Beberapa minggu berlalu sejak kejadian yang menimpa Lyo, bahkan sampai saat ini Lyo tak tahu siapa yang menjebaknya malam itu, waktu berjalan, tapi tidak benar-benar menyembuhkan apa pun.
Pagi itu, Lyo terbangun dengan napas pendek. Ia langsung menutup mulutnya, buru-buru bangkit dari kasur tipis di lantai kamar kos Mala.
“Uh,” desahnya pelan sambil berlari ke kamar mandi kecil di sudut.
Suara muntah terdengar. Rasanya pahit dan perutnya seperti kosong dan cukup menyakitkan.
“Lyo? Lo kenapa?” suara Mala terdengar dari luar sambil mengetuk pintu.
“Bentar,” jawab Lyo di sela napasnya yang terputus-putus, tangannya menahan wastafel.
Beberapa detik kemudian, Lyo membasuh wajahnya, lalu menatap cermin. Wajahnya pucat.
“Gue kenapa sih beberapa hari ini,” gumamnya pelan.
Pintu kamar mandi terbuka, Mala terlihat khawatir, padahal ia yang paling senang sebenarnya kalau Lyo sakit, bahkan Mala berharap Lyo mati saja, karena ia masih benci Lyo walau ia sudah membuat semua orang bercerita jelek tentang Lyo.
“Lo sakit?” tanya Mala sambil melipat tangan, berdiri di ambang pintu.
“Kayaknya, gue mual dari pagi,” jawab Lyo mengusap bibirnya dengan punggung tangan.
“Masuk angin kali,” sahut Mala santai, lalu berbalik menuju dapur kecil.
Lyo mengikuti pelan, langkahnya masih lemas.
“Duduk,” ujar Mala sambil menunjuk kursi plastik, lalu menuangkan air hangat ke gelas.
Lyo duduk pelan, memegangi perutnya yang terasa sakit.
“Minum dulu,” kata Mala sambil menyodorkan gelas.
“Makasih, Mal.” Lyo menerima gelas itu dengan tangan gemetar.
Ketika ia menyeruput air hangat itu, ia langsung mual lagi.
“Uh.” Lyo menutup mulutnya cepat.
“Lagi?” Mala mengangkat alis.
“Iya. Aneh banget.” Lyo menunduk, napasnya berat.
Mala bersandar di meja, menatapnya beberapa detik.
“Lo akhir-akhir ini sering kayak gitu, ya?” tanyanya santai.
Lyo mengangguk pelan. “Hampir tiap pagi, Mal.”
“Udah berapa lama?”
“Dua … tiga minggu mungkin,” jawab Lyo sambil mengerutkan kening.
Mala diam sejenak. Ia tertawa dalam hati, kehancuran baru akan diterima Lyo, tak ada perusahaan yang mau menerimanya bekerja, jadi Lyo hanya bekerja di warteg kecil di gang sebelah dekat kost Mala. Jika Lyo hamil, Mala akan sangat senang, Lyo akan semakin hancur.
“Telat datang bulan nggak?” tanyanya tiba-tiba.
Lyo langsung menoleh cepat. “Apa?”
“Ya, haid lo,” ujar Mala ringan sambil memainkan sendok.
Lyo terdiam. Tangannya perlahan turun dari gelas.
“Gue kayaknya telat deh, Mal.” Lyo mengerutkan kening, mencoba mengingat.
“Berapa lama?” Mala menatapnya.
“Gue nggak ngeh, mungkin udah sebulan lebih,” jawab Lyo pelan.
Mala mengangguk pelan. “Bisa jadi karena stres,” katanya santai.
Lyo langsung mengangguk cepat. “Iya, iya, pasti karena itu.”
“Lo kan lagi banyak pikiran,” lanjut Mala sambil menyeruput kopinya.
“Iya. Mungkin karena kecapean kali ya,” ujar Lyo menarik napas lega, meski samar.
Namun, perasaan itu tidak benar-benar hilang.
Mala sudah tahu jawabannya, hanya ia pura-pura tak tahu saja, biarkan Lyo yang menyadarinya sendiri, Mala sedang fokus mendekati Danial, jadi Mala tak perduli pada Lyo.
Siang itu, Lyo duduk di lantai kamar kos, membuka map lamaran kerjanya. Beberapa lembar sudah kusut.
“Gue harus coba lagi cari kerjaan yang lebih, gue nggak mungkin kerja di warteg terus, kan gue S1, ” gumamnya pelan sambil merapikan kertas.
Mala yang sedang rebahan di kasur melirik.
“Masih mau nyari kerja?” tanyanya sambil memainkan ponsel.
Lyo mengangguk. “Iya lah, gue nggak bisa terus numpang sama lo.”
“Gue nggak masalah,” sahut Mala santai.
“Tapi gue masalah, gue nggak enak sama lo,” ujar Lyo tersenyum tipis.
Mala mendecak pelan. “Udah dibilang santai aja.”
Lyo berdiri, merapikan bajunya.
“Gue keluar bentar, ya,” katanya sambil mengambil tas.
Mala mengangkat kepala sedikit. “Mau ke mana?”
“Cari info kerja lagi,” jawab Lyo.
Mala menatapnya beberapa detik. “Lo yakin?” tanyanya pelan.
Lyo mengernyit. “Maksud lo?”
“Ya, setelah kejadian kemarin-kemarin.” Mala mengangkat bahu.
Lyo langsung terdiam, tangannya menggenggam tas lebih erat.
“Gue nggak bisa berhenti,” katanya pelan.
Mala tersenyum tipis. “Ya udah … hati-hati aja.”
Mala tertawa ketika Lyo memunggunginya, entah mengapa Mala membenci Lyo begitu besar, karena sejak dulu Lyo selalu menang darinya.
Beberapa jam kemudian, Lyo kembali dengan langkah lemas. Pintu kamar dibuka pelan.
“Mal,” panggilnya lirih.
Mala yang sedang duduk langsung menoleh. “Gimana?”
Lyo menutup pintu pelan, lalu menyandarkan punggungnya.
“Ditolak lagi,” jawabnya pelan.
Mala menghela napas panjang. “Lagi?”
“Mereka, kayak udah tahu,” suara Lyo mulai bergetar.
Mala menatapnya dalam. “Apa yang mereka tahu?” tanyanya pelan.
Lyo menunduk. “Kejadian itu. Siapa yang nyebarin sih,” gumam Lyo frustrasi.
Mala mengangkat bahu. “Dunia kecil, Lyo.”
Lyo tertawa pahit. “Kecil banget ya.”
“Lo udah makan?” tanya Mala sambil berdiri.
“Belum,” jawab Lyo pelan.
“Pantes lemes,” ujar Mala sambil berjalan ke dapur kecil. “Bentar gue buatin sesuatu.”
Beberapa menit kemudian setelah memasak.
“Ini,” ujar Mala menyodorkan mie instan di mangkuk.
Lyo menerimanya. “Makasih, Mal.”
Lyo mengambil sendok, baru satu suapan. Lyo mual lagi, kali ini cukup parah karena sejak tadi Lyo terus kleyengan, diatas kepalanya seperti ada kunang-kunang.
“Uh.” Lyo langsung menutup mulutnya.
“Kenapa lagi?” tanya Mala.
“Mual lagi, Mal.” Lyo berdiri cepat, hampir menjatuhkan mangkuk.
Di kamar mandi, suara muntah lagi dan kali ini lebih keras.
Mala berdiri di depan pintu, menunggu Lyo, tatapannya datar, ia yakin sekali Lyo hamil anak pria asing itu, Mala tertawa dalam hati, ia menang dan ia tidak tahu bahwa ternyata satu kali ia melakukannya, itu akan membuat Lyo menderita.
Pintu terbuka. Lyo keluar dengan wajah pucat.
“Gue kenapa sih,” bisiknya lemah.
Mala menatapnya beberapa detik.
