dia.” “Dia harus tahu pokoknya.” “Kenapa dia harus tahu?” Mala menyilangkan tangan. “Karena, dia orang yang gue percaya.” “Ya udah terserah lo, tapi kalau lo mau mempermalukan diri ya silahkan. Gue nggak larang.” Mala tertawa kecil. “Gue percaya sama dia, Mal.” “Percaya?” ulangnya. “Iya.” Lyo mengangguk. “Dia aja ninggalin lo tanpa denger penjelasan lo,” kata Mala santai. Lyo terdiam. “Tapi dia berhak tahu.” Mala menatapnya lama. Lalu tersenyum tipis. “Ya udah, coba aja,” katanya ringan. Malam itu, Lyo duduk di pinggir kasur, ponsel di tangan, tangannya gemetar antara mau melanjutkan niatnya menelpon Danial atau tidak. “Mal, gue telepon dia ya,” ujar Lyo. “Ya terserah lo. Kalau di angkat ya syukur, biasanya kan dia matiin kalau lo yang telepon.” “Gue mau telepon pakai nomor lo supaya di angkat.” “Eh kok pakai nomor gue sih?” “Kali ini tolongin gue, jadi gue bisa ngomong sama Danial.” Mala semakin kesal pada Lyo, kehamilannya itu emang apa hubungannya dengan Danial? Mala tidak suka dengan Lyo, ia ingin Lyo cepat mati sekalian. Lyo menarik napas panjang. Lalu menekan nama itu, beberapa kali mendengar nada tutt, akhirnya terhubung. Lyo langsung berdiri dengan mata yang membulat. ‘Danial, ini aku,’ ujar Lyo menggenggam ponsel lebih erat. ‘Ngapain lo telepon gue?’ suara itu dingin. Lyo menahan napas. ‘Aku … aku mau ketemu.’ ‘Buat apa?’ jawab Danial datar. ‘Ada yang penting.’ Lyo menelan ludah. ‘Gue nggak ada waktu buat ketemu sama cewek kayak lo.’ ‘Please. Sebentar aja, Danial. Kamu nggak mungkin langsung lupa semua kenangan kita, ‘kan?’ ‘Tapi gue nggak mau ketemu lo,’ jawab Danial akhirnya. ‘Danial, ini penting banget.’ Lyo hampir menangis. ‘Seberapa pentingnya? Lo maksa amat sih.’ Bukan lagi nada seorang kekasih yang mencintai pacarnya. ‘Gue hamil.’ ‘Terus? Kenapa lo beritahu gue?’ tanya Danial kesal. ‘Karena aku nggak tahu harus ke siapa lagi.’ ‘Lucu ya lo, bukan gue yang hamilin lo tapi lo telepon gue. Lo mau apa sih? Gue itu jijik sama lo, tolong jangan telepon gue lagi. ‘Aku mau minta maaf atas semua kesalahan aku sama kamu, Danial. Terima kasih udah pernah menjadi orang penting di hidup gue, lo adalah orang yang paling gue cintai di dunia ini setelah gue kehilangan orangtua.’ ‘Udah cukup, Lyo, jangan pernah hubungin gue lagi,’ potongnya. Danial memutuskan sambungan telepon, Lyo menatap layar kosong itu dan tangannya perlahan turun. Mala menatapnya dari kasur. “Udah gue bilang, kenapa sih harus telepon dia, dia malah bakal makin nyakitin lo dan omongan gue terbukti, ‘kan?” katanya pelan. “Gue sendirian di dunia ini, Mal,” bisiknya. “Lo nggak sendiri, lo masih punya gue,” lanjut Mala sambil mengusap air mata Lyo. Lyo langsung memeluknya. “Jangan tinggalin gue, Mal.” Mala membalas pelukan itu dan menepuk punggung Lyo, ia merasa menang, matanya perlahan berubah, dingin dan puas karena telah mendengar bahwa Lyo sendirian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN