Claudia berjalan pelan menyusuri lorong menuju ruang kunjungan. Langkahnya mantap, tapi pikirannya penuh tanda tanya. Siapa yang datang? Nama Aidan melintas di benaknya, tapi segera ia tepis sendiri. Sudah lama sekali sejak terakhir kali lelaki itu muncul. Setahun lebih. Dan itu pun hanya sebentar, hanya untuk minta maaf dan menunjukkan penyesalan karena terlambat datang sehingga anak Claudia di adopsi paksa, tanpa Claudia mempunyai pilihan. Sejak itu, Aidan tidak pernah lagi datang, dia bagaikan menghilang di telan bumi. Mungkin Aidan kesal karena Claudia selalu menolak kunjungannya berkali-kali. Dengan dingin. Dengan tembok yang ia bangun sendiri. Saat itu dia terlalu putus asa dan dia tidak mau terlihat seperti itu di hadapan satu-satunya orang yang masih peduli. Dan Aidan… bagaim