“Lo harus periksa,” kata Mala, pelan.
“Periksa apa?” Lyo mengernyit.
Mala tidak langsung menjawab, ia hanya menatap Lyo.
“Mal?” panggil Lyo pelan.
Mala tersenyum kecil. “Ya, kalau mau yakin aja,” katanya ringan.
“Tapi, gue nggak punya duit,” lirih Lyo. “Hidup gue gini amat ya, Mal.”
“Udah kalau masalah biaya ada gue, anggap aja ini bantuan dari gue.”
“Nggak. Lo udah banyak bantuin gue.”
“Tapi lo mau mual terus apa?”
Malam itu, Lyo duduk di kasur, memeluk lututnya.
“Mal,” panggilnya pelan.
Mala menoleh dari ponselnya. “Hm?”
“Lo pikir … gue kenapa?” tanya Lyo ragu.
Mala mengangkat bahu. “Banyak kemungkinan.”
“Kayak?” Lyo menatapnya.
Mala tersenyum tipis. “Bisa sakit biasa atau—"
Lyo mengangguk kecil dan langsung menegang.
“Atau apa?” tanyanya pelan.
Mala menatapnya beberapa detik. Lalu menggeleng santai.
“Ah, nggak usah dipikirin dulu,” katanya ringan.
Lyo terdiam. Jantungnya berdetak lebih cepat.
“Mal,” suaranya hampir berbisik.
“Iya?”
“Gue takut.”
Mala bangkit dari kasur, lalu duduk di sampingnya.
“Takut apa?” tanyanya lembut.
Lyo menunduk. “Takut, kalau ada sesuatu yang salah sama gue.”
Mala mengusap punggungnya pelan. “Lo nggak sendiri,” katanya.
Lyo langsung memeluknya. “Jangan tinggalin gue, ya,” bisiknya.
Mala membalas pelukan itu dan menganggukkan kepala. Namun matanya, tidak menunjukkan hal yang sama.
Di sisi lain kota, seseorang berdiri di balkon apartemen mewah. Ponselnya bergetar. Danial menoleh sesaat dan nama itu kembali muncul.
Lyo kembali menelponnya dan mengganggunya. Ia menatap beberapa detik. Lalu, menolak panggilan itu tanpa ragu.
Kembali ke kamar kecil itu, Lyo menatap layar ponselnya. Panggilan itu tidak dijawab. Tangannya perlahan turun.
“Dia nggak bakal angkat,” gumamnya pelan.
Mala melirik dari samping.
“Udah dibilang, kan,” katanya santai.
Lyo menutup mata.
Air matanya jatuh lagi.
“Gue cuma mau jelasin,” bisiknya.
Mala tersenyum tipis. Mala senang karena Danial tidak mengangkat telepon Lyo, Mala harus memisahkan keduanya, dan membuat Lyo hilang dari hidup mereka. Namun, Lyo masih numpang di kostnya dan jujur itu menyesakkan, hanya saja Mala pura-pura peduli.
“Orang itu nggak butuh penjelasan. Dia cuma butuh alasan buat pergi.” Mala melanjutkan.
“Benar. Gue kayaknya nyerah aja, udah lama banget ini gue kayak gini.”
“Makanya lo harus move on.”
“Berat, Mal, gue sama Danial udah ngomongin pernikahan, bahkan Danial mau menikahi gue.”
“Dan lo pikir itu masih dia ingat setelah apa yang dia lihat?” Mala menjadi kesal, namun berusaha menutupinya. Kata-kata Mala menyakiti hati Lyo.
“Mal, gue—”
“Udah. Lo lupain aja Danial, lo tetap kerja di warteg itu buat nyambung hidup lo dan lo nggak usah nyari kerja dimana-mana.”
“Tapi—”
“Lo harus dengerin gue, Lyo. Karena semuanya bakal percuma.” Mala meyakinkan.
“Tapi, gue yakin ada satu dari sekian banyak yang nolak gue, gue pasti mendapatkan itu,” ujar Lyo yakin sekali.